Dwi Condro, Ph.D.: Dunia Di Ambang Krisis Ekonomi

Pengantar:

Banyak yang memprediksi, dunia saat ini kembali memasuki masa krisis ekonomi. Pertanyannya: Mengapa dunia kembali di ambang krisis ekonomi? Apa faktor pemicunya? Apakah karena mewabahnya virus Corona? Ataukah ada faktor lainnya? Bagaimana denan Indonesia? Apakah kena imbasnya? Jika iya, apakah Indonesia mampu keluar dari krisis? Bagaimana pula solusi Islam mengatasi krisis ekonomi global seperti saat ini?

Beberapa pertanyaan itulah antara lain yang dijawab oleh pakar ekonomi Islam, Dwi Condro, Ph.D, dalam wawancara dengan Redaksi berikut ini.

 

Apakah saat ini dunia memasuki krisis ekonomi? Apa tanda-tandanya?

Ya. Dunia saat ini tengah memasuki masa krisis. Tanda-tandanya sudah sangat jelas. Untuk mengetahuinya, indikator-indikator ekonomi yang paling mudah untuk dijadikan penilaian adalah: anjloknya Index Harga Saham Gabungan (IHSG) di berbagai Pasar Saham dunia, menurunnya output ekonomi dunia (Gross World Product), naiknya index harga-harga dunia, termasuk semakin meningkatnya angka pengangguran.

 

Apa faktor penyebabnya?

Untuk kasus krisis ekonomi dunia saat ini, faktor penyebabnya dapat kita pilahkan menjadi dua. Pertama, faktor penyebab langsung, yaitu akibat terjadinya wabah virus Corona yang saat ini sedang melanda dunia. Adanya wabah virus ini telah memberikan andil yang sangat besar bagi lumpuhnya perekonomian dunia sehingga dunia tenggelam oleh krisis ekonomi.

Kedua, faktor tidak langsung. Faktor tidak langsung ini yang dimaksud adalah faktor yang berasal dari karakter sistem ekonomi kapitalisme itu sendiri. Karakter dari sistem ekonomi kapitalisme memang rentan terhadap terjadinya krisis. Dalam sistem ekonomi seperti ini, krisis ekonomi akan terjadi secara terus-menerus dan berulang, mengikuti gelombang konjungtur. Mengapa itu bisa terjadi? Sebab, pondasi sistem ekonomi kapitalisme itu memang dibangun dari struktur ekonomi yang semu, atau istilahnya adalah ekonomi sektor non-riil. Bukan ekonomi yang sesungguhnya, yaitu ekonomi sektor riil.

 

Bagaimana penjelasannya?

Pertumbuhan ekonomi yang dibangun oleh sistem ekonomi kapitalisme itu bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu: Pertama, sistem mata uangnya, yaitu uang kertas, yang hanya berbasis pada kepercayaan (trust), bukan pada nilai intrinsiknya. Kedua, sistem utang-piutang yang berbasis pada bunga (interest) yang bersifat tetap (fix rate). Sistem utang-piutang seperti ini diwujudkan pada sistem perbankannya. Ketiga, sistem investasinya yang berbasis pada perjudian (speculation). Sistem investasi model ini diwujudkan dengan jual-beli saham, sekuritas dan obligasi di sistem Pasar Modalnya.

Ketiga pilar ekonomi ini di satu sisi memang berperan dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain sebenarnya pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan adalah pertumbuhan ekonomi yang semu. Pertumbuhan ini ibarat balon udara yang cepat menggelembung (bubble economic), tetapi dalamnya kosong, tidak berisi, sehingga sangat rentan untuk meledak.

Pertumbuhan ekonomi kapitalisme adalah pertumbuhan ekonomi yang palsu, seperti fatamorgana. Sebabnya, pertumbuhan ekonomi yang terjadi hanya berputar-putar dari kertas uang, kertas utang dan kertas saham. Tidak banyak memberikan kontribusi yang besar pada ekonomi riilnya, kecuali hanya sedikit, dibanding dengan perputaran di sektor non-riilnya.

Nah, sistem ekonomi seperti ini, dengan hanya isu yang kecil saja, balon ekonomi ini bisa meledak sewaktu-waktu. Itulah sebabnya, sistem ekonomi kapitalisme akan senantiasa menjadi langganan krisis ekonomi demi krisis ekonomi. Apalagi jika dilanda oleh isu yang besar seperti wabah virus Corona yang terjadi seperti sekarang ini.

 

Apa yang terjadi jika krisis ini terus berlanjut?

Secara sunnatullah, jika krisis ini terus berlangsung maka negara-negara yang paling lemah secara ekonomi dan sumberdaya alamlah yang akan menjadi korban paling awal. Selanjutnya akan merembet ke negara yang lebih kuat, lebih kuat dan seterusnya.

 

Bagaimana prediksi tata dunia baru pasca krisis?

Jika tidak ada dorongan arus perubahan baru, maka tata dunia tidak akan banyak mengalami perubahan. Sebagaimana yang telah saya sampaikan tadi, sistem ekonomi kapitalisme memang memiliki karakter untuk mengalami krisis secara periodik, berulang, mengikuti gelombang konjungtur. Jika sistem ekonomi ini mengalami krisis, maka sistem ini akan memiliki kemampuan untuk memulihkan diri. Sebabnya, polanya selalu begitu. Ada saatnya pertumbuhan ekonomi kapitalisme itu membumbung naik. Fase selanjutnya akan mengalami penurunan, bahkan bisa terjadi krisis. Namun, berikutnya ekonominya bisa pulih kembali dan naik lagi pertumbuhannya. Begitu lagi seterusnya.

