Ketidakadilan Pangkal Kebinasaan

Rupanya rasa keadilan itu sulit diperoleh di negeri zamrud khatulistiwa ini,” Pak Roni dalam chat-nya ke saya.

Kalimat itu bukan hanya saya dengar dari beliau.  Sudah banyak terdengar ungkapan itu keluar dari mulut publik di Indonesia. Tidak sedikit fenomena ini terjadi.  Sekadar contoh, pada akhir Maret 2020 terdapat 30 ribu tahanan dibebaskan.  Alasannya, “Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran lebih masif di wilayah lapas,”  begitu menurut Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Kebijakan pembebasan 30 ribu ini diputuskan oleh Menteri dan tertuang dalam Keputusan Menteri Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020.  Sebaliknya, ulama, aktivis Islam dan tokoh yang dianggap kritis terhadap Pemerintah justru dipenjarakan setelah Kempen itu keluar.  Sebut saja, Ustadz Ali Baharsyah, Gus Nur, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat dan Ustadzah Kingkin Anida.  Anehnya, justru di antara mereka seperti Gus Nur, Jumhur Hidayat dan Ustadzah Kingkin dikabarkan positif Covid-19 saat ditahan.  “Ini ketidakadilan.  Kezaliman.  Dengan alasan Covid-19 30 ribu orang dibebaskan, sementara aktivis Islam justru terpapar virus tersebut di tahanan,” ujar Mas Rosyid.

Pada 10 November 2020, Habib Rizieq Syihab (HRS) pulang dari Kota Suci Makkah al-Mukarramah.  Umat datang ribuan.  Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, datang ke kediaman HRS.  Akibat kerumunan massa itu, HRS dijatuhi sanksi denda Rp 50 juta oleh Pemda DKI karena dianggap melanggar aturan Pergub tentang Covid.  HRS pun mematuhinya.  Gubernur Anies dipanggil pihak Kepolisian.

Diperiksa selama 10 jam.  Pada 16 Nopember 2020, beredar surat panggilan klarifikasi dari Polda Metro Jaya kepada kiai kharismatik, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i.  Ada pengaduan terhadap putra macan podium dari Betawi ini terkait dugaan terjadinya peristiwa tindak pidana dengan tidak mematuhi Kekarantinaan Kesehatan yang dilakukan pada Sabtu 14 Nopember 2020. Kegiatan kumpul-kumpul dipermasalahkan.  Di sini lagi-lagi ketidakadilan terjadi.

“Ada 270 pendaftaran Pilkada di seluruh Indonesia. Itu rata-rata, boleh dikatakan dalam pengamatan saya, melanggar tuh protokol kesehatan, pada waktu pendaftarannya,” ujar pakar komunikasi Effendi Gazali (17/11/2020).

Termasuk yang dilakukan putra Presiden yang menjadi calon walikota di Solo.  Namun, lanjutnya, “Ada gak yang diperiksa? Walikotanya? Gubernurnya? Atau bahkan ada tindakan gak terhadap Kapoldanya, dan lain-lain?”

Pakar Hukum Tata Negara pun berbicara.  Prof. Suteki menyimpulkan, “Kasus dugaan pelanggaran prokes di Solo, atau tempat lain yang menggelar Pilkada ini, dapat dipakai sebagai gambaran betapa telah terjadi kesulitan penerapan prokes bahkan inkonsistensi dan diskriminasi penegakan hukum.”  Rasa keadilan ambyar.

“Mengapa kalau yang melakukan ulama atau aktivis Islam yang melawan kezaliman rezim ditindak, sementara kalau pada yang pro rezim tidak?”  ungkap Pak Roni lagi.

Memang, tampak jelas sikap standar ganda itu.  Belum lama ini, beredar luas video kliwonan Habib Luthfi bin Yahya pada 16 Oktober 2020 lalu.  Beliau adalah anggota Wantimpres.  Yang hadir tampak ribuan orang. Tak terlihat jaga jarak dan pakai masker dalam acara itu.  Namun, tak dipersoalkan.  Pojoksatu.id (17/11/2020) menyajikan berita, “Kliwonan Habib Luthfi dihadiri ribuan orang, tak jaga jarak, tak pakai masker, tak disoal polisi.”

Berkaitan dengan fenomena ini, Tony Rosyid menyampaikan, “Pemimpin sejati bukanlah orang yang hanya bisa tegas kepada lawan, tetapi lembek di depan kawan. Seseorang yang belum bisa bersikap adil kepada kawan dan lawan, dia bukan pemimpin, tetapi orang yang sedang berkuasa.” (16/11/2020).

Itulah pemandangan yang dapat disaksikan oleh siapa pun.

Saat ketidakadilan terjadi, jalan tak pernah lurus. Coba kita bayangkan apabila setir mobil kita berat ke kiri.  Setiap mobil berjalan, akan membelok ke kiri.  Tak akan pernah lurus.  Tidak dapat sampai tujuan.   Apa yang terjadi apabila tubuh kita tidak setimbang?  Tidak ajeg.  Miring ke kanan.  Ya, jalan tak akan tenang. Tak bisa tenteram. Tak dapat lurus ke hadapan.  Hal yang sama akan terjadi jika timbangan tidak adil, berat sebelah.  Pasti salah satu pihak, penjual atau pembeli, salah satunya ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan.  Transaksi pun lama kelamaan akan berhenti.  Tak akan berlanjut.  Bisnis hancur.  Peristiwa itu sangat kasatmata.  Begitu pun ketidakadilan dalam berbagai hal akan berakhir dengan kehancuran.

Al-Quran menyebutkan (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan (TQS Al-Maidah: 8).

Adil itu dekat dengan takwa.  Berarti, ketidakadilan itu jauh dari takwa.  Padahal ketakwaan itu kunci datangnya keberkahan. Tanpa takwa tidak akan hadir keberkahan.  “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka (TQS al-A’raf [7]: 96).”

Jadi, rumusnya sangat sederhana: Adil dekat dengan takwa. Takwa menghadirkan keberkahan dari langit dan bumi.  Bila dipahami sebaliknya: Ketidakadilan jauh dari takwa. Ketidaktakwaan berujung pada tidak adanya keberkahan. Na’udzu billahi min dzalika.

Lima belas abad yang silam, Rasulullah Muhammad saw. telah mengingatkan tentang salah satu pemantik kebinasaan kaum terdahulu. Dalam salah satu khuthbahnya beliau bersabda: “Orang-orang sebelum kalian menjadi binasa karena saat ada orang dari kalangan terhormat (pejabat, penguasa, elit masyarakat) mencuri, mereka membiarkannya dan saat ada orang dari kalangan rendah (masyarakat rendahan, rakyat biasa) mencuri, mereka menegakkan sanksi hukuman atasnya. Demi Allah, andai Fathimah binti Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya.” (HR al-Bukhari).

Terang sekali, ketidakadilan hukum melahirkan kebinasaan. Siapa pun di antara kita yang mereguk nikmat di atas ketidakadilan sama saja dengan meridhai, menikmati dan menghendaki kebinasaan semua kita.

WalLahu a’lam. [Muhammad Rahmat Kurnia]

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

one × four =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password