Menyambut Ramadhan

Hampir setiap Muslim mengetahui keutamaan Ramadhan. Sebagai pengingat dan penyemangat untuk menyambut Ramadhan, saya kemukakan sembilan poin penting keutamaan Ramadhan.

Pertama: Bulan Turunnya al-Quran (QS al-Baqarah [2]: 185; ad-Dukhan [44]: 3; al-Qadar [97]: 1).

Kedua: Bulan Tarawih dan Tahajud. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيماَ وَاحْتِسَاً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang menegakkan shalat pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibn Majah).

 

Ketiga: Bulan Pengampunan Dosa. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاً وَاحْتِسَاً غُفِرَ لَه مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

 

Keempat: Bulan Pembabasan dari Neraka. Nabi saw. bersabda:

وَيُنَادِي مُنَادٍ يا باغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وياباغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلله عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Seorang penyeru berseru, “Wahai pengejar kebaikan, menghadaplah! Wahai pengejar keburukan, berhentilah!” Bagi Allah banyak orang-orang yang dimerdekakan dari Neraka. Hal itu terjdi setiap malam (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Khuzaimah).

 

Kelima: Bulan Kedermawanan dan Kebaikan kepada Sesama. Nabi saw. bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ

Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan saat berjumpa dengan Jibril. Beliau berjumpa dengan Jibril pada setiap malam pada Bulan Ramadhan (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan an-Nasa’i).

 

Keenam: Bulan Pintu-pintu Surga Dibuka,  Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Setan-setan Dibelenggu. Rasulullah saw.  bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Jika Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka pintu-pintu neraka ditutup dan setan pun dibelenggu (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan an-Nasa’i).

 

Ketujuh: Bulan Pengabulan Doa. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah SWT dalam QS al-Baqarah di sela-sela menjelaskan tentang hukum-hukum puasa (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 186).

Kedelapan: Bulan Dilipatgandakan Pahala. Rasulullah saw. bersabda:

عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ ، تَعْدِلُ حَجَّة

Umrah pada bulan Ramadhan setara dengan satu kali haji (HR Ibn Majah dan at-Tirmidzi).

 

Kesembilan: Bulan yang di Dalamnya Terdapat Lailatul Qadar. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ، وَفِيهِ لَيْلَة خَيْر مِنْ أَلْفِ شَهْر، مَنْ حُرِمَهَا، فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَلا يُحْرَم خَيْرَهَا إِلاَّ مَحْرُوم

Sungguh bulan ini (Ramadhan) telah hadir di tengah-tengah kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi dari malam itu, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan secara keseluruhan. Tidaklah terhalangi dari kebaikannya kecuali seorang yang rugi (HR Ibn Majah).

 

Persiapan Menyambut Ramadhan

Agar Tamu Agung tersebut sudi singgah di rumah-rumah kita, kita wajib mempersiakan diri untuk menyambut kedatangannya. Untuk itu beberapa hal berikut wajib kita lakukan.

Pertama: Bertobat kepada Allah SWT. Pasalnya, semua yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita—musibah, bencana, wabah, kurangnya keberkahan waktu kita, sempitnya kehidupan kita dan hilangnya keberkahan hidup—tentu tidak dapat dilepaskan dari dosa-dosa kita.

Kedua: Bersyukur kepada Allah SWT karena kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Ramadhan. Betapa banyak saudara-saudara kita di sepanjang 2020 hingga menjelang bulan Ramadhan yang dipanggil oleh Allah SWT.

Ketiga: Berbekal ilmu tentang fikih puasa, hukum-hukum dana dab-adabnya. Termasuk berberapa ibadah yang berkaitan dengan Ramadhan seperti umrah, zakat fitrah, dan yang lain. Tanpa ilmu, sangat dikhawatirkan amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah. Oleh sebab itu, mencari ilmu menjadi kewajiban setiap Muslim.

Keempat: Membulatkan niat dan memiliki himmah ‘aliyah (cita-cita tinggi) untuk berusaha memperbaiki perkataan dan perbuatan. Bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Menghidupkan bulan Ramadhan dengan amal shalih dan berpuasa dengan sebenar-benarnya.

