Menjawab Lugas

Kalau anda terus ngotot ingin menerapkan syariah, keluar sana dari Indonesia pergi ke Timur Tengah…

++++

Dalam dakwah, biasa sekali kita mendapatkan pertanyaan atau pernyataan. Baik itu berkenaan dengan ide, gerak maupun menyangkut tanggapan atas suatu peristiwa aktual pada saat itu. Kadang pertanyaan diajukan memang didasari niat tulus untuk mencari tahu atau mengkonfirmasi sesuatu. Namun, tak jarang, muncul pertanyaan atau pernyataan bernada mencemooh, melecehkan dan merendahkan. Bahkan terkesan hendak menjebak.

Menjadi tugas seorang pengemban dakwah untuk bisa menjawab semua itu dengan baik. Demikian pula terhadap pertanyaan jenis kedua yang kadang sangat terlihat tidak untuk mencari tahu, tetapi mengajak berseteru. Ini seperti yang dialami oleh Dr. Muhammad Imarah, seorang pemikir besar dari Mesir.

Suatu ketika, seorang bertanya kepada beliau dengan pertanyaan  yang bernada mengejek dan mengolok: Saya dengar, Anda ingin sekali syariah Islam ini diterapkan. Dengan menerapkan syariah, apa Anda ingin membawa kami mundur ke belakang?

Mendapat pertanyaan bernada merendahkan itu, menarik menyimak apa jawaban lugas Dr. Imarah. Ternyata ia menjawab dengan balik bertanya:

 

Ke belakang yang mana maksud Anda? Apakah belakang yang Anda maksud adalah 100 tahun yang lalu, saat Islam menguasai separuh dunia selama 500 tahun? Atau maksud Anda, lebih jauh lagi ke belakang saat Dinasti Mamalik menyelamatkan dunia dari ganasnya serbuan Mongol dan Tartar? Atau lebih jauh lagi ke belakang saat Dinasti Abbasiyah menguasai separuh dunia.

Atau ke belakang sebelumnya, saat Dinasti Ummayah, atau sebelumnya lagi saat Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. menguasai banyak kawasan di dunia ini? Atau pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid saat ia mengirim surat ke penguasa imperium Romawi kala itu, Naqfur, dengan kata-kata, ‘Dari Harun al Rasyid Amirul Mukminin, kepada Naqfur Anjing Romawi?’

Atau ke belakang lagi saat Abdurrahman al-Dakhil bersama pasukannya berhasil menaklukkan Italia dan Prancis? Itu jika dalam bidang politik.

Atau maksud Anda ke belakang adalah dalam bidang keilmuan, ketika ulama Arab seperti Ibnu Sina, al-Farabi, al-Khwarizmi, Ibnu Jarir, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dan lainnya mengajarkan dunia Arab dan dunia Barat tentang ilmu kedokteran, farmasi, arsitektur, falak dan sastra?

Atau ke belakang maksud Anda dalam hal kehormatan? Ketika seorang Yahudi kafir mengerjai seorang Muslimah hingga terlepas baju abayanya sampai ia berteriak histeris, lalu Khalifah al-Mu’tashim mengirim pasukan untuk membalas apa yang orang Yahudi itu lakukan, dan mengusir orang itu dari negaranya?  Sementara itu, hari ini, para Muslimah diperkosa sedang pemimpin negeri Muslim hanya diam tak bisa berbuat apa-apa?

Atau ke belakang maksud Anda saat kaum Muslim membangun universitas pertama di Spanyol yang menggemparkan Eropa kala itu sehingga sejak saat itu, pakaian jubah longgar besar dari Arab itu menjadi pakaian wisuda hampir semua universitas dunia, yang di bagian atasnya ada topi yang datar yang dulu dijadikan tempat meletakkan al-Quran saat acara wisuda?

Atau maksud Anda ke belakang adalah saat Kairo menjadi kota paling indah di dunia? Atau ketika 1 dinar Irak setara dengan 483 dolar? Atau maksud Anda ke belakang, saat orang-orang melarikan diri dari Eropa yang dilanda kemiskinan dan pergi menyelamatkan diri menuju Aleksandria (Mesir), atau ketika Amerika meminta bantuan Mesir untuk menyelematkan Eropa dari kelaparan?

Tolong bertahukan saya, mundur ke belakang mana yang Anda maksudkan?

 

Demikian tanya Dr. Imarah. Si penanya hanya bisa diam. Membisu. Tak tahu apa yang mau diucapkan.

