Untung Rugi AS dalam Perang Afghanistan

(Perang) adalah satu-satunya saat keuntungan diperhitungkan dalam dolar dan kerugian dalam bentuk nyawa… Ia dilakukan untuk kepentingan segelintir orang, dengan mengorbankan banyak orang. Keluar dari perang, beberapa orang meraih untung besar.”

(Smedley D. Butler, Mantan Mayor Jenderal Angkatan Laut AS) 1

 

Amerika Serikat secara resmi hengkang dari Afganistan pada 30 Agustus 2021. Setelah menjajah negara itu selama 20 tahun, bukan hanya kehidupan masyarakat Afganistan yang dibuat merana, namun juga telah merugikan para pembayar pajak Amerika Serikat dan beberapa negara anggota NATO.

Laporan dari Watson Institute dari Brown University, yang dipublikasikan pada Agustus 2021, mengungkapkan bahwa selama tahun 2001-2021 Amerika Serikat telah mengeluarkan biaya perang sebesar US$2,26 triliun. Jika dirupiahkan (kurs Rp 14.500 perdollar AS), nilainya mencapai Rp 32,8 ribu triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk: Departemen Pertahanan (US$1.055 miliar), Departemen Luar Negeri (US$60 miliar), Peningkatan Anggaran Perang untuk pangkalan Departemen Pertahanan (US$433 miliar), pengasuhan veteran Perang Afgan (US$233 miliar), perkiraan bunga utang untuk perang tersebut (US$532 miliar).

Laporan itu menyebutkan bahwa jumlah tersebut belum mencakup kewajiban Pemerintah AS untuk merawat seumur hidup para veteran Amerika dari perang itu dan pembayaran bunga pada masa depan atas uang yang dipinjam untuk mendanai perang tersebut.2 Khusus untuk pembayaran bunga, peneliti Brown University memperkirakan bahwa pada tahun 2050 biaya bunga utang perang Afghanistan dapat mencapai $6,5 triliun. Jumlah itu setara dengan $20.000 untuk setiap warga negara AS.

Menurut perhitungan Forbes, jumlah yang telah dikeluarkan Pemerintah AS itu setara dengan $300 juta perhari (Rp 4,3 triliun) selama dua dekade. Biaya tersebut lebih banyak dari gabungan kekayaan bersih Jeff Bezos, Elon Musk, Bill Gates dan 30 miliarder terkaya di Amerika. 3

Selain AS, sejumlah negara yang terlibat dalam invasi tersebut—di bawah bendera ISAF-NATO—juga  telah mengeluarkan biaya yang cukup besar. Menurut riset Davidson (2021), khusus untuk anggaran militer yang dikeluarkan oleh negara-negara sekutu pada periode 2001-2008 adalah AS (US$730 miliar). Disusul Inggris (US$28 miliar), Kanada (US$13 miliar) dan Jerman (US$11 miliar). Davidson juga menghitung total bantuan luar negeri yang diberikan oleh AS, Jerman, Inggris, Kanada, Italia dan Francis selama periode 2001-2018 mencapai US$47 miliar.4

Selain pengeluaran materi, laporan Watson Institute juga memperkirakan jumlah orang yang tewas selama invasi AS dan sekutunya tersebut mencapai 243 ribu orang, baik di Afganistan maupun di Pakistan. Jumlah terbanyak secara berturut-turut adalah pejuang oposisi, polisi dan tentara nasional, dan penduduk sipil. Dari pihak AS, jumlah militer yang tewas sebanyak 2.324 orang dan kontraktor sebanyak 4.007 orang. Namun, jumlah tersebut belum mencakup kematian yang disebabkan oleh penyakit, hilangnya akses ke makanan, air, infrastruktur, dan akibat tidak langsung lainnya dari perang.