 

Amalan Utama Bulan Ramadhan

Tentu sangat rugi jika kaum Muslim tidak menggunakan kesempatan ini untuk beramal kebaikan di dalamnya. Tampak bahwa amal-amal pilihan pada Bulan Ramadhan di antaranya adalah: puasa, membaca al-Quran, bersedekah, shalat malam, umrah, menghidupkan Lailatul Qadar, banyak berdoa dan banyak berzikir.

Dari amalan-amalan ini, puasa merupakan amal yang tidak dapat ditawar. Kewajiban ini harus dilaksanakan dan menjadi kewajiban paling istimewa untuk bulan ini. Bahkan puasa Ramadhan dapat menghapus dosa selama satu tahun sebelumnya. Luar biasa.

 

Al-Quran dan Ramadhan

Sebagaimana yang kita ketahui, ada empat bulan yang mulia (bulan haram) seperti disampaikan dalam firman Allah (QS at-Taubah [9]: 36) dan dijelaskan oleh Nabi saw.  di dalam sabdanya (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan yang lain). Di dalamnya beliau menyebut Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ramadhan tidak termasuk ke dalamnya. Lantas dimana posisi Ramadhan?

Jawabannya, Ramadhan dimuliakan oleh Allah karena al-Quran. Ramadhan mendapat keistimewaan sedemikian rupa dari Allah  SWT karena al-Quran. Allah SWT berfirman:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ

Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas dari petunjuk (tersebut) dan pembeda (antara haq dan bathil). Siapa saja dari kalian menjumpai bulan ini, hendaklah dia berpuasa pada (hari-hari)-nya (QS al-Baqarah [2]: 185).

 

Firman Allah “yang di dalamnya diturunkan al-Quran” jelas menunjukkan bahwa Ramadhan menjadi begitu istimewa karena al-Quran. Bulan ini pun identik dengan bulan al-Quran.

Oleh sebab itu, salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah ibadah yang berkaitan dengan al-Quran; membaca, memahami dan merenungkan al-Quran. Tentu di atas semua ini adalah mengamalkan al-Quran. Karena itu pula, hal yang paling tercela di bulan ini adalah meninggalkan al-Quran (hajr al-Qur’an); baik dengan tidak membaca dan mempelajari al-Quran, apalagi tidak mengamalkan al-Quran.

Di negeri ini, atas izin dan karunia Allah, banyak penghapal dan pengkaji al-Quran. Sebagian masyarakat cukup antusias untuk mengamalkan al-Quran dalam kehidupan pribadi mereka. Namun, sebagai sebuah umat, negeri ini masih jauh dari kata mengamalkan al-Quran. Yang ada justru al-Quran dimusuhi. Tentu bukan memusuhi fisiknya, namun hukum-hukumnya. Dituduh intoleran, sumber terorisme, radikal, ekstrim, bar-bar dan pemecah belah. Saat yang sama, hukum-hukum thaghut ditegakkan dan dihargamatikan. Padahal jelas tindakan tersebut merupakan kejahatan dan dosa besar, bahkan kekufuran yang nyata dan menantang Allah, Pencipta alam semesta!

Oleh karena itu, berjuang menegakkan kembali hukum-hukum al-Quran merupakan amalan yang paling utama pada bulan Ramadhan. Tidak mungkin menegakkan hukum-hukum al-Quran secara kaffah kecuali dengan menegakkan institusi negara penerapnya, yaitu Khilafah Islamiyah. Dengan demikian berjuang menegakkan Khilafah pada bulan Ramadhan ini pun menempati posisi yang sangat sentral dan urgen.

