Fobia Islam di Balik “Serangan Batuk” terhadap Muslim di Inggris

Adanya “serangan batuk” terhadap keluarga Muslim di Leeds, Inggris, menunjukkan betapa akutnya penyakit rasialis sekaligus fobia Islam di negara-negara Barat. “Jelas ya, ini menunjukkan akutnya penyakit rasialis di negara-negara Barat. Rasialis ini menjadi lebih parah ketika bergabung dengan Islamophobia (fobia Islam)” ujar Pengamat Politik Internasional Farid Wadjdi kepada Mediaumat.news, Senin (5/10/2020).

Farid menyebutkan rasialisme ini adalah tentang bagaimana seseorang memandang rendah suatu ras, misalnya memandang rendah orang India atau Pakistan yang memang banyak di Inggris. “Hal ini merupakan akar dari karakter imperialisme. Sebagai negara imperialisme utama, sedikit-banyak Inggris ditopang oleh sudut pandang bahwa ras selain kulit putih itu mundur, sehingga mereka berhak untuk dijajah, dihinakan dan lain sebagainya,” ungkap Farid.

Menurut Farid, tindak teror fobia Islam kepada kaum Muslim bisa terjadi di negara demokratis ini akibat sistemnya yang kontradiktif dan memiliki standar ganda. “Karena sistem demokrasi ini penuh dengan kontradiktif dan standar ganda,” tegasnya.

Misalnya, kontradiktif dalam kebebasan beragama. “Mereka begitu massif menyerukan kebebasan beragama. Namun, saat yang bersamaan, jika ada Muslimah yang memakai hijab, mengajarkan anaknya tentang al-Quran, dianggap mengancam demokrasi dan sekularisme,” bebernya.

Diperparah dengan sikap standar ganda. “Jelas terlihat dari bagaimana mereka menyikapi kasus Israel-Palestina. Ini cerminan bahwa sistem demokrasi adalah sistem yang bobrok dan busuk,” ungkapnya.

Hal ini, tutur Farid, bisa menjadi cerminan bahwa sistem ini bukan hanya gagal menjaga pluralitas yang mereka agung-agungkan, namun juga gagal menjaga nyawa manusia. Terkait pluralitas, Farid menyebut bahwa pluralisme ini justru sebenarnya memelihara rasialisme.

“Karena pluralisme seolah-olah membiarkan munculnya keberagaman ras. Di satu sisi, hal tersebut memang benar. Di sisi yang lain, itu menguatkan pandangan akan rasialisme ini. Itu yang membedakan sistem ini dengan Islam. Islam memperbolehkan adanya keberagaman. Namun, sebagai suatu masyarakat, Islam itu mengikatnya dengan akidah Islam,” pungkasnya.

Seperi diberitakan republika.co.id, Senin (5/10/2020), seorang pria di Leeds dilaporkan batuk-batuk dengan sengaja kepada keluarga Muslim. Aksi rasialisme berbentuk batuk ini terjadi pada keluarga, yang terdiri dari seorang ibu hamil, suami dan anak laki-laki.

Peristiwa ini terjadi pada 21 September lalu. Lembaga pengawas fobia Islam Tell Mama, sebagaimana dikutip dari Alaraby, Ahad (4/10), telah melaporkan kejadian tersebut ke polisi atas nama keluarga.

Keluarga, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada Tell Mama, pria itu memang sudah menarget mereka sebelum akhirnya benar-benar melancarkan serangan batuk di tengah pandemi Covid-19. Mereka berasumsi etnis Asia Selatan dan pakaian religius yang mereka pakai menyebabkan mereka menjadi sasaran.

 

 

0 Comments

Leave a Comment

seventeen + 7 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password