Pandangan Akhirat

Jika kamu memandang dunia dengan timbangan-timbangan akhirat, ketika itu kamu akan mendapatkan kenyataan bahwa semua perhiasan dunia yang menjakjubkan dan mempesona tidaklah layak kamu tukar dengan kebahagiaan abadi yang kita semua tunggu.

Di atas adalah petikan nasihat Orhan kepada Murod. Orhan adalah anak lelaki Osman, cucu Sulaiman Syah, pemimpin Kabilah Qayi, yang menjadi cikal-bakal Kekhilafahan Utsmani. Utsman atau Osman sendiri adalah anak lelaki Ertugrul. Ia berperanan penting dalam perjuangan menghadapi dua kekuatan besar saat itu: Byzantium dari arah matahari tenggelam dan kekuatan Mongol dari arah matahari terbit. Melalui tangan Ertugrul dan Sulaiman Syah lahir pemimpin-pemimpin hebat seperti Osman, Orhan dan Murad. Kelak anak keturunan mereka melahirkan Muhammad al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, dan pelanjut kejayaan era Kekhilafahan hingga runtuh pada 1924.

Salah satu karakter menonjol dari kabilah ini adalah teguhnya memegang nilai-nilai keimanan kepada Allah SWT,  ketaatan penuh pada syariah dan keberanian dalam perjuangan dan jihad. Itu semua bisa kokoh tertanam di kalangan mereka. Ada satu hal yang selalu ditanamkan kepada anak kerurunan mereka, yakni untuk selalu mengorientasikan kehidupannya pada akhirat dan memandang dunia dengan kacamata akhirat, seperti nasihat Orhan kepada putranya, Murod, di atas.

++++

Memang sangat penting untuk kita selalu memandang dunia dengan kacamata atau pandangan akhirat. Kata Nabi saw., dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, sesungguhnya dunia akan pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat pasti akan datang. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anak. Karena itu, kata Nabi saw., hendaklah kita menjadi anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sebabnya, hari ini adalah hari amal, bukan hisab; sedangkan kelak adalah hari hisab, bukan amal.

Apa saja pengaruhnya jika kita selalu menggunakan kacamata akhirat? Pertama: Dengan kacamata akhirat, disadari benar, bahwa hidup di dunia itu sementara, yang abadi itu di akhirat (darul qarar). Kata Nabi saw. yang tersebut dalam hadis riwayat Imam at-Tirmidzi,  kehidupan dunia tak ubahnya bagaikan seorang musafir, istirahat sebentar di bawah pohon, kemudian berlalu meninggalkan pohon itu. Sesingkat itulah hidup kita di dunia. Jika dibandingkan dengan waktu yang bakal dijalani nanti di akhirat, akan terasa  lebih singkat lagi. Menurut Allah SWT dalam QS al-Hajj ayat 47, satu hari di akhirat  bagaikan 1000 tahun dalam perhitungan manusia. Diandaikan kita hidup 100 tahun, sepersepuluh dari 1000 tahun, maka itu tak lebih dari 2,4 jam atau sepersepuluh dari 24 jam, di akhirat nanti.

Kedua: Akhirat harus menjadi menjadi arah dan pusat orientasi hidup kita di dunia, sebagaimana Allah minta dalam QS al-Qashash ayat 77. Di situ Allah SWT memerintahkan kita untuk mencari apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita di negeri akhirat, tetapi jangan lupakan kehidupan dunia, karena faktanya saat ini kita hidup di dunia.

Perhatikan bagaimana nasihat Rasulullah saw., sebagaimana disebut dalam hadis riwayat Imam Bukhari, agar kita hidup di dunia itu bagaikan orang asing (gharib[un]) atau seorang musafir (‘abirus sabiil). Menarik menyimak penjelasan Imam Nawawi atas hadis  ini. Katanya,  kita harus menjadi seperti orang asing, karena tempat asal kita bukanlah di dunia, tetapi di surga. Bukankah moyang kita, Nabi Adam as., asalnya adalah surga? Karena itulah kita disebut abirus sabiil atau orang yang dalam perjalanan menuju asal kita: Surga.

Ketiga: Nikmat apapun yang ada di dunia juga tak sebanding dengan nikmat yang bakal diterima di akhirat nanti. Dalam hadits riwayat Muslim, Nabi saw. menyatakan, nikmat dunia jika dibandingkan dengan nikmat akhirat tak lebih seperti ketika seseorang mencelupkan jarinya ke dalam lautan, lalu perhatikan yang tersisa di jari itu. Itulah nikmat dunia. Sebaliknya, samudera seisinya, itulah nikmat akhirat.

