Mengamalkan Al-Quran

Allah SWT berfirman (yang artinya): Andai al-Quran ini Kami turunkan di atas gunung, kamu (Muhammad) pasti menyaksikan gunung itu tunduk terpecah-belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka mau berpikir (TQS al-Hasyr [59]: 21).

Imam al-Baidhawi (III/479) menafsirkan ayat ini dengan menyatakan, “Andai Kami (Allah SWT) menciptakan akal dan perasaan pada gunung sebagaimana yang telah Kami ciptakan pada diri manusia, kemudian Kami menurunkan al-Quran di atasnya, dengan konsekuensi pahala dan siksa, sungguh gunung itu akan tunduk, patuh dan hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah SWT. Ayat ini merupakan gambaran betapa besarnya kehebatan dan pengaruh al-Quran.”

Menurut Abu Hayan al-Andalusi dalam Kitab Bahr al-Muhîth (VIIII/251), ayat ini adalah celaan kepada manusia yang telah keras hatinya dan tidak terpengaruh perasaannya oleh al-Quran. Padahal jika gunung yang tegak dan kokoh saja pasti tunduk dan patuh pada al-Quran, sejatinya manusia lebih tunduk dan patuh pada al-Quran.

Al-Quran adalah KalamulLâh. Tidak ada ucapan terbaik selain al-Quran. Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh ucapan terbaik adalah KitabulLah dan petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad saw.” (HR al-Bukhari).

Karena itulah Rasulullah saw. menganjurkan kita agar banyak membaca al-Quran, bahkan seandainya kita belum lancar membacanya sekalipun. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang pandai membaca al-Quran akan ditempatkan bersama para malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan merasa sulit membaca al-Quran akan mendapat dua pahala.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Orang-orang yang biasa membaca al-Quran terkategori sebagai ‘keluarga Allah SWT’, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sungguh Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.” Beliau ditanya, “Siapa mereka, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahl al-Qur’ân. Merekalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Rasulullah saw. pun bersabda, “Bacalah al-Quran karena sesungguhnya al-Quran itu akan menjadi syafaat bagi para pembacanya pada Hari Kiamat.”  (HR Muslim).

Al-Quran bukan hanya akan menjadi syafaat bagi pembacanya. Bahkan Allah SWT akan memberikan mahkota kepada kedua orangtua sang pembaca al-Quran di surga nanti, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang selalu membaca al-Quran dan mengamalkan isinya, niscaya Allah SWT akan memakaikan mahkota kepada kedua orangtuanya nanti pada Hari Kiamat. Cahaya mahkota tersebut lebih indah dari cahaya matahari yang menyinari rumah-rumah di dunia.”  (HR Abu Dawud).

Namun demikian, al-Quran tak cukup sakadar dibaca. Al-Quran pun wajib dipahami isinya. Rasulullah saw. menyindir orang yang membaca al-Quran tanpa memahami isinya. Sabda beliau, “Akan keluar beberapa kaum dari umatku yang ‘meminum’ al-Quran seperti mereka meminum susu.” (HR ath-Thabarani).

Maksudnya, mereka membaca al-Quran dengan lisan mereka tanpa merenungi makna-maknanya dan tidak merenungkan hukum-hukumnya. Mereka membaca al-Quran sekadar lewat begitu saja di lisannya sebagaimana lewatnya susu yang diminum dengan cepat (melewati tenggorokan).

Rasulullah saw. pun mencela orang yang hanya menjadikan al-Quran sebagai bahan perdebatan, tidak berusaha dipahami dan diamalkan. Sabda beliau, “Berdebat tentang al-Quran adalah kekufuran.”  (HR Abu Dawud, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Al-Quran hakikatnya adalah pedoman kehidupan. Karena itu al-Quran harus diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan. Hanya dengan itulah al-Quran bisa memberi kita keberkahan di dunia dan menolong kita di akhirat.

Karena itulah, mari kita selalu rajin membaca al-Quran karena banyaknya kebaikan di dalamnya. Marilah kita pun berusaha memahami isinya, terutama perintah dan larangannya, serta hukum-hukumnya. Semua itu harus kita jadikan modal untuk mengamalkan seluruh syariah yang dikandung al-Quran. Jika kita tidak mengamalkan seluruh isi al-Quran, kita tentu sepantasnya khawatir dengan apa yang dinyatakan oleh Anas bin Malik ra. Kata beliau, “Rubba qaari’ al-Qur’aan wa al-Qur’aan yal’anuh.” (Boleh jadi banyak orang yang membaca al-Quran, tetapi al-Quran justru melaknat mereka).” (Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 1/274).

Ini adalah peringatan keras kepada seorang Muslim yang suka membaca al-Quran, tetapi tidak mengamalkan isinya. Ia membaca ayat-ayat al-Quran yang mengandung sejumlah larangan, tetapi ia justru melanggar larangan-larangan tersebut. Al-Quran melarang riba, misalnya, tetapi ia malah biasa melakukan muamalah (transaksi) ribawi. Al-Quran melarang segala bentuk kezaliman, tetapi ia malah sering berbuat zalim. Al-Quran melarang ghibah (membicarakan keburukan orang lain), tetapi ia gemar melakukannya. Al-Quran melarang mencuri, korupsi, zina, menimbun harta, dll; tetapi ia jusru menjadi pelakunya.

Sebaliknya, al-Quran memerintahkan kita untuk mengamalkan dan menerapkan semua syariah-Nya secara kaffah, tetapi kita malah mengambil “syariah” lain yang notabene buatan manusia sebagaimana terjadi hari ini.

Yang juga boleh jadi termasuk orang yang dilaknat oleh al-Quran adalah mereka yang mengklaim mengimani al-Quran, tetapi nyinyir kepada para penghapal, pengamal dan pejuang al-Quran.

Wa ma tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

 

0 Comments

Leave a Comment

nine − 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password