Sabar Berjuang, Pantang Mundur Kebelakang

Kesabaran itu ada batasnya. Benarkah? Sebagian orang tampak terkelabui. Lalu menjustifikasi ketidaksabaran dengan khurafat beracun ini. Pertanyaan baliknya, “Adakah manusia yang bisa bersabar ditempa siksa Jahanam karena menolak kewajiban bersabar ketika di dunia?” Tentu tidak. Padahal jelas, tatkala Allah SWT memerintahkan setiap insan untuk bersabar, maka mafhûm-nya, kesabaran tak bisa dibatasi pengakuan manusia, melainkan wajib dilaksanakan sepanjang hayat sesuai syariah hingga tiba masanya manusia menutup mata. Allah SWT berfirman:

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Sungguh yang demikian adalah berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (QS al-Baqarah [2]: 45).

 

Syaikh ’Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah dalam At-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr (hlm. 78) menjelaskan, “Allah memerintahkan dalam ayat ini untuk mencari pertolongan (Allah) dengan bersabar ketika menghadapi ujian yang melanda. Dengan itu seseorang tetap kokoh di atas jalan kebenaran. Berbagai musibah tidak melemahkan dia. Berbagai rintangan pun tak memalingkan dirinya.”

Ini sejalan dengan seruan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar (QS al-Baqarah [2]: 153).

 

Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah, saat menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa kesabaran itu tergambar dalam upaya menyampaikan dan mengamalkan kebenaran serta mampu menghadapi cobaan di jalan Allah SWT. Berhasil menjalani itu semua berdasarkan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya, tanpa ada penyimpangan, dan sikap lemah menghadapi itu semua (lihat pula: QS al-Baqarah [2]: 249; QS al-Anfal [8]:  46).

Bukankah dalam ayat ini terdapat informasi tegas (mu’akkad), bahwa Allah SWT menyertai orang-orang yang sabar? Diawali adanya perintah (insyâ’î) untuk meraih pertolongan Allah melalui sifat sabar, menjadi petunjuk tegas (qarînah jâzimah) bahwa bersabar itu wajib, bagian dari tuntutan dan tuntunan syariah itu sendiri, dan menjadi sarana menjemput pertolongan Allah (nashrullâh).

Lantas bagaimana bisa dikatakan kesabaran itu ada batasnya dibatasi kemauan manusia? Kesabaran itu sendiri mencakup: (1) Kesabaran dalam menegakkan ketaatan; (2) Kesabaran dalam menahan diri dari keburukan; (3) Kesabaran dalam menghadapi ujian dari Allah SWT.

Benarlah sebagian hukama yang berkata:

لَوْلَا حَوَادِثَ الأيام لَمْ يُعْرَفْ * صَبْرُ الكِرَامِ وَلَا جَرْعَ اللِّئَامِ

Kalaulah tiada bencana-bencana hari, tak kan diketahui kesabaran orang-orang mulia, tidak pula kegundahan orang-orang nista.

 

Sabar: Raih Semangat dan Pahala Tanpa Batas

Allah SWT jelas menyandingkan keteguhan berdakwah dengan kesabaran itu sendiri dalam firman-Nya:

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

…kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran (QS al-‘Ashr [103]: 3).

 

Ini menunjukkan bahwa kesabaran merupakan penyokong sikap teguh di jalan dakwah. Sabar mencakup keteguhan menapaki titian metode dakwah Rasulullah saw. Tak terpalingkan oleh arus pragmatisme dari mereka yang tidak paham, tersesat jalan, sekaligus sabar menghadapi berbagai rintangan di jalan perjuangan. Ini sebagai pengejawantahan firman-Nya:

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥

Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan (QS al-Anbiyâ’ [21]: 35).

 

Ibn Abbas ra., dinukil dalam Tanwîr al-Miqbâs (hlm. 271), berkata, “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan (asy-syiddah) dan kemakmuran (al-rakhâ’).” Yang dimaksud nablûkum adalah nakhtabirukum (kami menguji kalian).