Orang yang paling kaya di muka bumi ini hari, konon adalah Elon Musk. Kekayaannya mencapai Rp 3.890 trilliun. Andai kita memiliki uang sebanyak itu, tetap saja tak lebih dari air yang menetes dari jemari kita tadi. Apalagi faktanya, kita tak punya harta sebanyak itu. Karena itu rugi besar siapa saja yang mengorbankan yang abadi untuk yang sangat sementara dan yang mengorbankan yang banyak untuk yang sangat sedikit. Sudahlah sedikit, sementara pula.

Keempat: Dengan kacamata akhirat, kita akan makin menyadari bahwa pintu menuju akhirat tak lain adalah kematian. Kematian adalah sebuah kepastian. Ia akan tiba, kapanpun – di manapun. Oleh karena itu, orang yang menggunakan kacamata akhirat akan selalu menjaga iman dan takwanya di manapun dan kapanpun berada. Ia takut melakukan maksiat karena  khawatir saat maksiat, ajal tiba-tiba datang. Kata Nabi saw. dalam hadis riwayat Ibnu Majah, orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling sungguh-sungguh menyiapkan diri menyongsong kematian agar husnul khaathimah.

Ketika tiba di akhirat, semua akan dimintai pertanggung jawaban. Tidak ada lagi kesempatan untuk menambah kebaikan, atau memperbaiki kesalahan. Semua orang akan menyesal, kecuali yang benar-benar beriman dan beramal shalih.

Kelima: Orang yang menggunakan kacamata akhirat akan lebih memiliki keberanian dalam membela kehormatan diri, keluarga, harta dan jiwa serta dalam menjalankan kewajiban agama, khususnya  dakwah memperjuangkan risalah Islam. Tidak takut pada risiko dari perjuangan itu, termasuk  jika sampai mengancam jiwanya, karena yakin akan qadhaa’ Allah terkait ajal dan kematian. Jika pun karena itu ia harus mati, maka itu adalah kematian yang mulia. Kemuliaannya disetarakan dengan syahidnya Sayidina Hamzah ra., pahlawan Perang Uhud.

Keenam: Orang yang selalu menggunakan kacamata akhirat akan memanfaatkan hidup di dunia dengan sebaik-baiknya, untuk bertakwa kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya. Selalu ingat nasihat Nabi saw. dalam hadis riwayat al-Hakim, untuk memanfaatkan masa muda sebelum datang masa tua, masa sehat sebelum datang waktu sakit, masa kaya sebelum datang masa kefakiran, masa luang sebelum datang masa sibuk, dan memanfaatkan masa hidup di dunia yang sesaat ini sebelum datang kematian. Ketika kematian tiba, tak ada lagi kesempatan kedua untuk berbuat taat dan menghindari maksiat.

Ketujuh: Orang yang menggunakan kacamata akhirat tak ingin menyesal seperti sesalnya orang-orang yang tersebut dalam al-Quran. Orang kafir menyesal, lebih baik menjadi tanah dari pada menjadi manusia tapi kafir. Sebaliknya, yang sudah beriman juga menyesal mengapa tidak banyak beramal shalih. Bahkan, seperti disebut dalam QS al-Munafiqun ayat 10, ada orang yang meminta kepada Allah SWT penundaan kematian barang sebentar untuk bersedekah dan menjadi orang yang shalih.

Kedelapan: Orang yang menggunakan kacamata akhirat dengan cepat menyadari kesalahan dan bersegera bertobat. Ia khawatir ajal segera tiba dan tak ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika untuk menyucikan diri harus melalui hukuman, ia akan terima dengan senang hati, seperti kisah seorang wanita yang berzina pada masa Nabi saw. dalam hadis riwayat Imam Muslim. Ia amat menyesal, lalu bertobat, dan datang kepada Rasulullah saw. untuk minta dirajam. Namun, hukuman tidak langsung bisa dilakukan karena ia sedang hamil. Setelah melahirkan, ia datang kepada Rasulullah lagi, tetapi Rasul meminta dia untuk menggenapi susuannya. Akhirnya, hukuman dilaksanakan. Saat menshalatkan jenazahnya, Umar bin al-Khaththab ra. mempersoalkannya karena ia wanita pezina, Rasulullah saw. kemudian menyatakan, bahwa ia telah bertobat dengan suatu tobat yang seandainya dibagi pada tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya masih cukup. Apakah ada orang yang lebih utama dari seorang yang telah menyerahkan dirinya kepada hukum Allah?

Kesembilan: Orang yang menggunakan kacamata akhirat akan selalu berdoa, seperti tersebut dalam QS Yusuf ayat 101, agar diwafatkan dalam keadaan Islam dan digabungkan bersama orang-orang shalih. [H.M. Ismail Yusanto]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

7 − 6 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password