 

Akhir Ramadhan yang Sia-Sia

Tentu kita sangat berharap pada bulan Ramadhan ini kita benar-benar mendapat keutamaannya, mendapat ampunan dari Allah atas dosa-dosa kita selama satu tahun lalu. Saat yang sama, kita sangat khawatir jika Ramadhan kita akan sia-sia belaka. Nabi saw. bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Banyak orang berpuasa, namun tidak ada dia dapatkan kecuali lapar. Banyak orang shalat malam, namun tidak ada yang dia dapat kecuali begadang (HR Ibn Majah, Ahmad dan Ibn Khuzaimah)

 

Nabi saw. pun bersabda:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيه رَمَضَانُ فَانْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ له

Betapa merugi seseorang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berlalu sebelum dia diampuni (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

 

Karena itu, renungkanlah sabda Nabi saw. berikut:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَة وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

Shalat lima waktu, shalat Jumat hingga shalat Jumat berikutnya, dan Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya dapat menghapus dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya jika dosa-dosa besar ditinggalkan (HR Muslim dan Ahmad).

 

Di dalam hadis ini, jelas Nabi saw. mempersyaratkan bagi siapa yang menginginkan kebaikan Ramadhan dengan meninggalkan dosa-dosa besar! Artinya, siapa yang masih melakukan dosa besar, meski dia puasa Ramadhan, hal itu tidak akan berujung pada pengampunan dosa-dosanya. Na’udzu bilLah min dzalik.

Padahal, karena hukum Islam dimusuhi dan digantikan dengan hukum-hukum kufur, dosa-dosa besar menjadi sangat lumrah dilakukan oleh kebanyakan masyarakat; zina, minum khamer. Yang paling banyak serta nyaris tak disadari adalah riba karena sistem kufur ini memang telah menjadi riba sebagai basis ekonominya. Bahkan berhukum dengan hukum selain Islam merupakan induk segala dosa besar yang terjadi di negeri ini. WalLah al-Musta’an.

Rasulullah saw. juga bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ به فَلَيْسَ لله حَاجَة فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan yang melenceng dari kebenaran dan malah mengamalkannya, Allah tidak membutuhkan puasanya (HR Ahmad, al-Bukhari, Abu Dawud, Ibn Majah dan Tirmidzi).

 

Kata “qawl”, yang sering diterjemahkan “perkataan”, sebenarnya di dalam Bahasa Arab bermakna “keyakinan”, sebelum menjadi ucapan. Sebab, menurut aslinya, ucapan bersumber dari keyakinan. Lalu kata “az-zur” bermakna segala sesuatu yang melenceng dari haq (kebenaran). Dari sini, hadits di atas dapat kita artikan bahwa Allah tidak sudi menerima puasa kita jika kita masih berkeyakinan dan mengamalkan  apa yang melenceng dari kebenaran. Dusta adalah bagian dari az-zur. Demikian pula kesaksian yang batil. Demokrasi yang menyatakan bahwa manusia memilik hak menetapkan hukum adalah az-zur tingkat tinggi. Sekularisme yang menyatakan kehidupan tidak harus atau tidak boleh diatur dengan Islam adalah az-zur yang nyata. Artinya, sistem Kapitalisme-Demokrasi-Sekular adalah az-zur yang nyata.

Karena itu, jika kita masih berpegang pada Sekularisme, Demokrasi, Kapitalisme dan yang derivasinya, saat itu pula puasa kita terancam akan sia-sia belaka. Masihkah kita menghargamatikan sistem batil ini dan merelakan puasa kita tanpa makna!?

 

Kesimpulan

Kita tentu sangat membutuhkan rahmat dan ampunan Allah SWT. Allah SWT pun membuka seluas-luasnya pintu rahmat dan ampunan itu pada bulan Ramadhan. Namun, di hadapan kita ada sejumlah penghalang yang akan menghalangi kita masuk ke pintu tersebut. Penghalang terbesar itu adalah Sekularisme, Kapitalisme, Demokrasi dan sistem turunannya.

Oleh sebab itu, kita wajib meninggalkan semua itu agar kita dapat masuk ke pintu rahmat dan ampunan Allah SWT di bulan yang penuh dengan berkah ini. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua. Amin.

WalLahua’lam bi ash-shawab. [Utsman Zahid as-Sidany]

 

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

three × two =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password