Bukan berjuang sendiri, melainkan berjamaah. Ini ditunjukkan oleh lafal perintah tawâshawu dengan subjek jamak, yang menunjukkan interaksi dua sisi dengan wazn tafâ’ala. Ahmad bin al-Amin al-Syanqiti (w. 1331 H) dalam Al-Wasît fî Tarâjim Udabâ’i Syinqît (hlm. 150) menuturkan:

وتواصوْا بالحقّ والصبرِ وابْغوا * في العَفاف الغِنى على كل حال

Saling berwasiatlah dalam kebenaran dan kesabaran; carilah dalam kesederhanaan itu kelapangan dalam segala keadaan.

 

Bahkan dikatakan dalam Dîwân al-Imam al-Syafi’i (w. 204 H):

صَبْراً جَمِيلاً ما أقربَ الفَرَجَا*

من رَاقَبَ الله فِي الأمورِ نَجَا

منْ صدق الله لم ينلهُ أذى*

ومن رجَاهُ يكونُ حيثُ رَجَا

Bersabarlah dengan sebaik-baiknya, lebih mendekatkan kepada kelapangan. Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dalam berbagai persoalan akan meraih keberhasilan.

Siapa saja yang membenarkan Allah, siksa Neraka takkan menyentuh dirinya. Siapa saja yang berharap kepada Allah, Dia ada di manapun ia berharap.

 

Menariknya, mereka yang bersabar akan Allah cukupkan dengan pahala sangat besar:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

Sungguh hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS az-Zumar [39]: 10).

 

Teladan Salaf

Kesabaran pun tampak jelas dalam teladan generasi salaf, menghiasi lisan dan perbuatan mereka. Rasulullah saw. memerintahkan keluarga Yasir bersabar di atas Islam hingga ajal menjemput ditempa siksaan kaum kuffar Quraysyi ketika itu:

صَبْرًا يا آل ياسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّة

Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sungguh tempat kembali kalian adalah surga (HR al-Hakim dan at-Thabarani).

 

Perintah agung Rasulullah saw. untuk bersabar (ditandai dengan lafal shabr[an] yang termasuk shiyagh al-amr [al-mashdar al-nâ’ib ’an fi’l al-amr]), diikuti khabar ganjaran agung berupa surgaNya, mengisyaratkan bahwa kesabaran menjadi jembatan setiap hamba meraih keridhaan-Nya.

Bukan sepotong kisah ini saja. Umat yang agung ini pun besar dengan kisah-kisah kesabaran yang nyata. Bukan dongeng kepahlawanan semata. Mereka inilah yang disitir Allah dalam firman-Nya:

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيّٖ قَٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٞ فَمَا وَهَنُواْ لِمَآ أَصَابَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا ٱسۡتَكَانُواْۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ

Berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar (QS Ali ’Imran [3]: 146).

 

Prof. Dr. Muhammad Ali al-Shabuni dalam Shafwat at-Tafâsîr (hlm. 212) menjelaskan, yakni betapa banyak para nabi yang berjihad meninggikan kalimat Allah. Para ulama rabbani dan ahli ibadah yang shalih pun berjuang membersamai para nabi ini. Lalu di antara mereka mendapati kematian yang dinantikan (syahid). Namun, tempaan kematian dan luka-luka tidaklah mengendorkan semangat mereka, melemahkan tekad di dada. Tidak pula membuat mereka tunduk dan melemah di hadapan musuh hingga meraih predikat walLâhu yuhibbu ash-shâbirûn (Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bersabar).

Alhasil, dengan sikap sabar: Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. Sekali berjuang pantang mundur ke belakang.

WaLlâhu a’lam bi ash-shawâb. [Irfan Abu Naveed, M.Pd.I; (Peneliti Balaghah al-Quran dan Hadits Nabawi)]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

9 − seven =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password