Menjawab lugas, jika perlu agak sedikit menohok, kadang diperlukan. Membuka ruang kesadaran kadang perlu dengan ungkapan yang sedikit keras. Sama seperti saat saya diwawancarai oleh tim Prof. Don Emmerson, Direktur Forum Asia Tenggara di Stanford University, Amerika Serikat, yang juga anggota Komisi Nasional Hubungan Indonesia-Amerika Serikat (The National Commission on U.S.-Indonesian Relations) beberapa tahun lalu. Bersama timnya, ia datang ke Indonesia melakukan penelitian mengenai hubungan antara Islam dan demokrasi, juga kesesuaian demokrasi, termasuk demokrasi liberal, dengan negara yang mayoritas Muslim seperti Indonesia. Hasil penelitian itu kemudian dikemas dalam bentuk sebuah film dokumenter.

Setelah panjang lebar berbincang tentang demokrasi dan Islam, lalu ditanyakan kepada saya, “Apakah khalifah nantinya mesti seorang Muslim?” Tentu saja saya jawab, “Ya, harus.” Dengan cepat ia bertanya lagi, “Kalau begitu, bukankan itu diskriminatif karena hanya seorang Muslim saja yang bisa menjadi khalifah, sementara warga negara non-Muslim tidak bisa.”

Jelas, ini pertanyaan bernada gugatan, bahkan serangan kepada Islam. Tanpa ragu ia menuding sistem politik Islam itu diskriminatif. Jika persamaan hak politik adalah sebuah kebaikan, maka diskriminasi politik pasti dianggap keburukan. Pendapat seperti ini jelas salah besar. Tidak mungkin ajaran Islam diskriminatif.  Namun, bagaimana menjelaskan hal ini?

Saya katakan kepada dia, bahwa terkait dengan siapa yang boleh menjadi kepala negara, dalam setiap sistem politik apapun  dan di negara manapun pasti ada limitasi atau pembatasan. Dalam sistem politik Amerika Serikat, misalnya, saya memberi contoh, juga ada limitasi. Presiden Amerika Serikat haruslah seorang warga negara Amerika Serikat yang lahir di Amerika Serikat. Selain itu tidak boleh (Sekadar catatan, Barack Obama, presiden AS kulit hitam pertama, lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961. Toh begitu, sempat mendapatkan resistensi dari sebagian warga negara AS. Ia dianggap kurang Amerika, karena ayahnya berasal dari Kenya).

Jadi, limitasi dalam sebuah sistem politik adalah sesuatu yang wajar. Itu bukanlah diskriminasi. Begitu juga dalam Islam. Khalifah haruslah seorang Muslim. Bedanya, limitasi dalam sistem politik AS dan sistem politik di negara lain itu berdasar pada sesuatu yang tidak bisa diubah. Maksudnya, tempat kelahiran kan tidak bisa diubah-ubah. Sekali Anda dilahirkan di Indonesia, misalnya, tidak mungkin diubah menjadi lahir di Amerika Serikat. Karena itu selamanya Anda tidak mungkin menjadi presiden AS. Sebaliknya, limitasi dalam sistem politik Islam  berdasar pada sesuatu yang bersifat pilihan dan karena itu bisa diubah. Keislaman seseorang, sebagaimana juga ketidakislaman, adalah buah dari pilihan. Tiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Karena Anda memilih menjadi non-Muslim, maka Anda tidak mungkin menjadi khalifah. Namun, begitu Anda berubah menjadi Muslim, saat itu juga peluang Anda menjadi seorang khalifah terbuka. Dengan demikian limitasi yang ditetapkan oleh Islam itu lebih rasional ketimbang sistem politik manapun yang menggunakan limitasi atas dasar primordialisme. “Jadi, siapa sebenarnya yang diskriminatif?” tanya saya balik.

++++

Dakwah hakikatnya adalah amanah, untuk menyampaikan al-haq dan membantah al-baathil. Ini tidak main-main karena menyangkut risalah Ilahi. Jadi, harus ditunaikan dengan sungguh-sungguh. Sampaikan kebenaran dengan jelas dan tegas. Jawab juga setiap pertanyaan dengan lugas. Tidak boleh ragu. Apalagi gagu. Pasalnya, urusannya bukan hanya di dunia, tetapi sampai ke negeri akhirat nanti.

Terus apa jawaban untuk pertanyaan di atas, yang masuk ke handphone saya pada zaman masih pakai sms? Saya jawab: Syariah itu ditetapkan oleh Allah SWT. Allahlah juga Yang menciptakan bumi. Kalau Anda tidak setuju syariah, keluar sana dari bumi! [H.M. Ismail Yusanto]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

11 − 10 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password