Khilafah Bangkit Kembali, Pasti!

Sikap orang tidak beriman dan beriman tentu berbeda hampir dalam semua hal. Termasuk dalam urusan nubuwat atau bisyarah Rasulullah saw. Saat Rasulullah mengabarkan bahwa Persia dan Romawi akan ditaklukkan oleh umat Islam, kaum kafir tertawa terbahak-bahak. Mereka menganggap itu sebagai lelucon yang menggelikan. Namun, orang beriman menganggap bisyarah itu pasti akan terjadi. Mereka begitu percaya dengan bisyarah tersebut. Mereka pun berjuang dengan segenap daya upaya untuk merealisasi nubuwat tersebut. Memang, pada akhirnya Persia dan Romawi berhasilkan ditaklukkan oleh umat Islam.

Orang yang tidak beriman dan beriman juga berbeda dalam menyikapi bisyarah penaklukan kotanya Heraklius, yakni Kota Konstantinopel. Orang beriman begitu percaya dan berupaya untuk mewujudkan bisyarah Rasulullah saw. Sebaliknya, orang kafir tidak percaya. Namun, apa pun sikap manusia, bisyarah itu akhirnya benar-benar terjadi. Benteng Konstantinopel akhirnya ditaklukkan oleh umat Islam.

Semua bisyarah Rasulullah akhirnya terwujud satu demi satu.

Di antara peristiwa besar yang merupakan bisyarah Rasulullah saw. yang belum terjadi adalah bersatunya kembali umat Islam dan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah, setelah masa mulk[an] jabriyyat[an] (pemerintahan yang diktator). Bagaimana sikap manusia tentang bisyarah tegaknya Khilafah ini? Sama dengan bisyarah lainnya. Orang yang beriman percaya sepenuhnya. Mereka pun berusaha sekuat tenaga untuk menjadi bagian dalam usaha yang penuh keberkahan, agar bisyarah tegaknya Khilafah tersebut terealisasi. Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman menertawakan bisyarah tersebut sejadi-jadinya. Bagi mereka, tegaknya Khilafah kembali adalah ilusi, mimpi, khayalan, romantisme historis, mabuk agama dan seabrek cemoohan lainnya. Saat cahaya bisyarah Rasulullah tersebut mulai memancar, mereka berupaya sekuat tenaga untuk menghalanginya. Bahkan mereka melakukan kebiadaban yang luar biasa kepada para pengikut Rasulullah saw. hingga batas yang tak bisa diterima dengan akal sehat.

Padahal, jika kita mencermati faktor, baik internal maupun eksternal, tampaknya tegaknya Khilafah hanyalah tinggal menunggu waktu dan momentum yang tepat.

 

Faktor Internal

Pertama: Mulai tumbuhnya kesadaran umat tentang Khilafah.

Khilafah adalah ajaran Islam. Tidak ada perbedaan sedikit pun dalam urusan ini. Abu Bakar ra adalah khalifah dalam sistem Khilafah. Umar ra adalah khalifah dalam system Khilafah. Demikian seterusnya. Mengingkari Khilafah berarti mengingkari para Sahabat Nabi saw. Mengingkari para Sahabat Nabi saw. berarti mengingkari Islam. Di dunia ini, tidak ada yang berani mengingkari para Sahabat Nabi, kecuali hanya kalangan Syiah yang sesat.

Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi kaum Muslim di seluruh dunia untuk menegakkan syariah Islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. Jadi, hakikatnya Khilafah adalah manifestasi persatuan umat dan penerapan syariah Allah di muka bumi.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam. Pemimpinnya diangkat oleh umat Islam untuk menjalankan syariah Allah yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan merupakan realisasi yang sejati atas persatuan umat.

Sebagai sebuah sistem kehidupan, eksistensi Khilafah bergantung pada pelaksananya dan umat. Saat Khalifah benar-benar menerapkan syariah Allah secara adil, umat mencintai dan melindungi Khilafah. Sebaliknya, saat Khilafah tidak lagi menerapkan syariah bahkan berbuat zalim kepada umat, umat akan membencinya. Sayangnya, pada suatu zaman umat diberlakukan dengan tidak adil dan umat salah identifikasi. Yang disalahkan bukan para pelaku yang tidak menerapkan syariah, tetapi justru Khilafah. Karena ditinggalkan umat, maka Khilafah runtuh. Memang begitulah dunia berputar.

Saat ini, sebagian besar umat Islam telah menyadari kekeliruannya dan merasakan sendiri dampak buruk dari ketiadaan Khilafah. Akibatnya, mereka kembali pada kesadaran dasarnya, bahwa Khilafah adalah kewajiban Islam dan solusi atas problematika yang menimpa umat dalam segala aspek kehidupan. Oleh karena itu, selama kesadaran ini dapat terus dijaga, maka tegaknya Khilafah, secara kaidah kausalitas, hanyalah masalah waktu saja.

Jika kita cermati, saat ini, di belahan dunia mana pun umat berada, mereka begitu merindukan persatuan dan kembali dalam naungan Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.

