Masihkah Kita Pesimis?

Tahun 2019 sudah berlalu. Banyak sekali alasan bagi kita, sebagai bagian dari umat Islam negeri ini maupun dunia, merasa pesimis pada tahun-tahun mendatang.

Secara kuantitatif, jumlah umat Islam di dunia memang sangatlah besar. Lebih dari 1,7 miliar. Meski begitu, umat Islam tampak sekali tak berdaya menghadapi segala bentuk makar yang menimpa mereka. Lihatlah keadaan umat di Palestina, Rohingnya, Suriah, Irak dan lainnya. Tak henti terus menderita. Di Uighur, jangankan uluran tangan, untuk sekadar dipercaya bahwa mereka benar-benar tengah menderita pun tidak. Negeri-negeri Muslim, termasuk negeri ini, lebih mempercayai keterangan pemerintah Cina ketimbang cerita orang Uighur sendiri. Bahkan di India, setelah UU tentang kewarganegaraan disahkan, eksistensi umat Islam di sana terancam karena Islam tidak diakui sebagai agama.

Di dalam negeri, keadaan umat juga tak kalah memprihatinkan. Tak berdaya menghadapi berbagai peraturan dan kebijakan penguasa yang merugikan umat. Perubahan kepemimpinan yang tahun lalu sangat diharap ternyata tak terjadi. Secara ekonomi, pada tahun mendatang, dipastikan beban kehidupan bakal makin berat karena sejumlah tarif akan naik, seperti listrik, BPJS dan lainnya akan naik.

Di sisi lain, meningkatnya keberislaman umat yang semestinya disyukuri, sekarang justru dicurigai. Cap radikal dengan mudah dilekatkan pada siapa saja yang tampak kokoh memegang prinsip Islam. Sebagian tokoh umat lalu dikriminalisasi dengan aneka tudingan. Ormasnya didikrisminasi bahkan dibubarkan.

Haruskah kita pesimis melihat itu semua?

++++

Berbagai tekanan memang terus mendera umat. Namun, seperti hukum alam, semakin besar umat ditekan, semakin besar pula semangat kebangkitan muncul di mana-mana. Secara demografis, jumlah umat Islam di dunia ternyata terus tumbuh. Bahkan untuk beberapa wilayah angkanya sangat mengesankan. Di Inggris, misalnya, pada tahun 1991 jumlah umat Islam di sana baru sekitar 950 ribuan, sekarang sudah sekitar 5 juta jiwa. Selain karena kelahiran dan imigrasi, juga dipicu oleh arus perpindahan agama. Berdasarkan Badan Sensus Inggris, setidaknya 6 ribu warga Inggris beralih memeluk Islam saban tahun. Di AS bahkan diperkirakan tiap tahun umat Islam di sana bertambah 100 ribu.

Terlepas dari alasan spesifik di setiap negara, situasi demografi Inggris sejalan dengan tren yang dicatat lembaga survei Pew Research Center yang berpusat di Washington, AS. Pew menyatakan umat Islam akan mencapai 34,9 persen dari total populasi dunia selepas 2070. Hal ini ditopang oleh pertambahan penduduk Muslim sebesar 2,2 persen saban tahun. Artinya, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, jumlah umat muslim diyakini akan melampaui penganut agama Kristen (Katolik dan Protestan) yang selama ini dominan.

Dari jumlah itu, terbesar bakal ada di India, melampaui Indonesia. Pew menyatakan apabila tidak ada perubahan berarti dari sisi demografi, diperkirakan pada 2050 India resmi menjadi negara penduduk Muslim terbanyak sejagat. Proyeksi peningkatan populasi penduduk Muslim mencapai 18,4 persen (setara 311 juta jiwa) hingga 2050 nanti, jauh lebih tinggi dibanding pemeluk agama lainnya. Saat ini, umat Islam di India baru berjumlah 177 juta jiwa. Hanya berselisih satu juta jiwa dari negara mayoritas Muslim terbesar kedua dunia, Pakistan.

Dari sisi ekonomi, potensi Dunia Islam juga sangatlah besar, baik yang disebabkan oleh besarnya sumberdaya alam maupun jumlah penduduk. Potensi ekonomi halal dunia juga terus meningkat seiring dengan bertumbuhnya perekonomian. Global State of Islam Economic memperkirakan, permintaan produk halal global tumbuh 9,5% tahun ini atau bertambah sekitar USD3,7 triliun dari sebelumnya sekitar total USD2,1 triliun.