Selain biaya perang di Afganistan, Watson Institute juga menghitung biaya yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat pasca 9 September 2001. Biaya perang di Irak, Afghanistan, Pakistan, Suriah dan di tempat lain berjumlah sekitar $6,4 triliun. Jumlah ini tidak termasuk biaya bunga pada masa depan atas pinjaman untuk perang. Kemudian, korban tewas sedikitnya 801.000 orang akibat kekerasan perang langsung, yang mencakup angkatan bersenjata di semua pihak yang bertikai, kontraktor, warga sipil, jurnalis, dan pekerja kemanusiaan. Kemudian, lebih dari 335.000 warga sipil terbunuh akibat kekerasan langsung dari perang tersebut. Akibat perang pasca 9/11, jumlah orang yang mengungsi di Afghanistan, Pakistan, Irak, Suriah, Libya, Yaman, Somalia, dan Filipina mencapai 37 juta orang.5

 

Untung Kontraktor

Menurut laporan Congressional Research Service, yang berjudul Defense Primer: Department of Defense Contractors, Departemen Pertahanan AS sangat bergantung pada kontraktor dalam mendukung operasi militer mereka. Kontraktor yang dimaksud adalah individu, perusahaan korporasi, partnership, asosiasi, dan entitas non pemerintahan lainnya yang mengikuti kontrak secara langsung dengan Departemen Pertahanan untuk menyediakan jasa, suplai, atau konstruksi. Laporan tersebut menyatakan bahwa selama operasi militer di Irak dan Afganistan, jumlah kontraktor mencapai 50 persen dari kehadiran personil Departemen Pertahanan di negara tersebut.

Pada tahun 2020 saja, Departemen Pertahanan, yang mengoordinasikan dan mengawasi keamanan nasional dan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, melakukan kontrak senilai US$420 miliar. Jumlah ini lebih banyak dari gabungan seluruh departemen dan agensi di AS. Dari seluruh kontrak pengadaan barang dan jasa departemen itu, terdapat lima perusahaan mendapat bagian yang paling besar, yaitu: Lockheed Martin, Boeing, Raytheon, General Dynamics, dan Northon Grumman. Pada tahun 2019, kelima perusahaan ini meraih 31 persen dari total kontrak yang diselenggarakan oleh Departemen Pertahanan. Nilai terbesar diperoleh oleh Locheed Martin (US$47,1 miliar), disusul Boeing (US$26,3 miliar), General Dynamic (US$17 miliar), Raytheon (US$16 miliar), dan Northrop Grumman (US$14,2 miliar).

Laporan itu juga menyebutkan bahwa selain dalam bentuk perusahaan, Departemen Pertahanan juga mengontrak individu-individu untuk memenuhi berbagai macam peran dan fungsi organisasi, mulai dari logistik, transportasi, analisis intelijen, dan keamanan swasta. Di antara manfaat outsorching tersebut adalah membebaskan personel berseragam untuk fokus pada kegiatan khusus militer; menyediakan keahlian tambahan di bidang khusus, seperti: linguistik, pemeliharaan sistem senjata; dan menyediakan kemampuan militer tertentu yang penting secara cepat. Keberadaan mereka oleh pemerintah federal dianggap lebih hemat biaya dalam jangka panjang.

Pada tahun 2017, Departemen Pertahanan mengontrak sekitar 464.500 FTE—lembaga itu tidak menggunakan istilah orang, tetapi Full Time Equifalent (FTE)—dalam empat portofolio layanan, yaitu layanan manajemen logistik, layanan terkait peralatan, layanan berbasis pengetahuan, dan elektronik dan layanan komunikasi. Dari jumlah itu, porsi terbesar didapatkan oleh Departemen Angkatan Darat sekitar 37 persen, Departemen Angkatan Udara sekitar 28 persen, dan Departemen Angkatan Laut sekitar 22 persen.

Khusus di Afghanistan, masih menurut laporan di atas, pada kuartal keempat tahun 2020, sekitar 35 persen dari 22.562 kontraktor individu yang dilaporkan Departemen Pertahanan adalah warga AS. Sekitar 43 persen lagi adalah wargan negara non-AS. Sisanya sekitar 22 persen adalah warga negara tuan rumah. Di Irak dan Afghanistan, kontraktor keamanan, baik bersenjata ataupun tidak bersenjata, dipekerjakan untuk menyediakan beberapa layanan, seperti melindungi lokasi tertentu; menjaga konvoi yang bepergian; menyediakan pengawalan keamanan; dan melatih personel polisi dan militer. 6

