Ulama-ulama Nusantara Sepanjang Era Khilafah (Tulisan Pertama)

Keberadaan Jaringan Ulama Nusantara tidak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban Islam yang sangat panjang. Terutama pada masa kekhalifahan Turki Utsmani. Para ulama Nusantara ini cukup diperhitungkan dan kerap dilibatkan dalam berbagai dinamika di Timur Tengah. Hal tersebut dapat dipahami karena sejak dulu negeri kepulauan ini cukup diperhitungkan oleh peradaban-peradaban besar di Timur Tengah. Sejak masa Bani Israil hingga masa pra-Islam.

Para bahariawan dari Nusantara sudah berkelana ke berbagai penjuru dunia. Mereka dikenal sebagai para pelaut ulung penakluk samudera. Nusantara juga dikenal sebagai muara berlimpahnya rempah-rempah yang sangat dibutuhkan masyarakat dunia. Negeri kepulauan ini pun terkemuka di seantero jagat dengan keberadaan kapur barusnya. Satu-satunya tempat di permukaan bumi ini yang mampu menghasilkan kamper terbaik. Kamper barus menjadi salah satu bahan mumifikasi jasad para fir’aun menurut Claudius Ptolemeus. Bahkan pengasas peradaban helenistik Dinasti Ptolemy di Mesir ini dalam bukunya, Geographica, menyatakan bahwa mereka mendatangkan logam mulia dari negeri Agryppa yang kelak dikenal sebagai Kerajaan Salakanagara di barat Jawadwipa. Tidak hanya itu, ribuan tahun sebelumnya Jawadwipa pun dikenal sebagai produsen Jewawut terbaik di dunia.

Prof. Mansur Suryanegara menyatakan bahwa para bahariawan dan juru niaga yang berasal dari Nusantara ini terbiasa pula berniaga di Timur Tengah, khususnya di wilayah Syam. Sejarahwan dari Unpad ini pun mengungkap fakta bahwa interaksi pertama penduduk Nusantara dengan pribadi mulia Rasul Allah adalah saat mereka bertemu Muhammad bin Abdullah belia di pusat-pusat niaga wilayah Syam. Para saudagar niaga dari seberang samudera itulah kelak mengenal Muhammad saw. sebagai “juru selamat bagi manusia dan dunia”.

 

Islamisasi Awal Nusantara

Momentum awal islamisasi dunia, termasuk Nusantara di dalamnya, mulai berlangsung sejak Nabi Muhammad saw. menyepakati Perjanjian Hudaibiyah dengan kaum musyrik Quraisy pada 628 M. Sejak itu, Rasul saw. dan para sahabatnya segera mengamankan Jazirah Arabia dengan membebaskan Khaibar dari kekuasaan Yahudi. Berikutnya, dakwah Islam pun dapat berlangsung dengan aman dan damai. Para Sahabat terbaik diutus oleh Baginda Nabi saw. ke berbagai penjuru bumi. Termasuk ke negeri-negeri Timur dunia. Di antaranya Kusyam bin Abbas bin Abdul Mutthalib berdakwah ke Samarkand. Abdullah bin Mas’ud, yang menyertai Suku Ta’shih, mengarungi samudera menuju negeri al-Fansur (Barus) di Kepulauan Syamatirah (Sumatera). Fakta historis inilah yang diungkap oleh N.A. Baloch dalam buku The Adventure of Islam in Indonesia. Ia menyatakan bahwa Islam memasuki negeri-negeri di ujung timur dunia melalui jalur maritim. Termasuk dalam kitab Al-Qishasul Da’wah Islam fil Araghbiliyah yang berasal dari keluarga Azmatkhan. Kitab klasik ini merinci para Sahabat Nabi saw. yang hilir-mudik menyemarakan dakwah Islam hingga ke Nusantara.

Para pelaut Ta’shih itu menjelajahi berbagai kepulauan di Nusantara itu untuk berdakwah sambil berniaga. Bahkan tidak jarang mereka akhirnya bermukim dengan menikahi penduduk setempat. Tidak mengherankan pada akhirnya muncul banyak perkampungan orang-orang Arab Ta’shih di berbagai pesisir pantai Kepulauan Nusantara. Fenomena ini dapat dilacak dari catatan bahariawan Dinasti Tang, I’Tsing. Disebutkan bahwa selama penjelajahannya di Nusantara, I’Tsing kerap bertemu dengan pemukiman Suku Ta Cheh (Ta’Shih) di Ta La Mo (Taruma) hingga Ho Ling (Kalingga). Dari pemukiman-pemukiman inilah embrio jaringan ulama Nusantara bermula.

Berikutnya, dakwah Islam semakin mengemuka hingga berita tentang kerasulan Muhammad saw. beserta ajarannya menjadi tema menarik hingga masuk ke dalam kedatuan dan keraton para penguasa. Tema rahmatan lil ‘alamin yang dipahami bumiputra sebagai “juru selamat bagi manusia dan dunia” menjadi bahasan menarik bagi para penguasa. Bahkan disebutkan penguasa dari Po’o Ling Pang (Palembang) mengirim dutanya untuk menemui Rasul saw. di Arabia.

Delegasi dari Palembang itu baru tiba di Madinah pada 634 saat peralihan kekuasaan Khilafah dari Abu Bakar ra. kepada Umar bin al-Khaththab ra. Niat mereka untuk menemui Rasul saw. tidak terlaksana karena perjalanan yang ditempuh berlangsung sangat lama dan lambat. Hal ini diungkap Prof. Agus Sunyoto dalam buku Atlas Walisongo Indonesia. Kepulangan mereka kembali ke Swarnabhumi turut menyemarakan jejaring awal ulama di Nusantara.

Demikian pula saat kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dikisahkan ada seorang ksatria Sunda bernama Rakeyan Sancang mengarungi samudera dengan niat berguru kepada ksatria tak terkalahkan di Jazirah Arabia. Bahkan dikisahkan ksatria anak tunggal Prabu Kertawarman dari Tarumanagara ini ikut memihak Khalifah Ali dalam Perang Shiffin dan ikut berjihad menegakkan Islam hingga ke Asia Tengah. Sepulang dari penjelajahannya, ksatria Sunda itu kembali ke pemukimannya di Leuweung Sancang, Garut dan membentuk perkumpulan Gagak Lumayung sebagai kutlah dakwah pertama yang mensyiarkan Islam di kalangan Bumiputra. Mereka merangkai jejaring perjuangan Islam dengan para pendatang Muslim Ta’shih dari Arabia. [Bersambung]

[Salman Iskandar]

 

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

10 − one =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password