Yang paling penting, meski terus menghadapi tekanan, dan tak henti dituding dengan aneka sebutan, kesadaran umat terus meningkat. Survai yang dibuat oleh Pew Research Center, bertajuk Dunia Muslim: Agama, Politik, dan Masyarakat sejak 2008 hingga 2012 dengan 38.000 responden di 39 negara di wilayah Afrika, Asia dan Eropa, hasilnya sangat menarik. Intinya, mayoritas Muslim di dunia ingin syariah Islam diterapkan di negara mereka. Dukungan paling sedikit di Nigeria dan Yordania. Itu pun sekitar 71 persen. Negara lain sedikit lebih tinggi. Thailand (72 persen), Kongo (74 persen). Bahkan banyak yang di atas 80 persen, seperti Djibouti (82 persen), Bangladesh (82 persen), Maroko (83 persen), Pakistan (84 persen), Malaysia (86 persen), Niger (86 persen) dan Palestina (89 persen). Irak yang tengah dilanda perang justru di atas 90 persen. Afganistan malah 99 persen. Indonesia sendiri 72 persen. Angka ini selaras dengan hasil survei lain seperti PPIM UIN Jakarta tahun 2003 lalu.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa bukan hanya di Indonesia, di banyak negeri Muslim, aspirasi untuk kembalinya syariah ternyata juga sangatlah besar. Di negeri ini terkonfirmasi oleh sejumlah hal, misalnya makin maraknya pemakaian jilbab dan kerudung di kalangan Muslimah. Dulu ketika fenomena ini pertama kali muncul pada tahun 80-an, banyak pihak menilai itu sekadar mode yang segera akan berganti dengan mode yang lain. Mereka kecele. Ternyata itu bukan mode, melainkan kesadaran. Karena itu alih-alih pemakaian jilbab itu berkurang, justru malah meningkat, termasuk di kalangan aparat TNI/Polri.

Lalu, meningkatnya jumlah jamaah haji dan umrah. Bahkan untuk haji, meski biayanya sangat mahal, lebih dari 20,000 USD, tetap saja diburu oleh mereka yang tak ingin lebih lama menunggu untuk segera menunaikan kewajiban.

Yang sangat fenomenal tentu saja adalah besarnya Aksi 212 dan rangkaian kegiatan sesudahnya. Aksi 212 lalu telah membuktikan bahwa umat bisa bersatu. Jutaan umat dari berbagai kelompok atau elemen hadir dengan semangat atau spirit dan tujuan yang sama: Bela Islam. Sebelum ini, orang selalu skeptis ketika berbicara tentang persatuan umat. Ternyata pesimisme itu salah. Umat bisa bersatu. Aksi 212 ini juga telah dengan gagah berhasil menunjukkan kekuatan dan keagungan umat Islam, juga memberikan isyarat sangat gamblang kepada siapapun untuk tidak bermain-main dengan umat Islam. Sudah sangat lama umat di negeri ini disepelekan, dilecehkan dan diabaikan. Aksi lalu menegaskan, semua itu tidak boleh lagi terjadi.

Inilah aksi yang membuktikan dahsyatnya kekuatan dorongan akidah Islam. Bila bukan karena dorongan akidah, mana mungkin umat segitu banyak dari berbagai daerah bisa serempak hadir di tempat itu, bahkan sejak tengah malam. Hadirnya Panji Rasulullah, ar-Rayah, bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid, yang dibentang-jalankan di atas kepala jutaan peserta telah memberikan warna khusus. Seolah menegaskan bahwa “Kami datang dengan dorongan tauhid. Kami disatukan oleh tauhid. Kami berjuang untuk tegaknya kalimah tauhid.

Fakta ini sangat menarik. Pasalnya, ternyata di tengah derasnya arus sekularisasi yang melanda negeri ini, mayoritas umat tetap kokoh memegang identitas mereka sebagai Muslim dengan tetap mendukung syariah, bahkan juga khilafah. Hal ini ditunjukkan oleh data survei terbaru yang dilakukan oleh Smarta Institute pada pertengahan 2019. Dari mereka yang telah mengenal istilah khilafah, terdapat 81 persen yang mendukung khilafah.

Umat menyadari bahwa kebaikan hanya ada pada Islam dengan syariahnya, bukan dalam sistem sekular yang telah nyata-tanya gagal membawa kebaikan. Kenyataan ini semestinya harus memberikan optimisme kepada kita akan hasil perjuangan, sekaligus   mendorong kita semua untuk lebih konsisten, sabar dan sungguh-sungguh dalam jalan perjuangan untuk tegaknya syariah secara kaffah. Bahwa masa depan itu masih ada, meski tekanan terus mendera.

Masihkah kita pesimis? [H. M. Ismail Yusanto]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

nineteen − five =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password