Pemerintah Afganistan di Balik Penyerbuan Universitas Kabul?

Tiga pria bersenjata menyerbu Universitas Kabul, menewaskan 22 warga sipil dan melukai lebih dari 40 lainnya, Senin, (2/11/2020) sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Delapan belas orang yang tewas adalah mahasiswa dan satu adalah karyawan universitas.

Menurut laporan media, kelompok yang disebut Negara Islam (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, dua hari kemudian, sebuah video yang dirilis oleh ISIS tampaknya membantah keterlibatannya dalam insiden itu dan menyalahkan Taliban atas serangan tersebut. Pemerintah Afganistan secara resmi mengklaim bahwa penyerangan itu dilakukan oleh Taliban. Namun, Taliban membantah keterlibatan mereka dalam serangan itu.

Di sisi lain, pasukan AS dan NATO telah tinggal dengan aman dari segala jenis serangan bersenjata dan perang di Afganistan setelah kesepakatan damai AS-Taliban.

Menurut aktivis Hizbut Tahrir Saifullah Mustanir, ketika negosiasi Intra-Afganistan untuk perdamaian telah dimulai, perang antara pasukan Pemerintah dan Taliban telah meningkat ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan masjid, lembaga pendidikan dan universitas menjadi sasaran keji di Kota Kabul dalam beberapa hari terakhir.

Faktanya, beber Saifullah, meskipun selama 20 tahun pendudukan dan gelombang perang yang intens di Afganistan, tidak ada serangan brutal yang dilakukan terhadap institusi pendidikan, terutama universitas.

“Jika melihat sikap kontradiktif dari sektor militer dan intelijen, serta pernyataan abu-abu para penguasa, kompleksitas dan misteri penyerangan tersebut, juga bukti-bukti yang tersisa dari peristiwa-peristiwa tersebut, jelas tersirat bahwa mereka yang diyakini akan kehilangan kekuasaannya saat ini, atau mereka yang akan dituntut untuk diadili, dan atau mereka yang pada akhirnya akan diasingkan sebagai akibat dari penyelesaian damai, tampaknya yang berada di balik kengerian tersebut,” prediksi Saifullah.

Selain itu, pementasan dan eksploitasi politik dari insiden oleh Pemerintah Afganistan, seperti: poster yang dipasang waktu malam di dinding kampus dan melancarkan demonstrasi yang menyerukan boikot perundingan Doha, jelas menunjukkan bahwa satu-satunya pihak yang diuntungkan dari hal tersebut adalah Pemerintah Afganistan. “Oleh karena itu, keterlibatan aparat keamanan dan intelijen dalam insiden semacam itu tidak dapat disangkal lagi,” tegasnya.

Menurut Saifulllah, perilaku jahat para murid Machiavelli—yang sangat bertekad untuk menggunakan segala jenis tipudaya dan sumberdaya hanya untuk mempertahankan kekuasaan, kekayaan, ketenaran dan kepentingan mereka—menunjukkan bahwa para penguasa sekular ini dan badan intelijennya berada di balik insiden tersebut. Mereka sengaja merancang insiden tersebut menjadi sepenuhnya misterius untuk menggambarkan gambaran Pemerintah sebagai malaikat penyelamat bagi opini publik.

Di sisi lain, para penguasa ini mencoba untuk mengomunikasikan kepada tuan Barat mereka bahwa penarikan pasukan pendudukan akan menyebabkan lebih banyak teror, yang dilakukan oleh Taliban di Afganistan. “Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa Pemerintah dan aparat intelijennya telah bersekongkol untuk menjaga dan mempertahankan hidup serta menyabotase dan menghentikan perundingan damai yang sedang berlangsung,” kata Saifullah.

Selain itu, Saifullah menyebut, sebagian besar yang tewas dalam penyerangan Universitas Kabul adalah mahasiswi. Padahal pada masa lalu, martabat perempuan relatif dilindungi selama kondisi perang di Afganistan. Sebagian besar warga Afganistan—tidak termasuk pasukan pendudukan—biasanya menghormati martabat perempuan selama perang. Namun, para penguasa diktator yang tengah berkuasa telah melampaui semua batas ajaran agama, sosial budaya, dan nilai-nilai rakyat Muslim Afganistan.

 

 

0 Comments

Leave a Comment

sixteen + 8 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password