Kedua: Mulai muncul kesadaran siapa musuh umat sesungguhnya.

Saat ini, umat Islam juga telah menyadari sepenuhnya, bahkan sacara ‘aynul yaqin, bahwa musuh mereka bukan Islam dan umatnya. Perbedaan khilafiyah di tengah-tengah umat yang selama ini telah mengoyak persatuan umat, kini hal itu dipahami sebagai hal wajar dan fitrah. Perbedaan tersebut tak lagi memisah mereka, apalagi membuat mereka bermusuhan.

Kondisinya tidak seperti dulu. Perbedaan furu adalah musuh nyata. Memang masih ada satu atau dua orang yang bersikap begitu, tetapi seiring dengan bangkitnya kesadaran umat, keberadaan orang-orang dengan pemahaman seperti itu semakin pudar di tengah umat. Suasana persatuan umat semakin kokok. Fenomena 212 hanyalah sekadar contoh kecil atas bersatunya hati umat Islam.

Saat ini umat pun mulai menyadari bahwa musuh mereka, yaitu kekufuran, kemunafikan yang terus digelorakan, baik yang kuno maupun modern seperti demokrasi, kapitalisme, sosialisme dan lainnya. Dengan semakin tumbuhnya kesadaran tentang persatuan umat dan kesadaran tentang musuh yang sejati, maka terwujudnya persatuan hanya masalah waktu.

Ketiga: Penderitaan umat yang berkepanjangan.

Akibat dari kehancuran Khilafah, umat merasakan masalah yang datang bertubi-tubi dalam segala lini kehidupan. Umat Islam dibantai di mana-mana. Di Irak, Suriah, Palestina, Kashmir, Uighur dan di berbagai tempat lain. Saat umat Islam dibantai, tidak ada satu pun yang membantu mereka. Saat Palestina dibantai Israel, faktanya Mesir, Turki, Arab Saudi dan lainnya tidak membantu. Dari berbagai rentetan kejadian yang terjadi depan hidung mereka, akhirnya umat menyadari dengan jernih, bahwa inti masalah yang dialami umat adalah tidak adanya persatuan. Dari berbagai peristiwa tersebut, semakin menegaskan bahwa solusinya hanya satu, yakni persatuan umat, Khilafah.

Memang, kadang ada sebagian umat yang mengabaikan persatuan dan menganggap bahwa masalahnya hanyalah urusan dalam negerinya sendiri. Namun, pada akhirnya, mereka tertimpa musibah serupa dengan yang dialami umat di tempat lain. Saat itu, mereka juga tidak ada yang menolong. Dari sana timbul kesadaran tentang persatuan umat, meski agak telat. Salah satu hikmahnya adalah bahwa kesadaran tentang persatuan umat, Khilafah, semakin membuncah.

Keempat: Ada partai atau kelompok yang konsisten dan mendapat sambutan umat.

Umat pun kini menyadari bahwa usaha untuk bersatu dan kembali pada syariah Allah tidak bisa dilakukan sendirian, tetapi harus dilakukan secara berjamaah. Alhamdulillah, saat ini, organisasi dengan level dunia, telah ada di tengah-tengah umat. Salah satunya adalah Hizbut Tahrir. Umat dari berbagai bangsa, suku, mazhab, warna kulit, bahasa dan adat istiadat, kini bahu-membahu berjuang bersama Hizbut Tahrir. Tujuannya untuk mewujudkan persatuan umat dan tegaknya syariah, di bawah naungan Khilafah.

Mereka pun rela menderita dan berkorban demi tegaknya ‘izzul Islam wal Muslimin. Mereka rela dicaci, dihina, dipersekusi, dicopot jabatannya, diberhentikan pekerjaannya, dipenjara, bahkan dibunuh. Mereka siap menanggung semua penderitaan di jalan dakwah. Sungguh sikap dan kepribadian mereka mirip dengan para sahabat Rasulullah saw dulu.

Berbagai persekusi oleh penguasa zalim di berbagai negara justru semakin mengokohkan langkah mereka, bahwa mereka benar-benar berada di jalan Rasulullah saw. Berbagai intimidasi dan persekusi justru membuat mereka semakin bersemangat. Orang-orang zalim berusaha menyemprotkan air dengan harapan para pejuang takut terkena air. Padahal air yang disemprotkan kepada mereka membuat mereka semakin segar dan bugar kembali.

Sambutan umat kepada kelompok dakwah ini juga luar biasa. Memang pada awalnya sambutan itu terasa nyaris tidak ada. Namun, seiring dengan keistiqomahan kelompom dakwah ini, umat yang awal-nya ragu-ragu menjadi semakin optimis dan berani mendukung secara terang-terangan.

 

Faktor Eksternal

Beberapa faktor eksternal umat juga turut memberikan andil yang luar biasa pada percepatan arus Khilafah.

Pertama: Semakin terbukanya borok Kapitalisme.