 

Apakah Indonesia akan terdampak langsung?

Indonesia secara struktur ekonomi memang termasuk negara yang lemah. Paling tidak dapat dilihat dari struktur industrinya yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Jika ekonomi dunia mengalami krisis, maka Indonesia tentu akan terdampak langsung oleh krisis tersebut. Akibat yang akan terjadi, tidak akan jauh berbeda dengan krisis moneter tahun 1997 – 1998 yang lalu.

 

Siapa saja yang akan terkena imbasnya?

Sebagaimana krisis moneter yang pernah terjadi tahun 1997 – 1998 yang lalu, masyarakat yang paling rentan terkena dampak krisis adalah kelompok masyarakat yang tidak memiliki basis sumberdaya alam yang kuat. Mereka adalah yang hanya bertumpu pada kekayaan finansial yang berupa simpanan uang kertas. Jika nilai rupiah jatuh maka mereka akan langsung merasakan dampaknya.

Hal itu berbeda dengan masyarakat pedesaan, yang hidupnya banyak bergantung pada sumberdaya alam. Jika krisis ekonomi melanda maka dampak yang mereka rasakan tidak seberat sebagaimana yang dialami oleh masyarakat perkotaan.

 

Masyarakat kecil sering menyaksikan bahwa harga-harga naik, namun tidak merasa bahwa itu adalah krisis ekonomi. Mengpa seperti itu?

Penyebabnya tentu saja ada banyak faktor. Mungkin saja karena mereka tidak paham dengan situasi yang terjadi, karena memang tidak paham dengan ilmu ekonomi. Mungkin karena memang daya belinya lemah. Mungkin juga karena hidupnya banyak ditopang oleh kekuatan sumberdaya alam tadi sehingga tidak banyak melakukan transaksi jual-beli.

 

Apakah Indonesia bisa mampu keluar dari krisis ekonomi?

Jika meilhat pengalaman krisis moneter tahun 1997 – 1998 yang lalu, kemampuan suatu negara untuk bisa keluar dari krisis ternyata sangat dipengaruhi oleh kapabilitas para pemimpin negaranya. Jika pemimpin negaranya kurang kapabel, tentu akan sangat lambat untuk bisa keluar dari krisis ekonomi.

 

Bagaimana prediksi kondisi Indonesia baru pasca krisis?

Kemungkinannya ada dua. Pertama, proses pemulihan krisis yang akan dialami Indonesia tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pasca krisis moneter tahun 1997 – 1998 yang lalu. Artinya, Indonesia tidak banyak mengalami perubahan, kecuali hanya perubahan yang bersifat parsial saja, bukan perubahan yang bersifat sistemik.

Kedua, kemungkinan ada keinginan yang kuat dari rakyat Indonesia untuk berubah dengan perubahan yang lebih sistemik.

 

Bagaimana solusi Islam mencegah krisis ekonomi?

Islam memiliki solusi yang bersifat sistemik untuk menghadapi krisis, yang kita kenal dengan sistem ekonomi Islam. Tidak hanya parsial. Dalam Sistem Ekonomi Islam, telah ditunjukkan bahwa dalam mengatur ekonomi itu harus diawali dengan menata pembagian kepemilikan ekonomi secara benar. Pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam itu ada tiga, yaitu: kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

Pembagian kepemilikan ini sangat penting agar tidak terjadi hegemoni ekonomi, yaitu hegemoni dari pihak yang kuat, menindas pihak yang lemah. Hegemoni itu dapat terjadi, di antaranya adalah disebabkan oleh terjadinya pencaplokan sektor kepemilikan umum (misalnya), oleh pihak yang tidak semestinya. Seperti pencaplokan kepemilikan umum oleh pihak swasta, baik swasta dalam negeri maupun luar negeri. Contohnya, seperti pencaplokan sektor tambang, gas, minyak bumi, kehutanan, sumberdaya air, jalan umum, pelabuhan laut, bandara dan sebagainya oleh pihak swasta, sehingga ekonomi mereka menjadi kuat, menggurita dan selanjutnya akan menghegemoni.

Selanjutnya, jika pembagian kepemilikan ini sudah tegas dan benar, Sistem Ekonomi Islam akan mengatur bagaimana pembangunan dan pengembangan ekonomi yang benar, yaitu harus bertumpu pada pembangunan sektor ekonomi riil dan bukan sektor ekonomi non riil. Dengan itu insya Allah krisis demi krisis ekonomi tidak akan terjadi lagi.

Pilar terakhir dari ekonomi Islam adalah distribusi harta kekayaan oleh individu, masyarakat, maupun negara. Adanya pilar ekonomi ini, insya Allah ekonomi Islam akan menjamin bahwa seluruh rakyat Indonesia akan terpenuhi semua kebutuhan asasinya (primer). Sistem Ekonomi Islam juga menjamin bagi seluruh rakyatnya untuk dapat meraih pemenuhan kebutuhan sekunder, maupun tersiernya. Paling tidak itulah gambaran globalnya.

WalLahu a’lam. []

 

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

13 − 12 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password