Berdasarkan pengeluaran pemerintah dan jumlah tentara AS yang tewas, sebagian pihak mungkin akan berkesimpulan bahwa pengambilalihan Taliban atas Afghanistan setelah kepergian AS merupakan kegagalan Paman Sam dalam Perang Afganistan. Namun, sebaliknya, dari sudut pandang beberapa orang yang berkuasa di AS, peristiwa tersebut mungkin merupakan keberhasilan yang luar biasa. Mereka adalah para direksi dan pemegang saham perusahaan-perusahaan yang mendapatkan kontrak dalam perang tersebut. Uniknya, beberapa dewan direksi dari kontraktor-kontraktor tersebut merupakan pensiunan perwira militer tingkat atas. Sebagai perbandingan, pendapatan saham gabungan S&P 500—indeks saham 500 perusahaan besar yang terdaftar di bursa saham AS—selama September 2001-Agustus 2021 hanya sebesar 516,67 persen, atau setiap tahun sebesar 9,56 persen, sementara pendapatan saham kelima kontraktor terbesar di Afganistan di atas angka tersebut.7 (lihat tabel).

Kelima kontraktor pertahanan tersebut bukanlah satu-satunya pemenang perang di Afghanistan. Perusahaan-perusahaan besar seperti DynCorp International, KBR, dan Fluor Corporation juga mendapatkan banyak keuntungan dari perang di Afganistan. DynCorp International, misalnya, mendapatkan kontrak dari Departemen Luar Negeri AS sebesar $2,5 miliar untuk mengerjakan beberapa proyek, seperti pelatihan dan perlengkapan kepolisian Afghanistan, dan menyediakan pengawal untuk presiden negara itu, Hamid Karzai. Departemen Pertahanan AS juga telah memberikan kontrak senilai $3,8 miliar untuk Fluor di Afghanistan sejak 2015, yang sebagian besar untuk layanan logistik. Perusahaan minyak seperti ExxonMobil yang mengirimkan bahan bakar yang digunakan tentara juga mendapat untung besar dari perang tersebut.9

Alhasil, seperti yang ditulis oleh Butler di atas, meskipun ribuan nyawa melayang dan membuat jutaan orang menderita, pemenang sejati dari perang di Afganistan—sebagaimana perang lainnya—adalah segelintir kapitalis yang mendapatkan untung besar dari perang tersebut.

WalLahu a’lam bish ash-shawwab. [Muis]

 

Catatan kaki:

1        Smedley D. Butler, War is Racket (New York: Skyhorse Publishing, 2013), hal. 25.

2        US Cost to Date in The War in Afganistan https://watson.brown.edu/costsofwar/figures/2021/human-and-budgetary-costs-date-us-war-afghanistan-2001-2022. Diakses 8 September 2021

3        The War In Afghanistan Cost America $300 Million Per Day For 20 Years, With Big Bills Yet To Come. https://www.forbes.com/sites/hanktucker/2021/08/16/the-war-in-afghanistan-cost-america-300-million-per-day-for-20-years-with-big-bills-yet-to-come/?sh=6d6e69f27f8d. Diakses 8 September 2021

4        Jason  W.Davidson, The Costs of War to United States Allies Since 9/11. https://watson.brown.edu/costsofwar/files/cow/imce/papers/2021/Davidson_AlliesCostsofWar_Final.pdf. Diakses 8 September 2021

5        Watson Institute, Brown University. Summary Of Findings. https://watson.brown.edu/costsofwar/papers/summary. Diakses 8 September 2021

6        Congressional Research Service, Defense Primer: Department of Defense Contractors https://crsreports.congress.gov/product/pdf/IF/IF10600. Diakses 8 September 2021

       America’s boots on ground didn’t but it’s the suits who made a killing https://www.firstpost.com/world/so-who-won-the-afghanistan-war-americas-boots-on-the-ground-didnt-but-its-the-suits-who-made-a-killing-9900441.html

       $10,000 Invested In Defense Stocks When Afghanistan War Began Now Worth Almost $100,000https://theintercept.com/2021/08/16/afghanistan-war-defense-stocks/; So who won Afghanistan war? America’s boots on ground didn’t but it’s the suits who made a killing https://www.firstpost.com/world/so-who-won-the-afghanistan-war-americas-boots-on-the-ground-didnt-but-its-the-suits-who-made-a-killing-9900441.html; Northrop Grumman Awarded $124 Million Contract for Counter-Rocket, Artillery and Mortar Systems. https://news.northropgrumman.com/news/releases/northrop-grumman-awarded-124-million-contract-for-counter-rocket-artillery-and-mortar-systems. Diakses 8 September 2021

9        Ibid.

 

 

0 Comments

Leave a Comment

17 − three =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password