Pada saat pemahaman umat tentang Khilafah semakin meningkat, bersamaan dengan itu, Kapitalisme semakin tampak kebobrokannya. Korupsi di negara-negara kapitalis semakin menggurita. Rakyat benar-benar muak. Saat rakyat dipalak dengan berbagai pajak yang mencekik, uang yang terkumpul justru dikorupsi oleh para pejabat negara. Berbagai subsidi untuk rakyat juga dicabut. Sudah begitu rakyat masih disalahkan sebagai “membebani negara”.

Alam juga dirusak oleh para kapitalis. Pada saat yang sama, berbagai banjir, kebakaran hutan asap pekat, kelangkaan air bersih, tersebarnya limbah beracun menghantui masyarakat. Rakyat di semua negara kapitalis diibaratkan sudah jatuh tertimpa tangga.

Selama ini mereka hanya bisa menyuarakan sumpah serapah kepada para pejabat kapitalis atau memohon laknat kepada Penguasa langit agar dijatuhkan kepada para pejabat dan kapitalis hitam. Namun, ceritanya lain jika saat itu ada tawaran sistem alternatif terhadap Kapitalisme yang destruktif, yakni Khilafah. Saat penguasa menaikan harga BBM, misalnya, mereka bukan hanya membayangkan perlawanan rakyat, mereka juga dihantui semakin moncernya gagasan Khilafah.

Keserakahan dan gaya hidup seenaknya sendiri telah terbukti bukan hanya menghancurkan diri sendiri, tetapi masyarakat juga terkena imbasnya. Sekedar contoh, makan makanan tanpa aturan, seperti kelelawar, ular, babi dan sejenisnya, telah menularkan berbagai penyakit mematikan, seperti SARS, Corona, dan lain sebagainya. Semua ini, pada akhirnya, akan menyadarkan manusia, bahwa mereka membutuhkan aturan yang membawa kebahagiaan dan ketentraman.

Selain itu, penjajahan di berbagai belahan dunia, baik secara militer, ekonomi maupun politik juga semakin tampak. Masyarakat dunia semakin muak dengan berbagai penjajahan dan hegemoni yang dilakukan oleh negara-negara Kapitalis besar terhadap negara-negara kapitalis kecil yang lebih lemah.

 

Kedua: Melemahnya negara-negara bangsa (nation state) dan tren menuju globalisme.

Pada era sekarang, kemajuan teknologi membuat dunia layaknya kampung kecil. Manusia di belahan dunia mana pun dapat mengobrol dengan leluasa. Jarak beribu-ribu kilo meter hanya ditempuh beberapa saat. Apalagi munculnya internet of thing (IOT), semua terkoneksi pada satu jaringan global. Semua ini membuat pembatasan manusia secara geografis (nation state) menjadi semakin tidak relevan. Saat ini, manusia di manapun, merasa sebagai makhluk yang sama. Mereka semua muak dengan keserakahan Kapitalisme, di belahan dunia mana pun mereka berada. Saat ini, masyarakat dunia, perlahan tapi pasti, sedang menuju pada arah baru, yakni globalisme. Hingga detik ini, satu-satunya sistem global alternatif pengganti Kapitalisme hanya Khilafah. Jadi, seandainya Khilafah tidak didakwahkan, secara alamiah, dunia akan menuju kearah sana. Meski tentu saja, butuh waktu yang lebih lama. Jadinya, mendakwahkan Khilafah pada era sekarang sejatinya seperti berenang bersama arus, bukan malah melawan arus.

Tentu masih banyak lagi faktor eksternal lainnya yang mendorong percepatan arus Khilafah.

 

Khatimah

Tidak dipungkiri, selain terdapat faktor-faktor yang mendorong tegaknya Khilafah, juga terdapat faktor-faktor penghambat. Berbagai hambatan dan tantangan tersebut tampak begitu besar layaknya gurita sehingga membuat orang yang berjiwa kerdil dan bermental kucing ketakutan untuk menyuarakan Khilafah. Bahkan sebagiannya mundur secara teratur. Namun, jika dicermati secara mendalam, saat ini faktor penghambat tersebut jauh lebih kecil dibanding faktor pendorong tegaknya Khilafah.

Lebih dari itu, bagi pejuang atau minimal perindu kebenaran, bisyarah Rasulullah dan janji Allah SWT jauh lebih melebihi semua faktor. Sabda Nabi saw. dan janji Allah jauh lebih bernilai dibanding prediksi ribuan bahkan jutaan ahli dan pakar, mengalahkan berbagai kekuatan dan semua skenario, apalagi hanya gertakan para pemburu uang recehan.

Allah SWT berfirman:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡ‍ٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ  ٥٥

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan apapun dengan Aku. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik (QS an-Nur [24]: 55).

 

Rasulullah saw. bersabda:

ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً رَاشِدَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّة

Kemudian akan ada kembali Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian (HR Ahmad).

 

WalLâhu a’lam. [Muhammad Ulul Azmi]

 

 

 

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

sixteen − 8 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password