Kemenangan

Kita semua pasti menginginkan kemenangan. Tak ada manusia yang mengharap kekalahan. Kemenangan adalah kebahagiaan, kebanggaan dan kehormatan. Sebaliknya, kekalahan adalah kesedihan, penderitaan dan kenistaan. Oleh karena itu, wajar jika banyak orang lantas memburu kemenangan: kemenangan politik saat kekuasaan dapat diraih, kemenangan bisnis keuntungan besar bisa didapat atau kemenangan-kemenangan lain. Karena ingin meraih kemenangan, kadang tak lagi peduli terhadap etika, cara dan sarana. Pokoknya menang.

Sebenarnya, kemenangan seperti apa yang harus diperjuangkan? Adakah kemenangan yang hakiki yang selayaknya harus terus diusahakan. Dengan cara seperti apa kemenangan itu mesti diraih?

++++

Dalam al-Quran, Allah SWT menunjukkan dengan sangat jelas kepada kita, ada kemenangan sejati yang harus benar-benar diusahakan, yakni ketika kelak di akhirat bisa menjadi bagian dari penghuni surga. Mereka itulah yang disebut Allah memperoleh kemenangan (faiz[un]).

Surga adalah sebaik-baik tempat kembali (ni’mal masir). Para penghuni surga akan hidup kekal abadi di sana dengan segala kenikmatan yang luar biasa, yang tak tertandingi oleh nikmat apapun di dunia. Bila dibandingkan, menurut Rasulullah saw. sebagaimana disebut dalam hadis shahih riwayat Muslim, seluruh nikmat dunia tak lebih bagai air yang menempel di ujung jari selepas dicelup ke dalam samudera. Sebaliknya, nikmat surga bagai samudera dan isinya.

Inilah kemenangan hakiki. Inilah kemenangan yang bakal menghindarkan kita dari penderitaan dan kehinaan yang abadi: neraka. Neraka  adalah seburuk-buruk tempat kembali (bi’tsal masir). Di dalamnya segala penderitaan yang tak terperikan bakal dialami. Yang paling ringan, kepada para penghuni neraka dipakaikan terompah dari api nereka, dan itu cukup membuat otak mereka mendidih. Apatah lagi yang lebih berat dari itu.

Dengan kasih sayangnya, dalam QS ash-Shaf ayat 10, Allah kemudian menunjukkan suatu tijarah (perniagaan atau kegiatan) yang dikatakan dapat menyelamatkan kita semua dari azab yang pedih di seburuk-buruk tempat kembali itu. Tijarah apa? Dalam ayat 11 pada surah yang sama, Allah menyebutkan tijarah yang dimaksud, yakni: mengimani Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kita.

Lalu apa yang bakal kita dapat dari tijarah itu? Allah menyebutkan dalam ayat 12, bahwa dengan tijarah itu Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, serta memasukkan kita ke dalam surga dan tempat tinggal yang baik di sana. Allah menyebut itu semua sebagai kemenangan yang agung (fawzul ‘azhim). Orang yang kelak masuk surga seperti itu disebut juga di dalam QS al-Buruj ayat 11, sebagai mendapat kemenangan yang besar (fawzul kabir).

Sangat jelas, kemenangan yang besar ini hanya mungkin didapat melalui keimanan yang kokoh kepada Allah serta ketaatan yang sempurna  kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Ini pula yang ditegaskan Allah dalam QS an-Nur ayat 52. Dinyatakan bahwa siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah yang mendapatkan kemenangan.

Jika itu semua bakal didapat di akhirat nanti, lantas apa yang didapat di dunia? Bisakah didapat aneka kemenangan seperti yang juga diinginkan oleh orang-orang pada umumnya? Iya, bisa. Allah menyatakan hal itu dalam QS ash-Shaf ayat 13. Dinyatakan bahwa selain bakal mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, siapa saja yang melakukan tijarah tersebut, juga akan mendapat hasil lain yang disukai dan diinginkan, yakni pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Kemenangan di dunia. Itulah yang didapat oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat, juga para khalifah sesudahnya. Dengan  kemenangan itu mereka berhasil mewujudkan peradaban Islam yang agung. Di dalamnya diterapkan syariah secara kaffah sehingga memberikan kerahmatan kepada semua,  berbilang abad lamanya pada masa lalu.

Dari sini menjadi jelas bahwa kemenangan hakiki di akhiratlah yang harus menjadi pusat orientasi perjuangan kita. Adapun kemenangan di dunia harus diraih sebagai bagian dari usaha kita meraih kemenangan di akhirat nanti. Artinya, usaha apapun dalam meraih kemenangan di dunia ini tidak boleh menyimpangkan kita, apalagi menjauhkan dan menghilangkan peluang kita mendapatkan kemenangan di akhirat nanti, karena sehebat apapun kemenangan di dunia, setinggi apapun kekuasaan diraih, sebanyak apapun keuntungan didapat, seluas apapun wilayah dikuasai, semua itu adalah kemenangan yang bersifat sementara. Tidak selama-lamanya. Semua akan binasa.

Lihatlah, sekuat apapun Fir’aun akhirnya kekuasaannya berakhir di dasar samudera. Begitu juga Namrudz, Hitler, Mussolini, Lenin, Stalin, dan lainnya. Orde Baru yang sempat 32 tahun kokoh berkuasa, Khaddafi yang berkuasa 42 tahun, juga akhirnya tumbang.  Qarun yang hartanya melimpah luar biasa akhirnya juga binasa.

Jelas sebuah kerugian amat besar jika semua kemenangan semu di dunia itu menjauhkan kita dari kemenangan yang hakiki yang semestinya diraih di akhirat. Itu sama artinya kita mengorbankan yang sangat besar untuk perkara yang sangat kecil. Mengorbankan yang sangat banyak untuk yang sangat sedikit. Mengorbankan yang abadi untuk hal yang sangat sementara.

++++

Di dalam QS al-Hasyr ayat 20 disebutkan bahwa tidaklah sama antara penghuni neraka dan penghuni surga. Kapan ketidaksamaan itu bakal terjadi? Tentu nanti setiba di akhirat nanti, karena surga memang berbeda dengan neraka.

Apakah hanya di akhirat perbedaan itu akan terlihat? Tidak. Perbedaan itu pasti sudah terlihat sejak sekarang, di dunia ini. Mengapa? Karena tidak mungkin produk yang berbeda lahir dari proses yang sama. Ibarat ada dua jenis pisang: goreng dan rebus, pasti karena yang satu digoreng dan satunya lagi direbus. Tidak mungkin keduanya sama-sama digoreng atau sama-sama direbus.

Artinya, apa yang dilakukan dalam kehidupan di dunia guna meraih kemenangan hakiki di akhirat nanti pastilah berbeda dengan apa yang dilakukan oleh mereka yang hanya sekadar ingin meraih kemenangan semu. Apa saja berbedaannya? Pertama, dari sisi visi dan misinya. Semua ikhtiar guna meraih kemenangan di dunia, baik kemenangan politik, ekonomi maupun yang lain, dilakukan dalam kerangka meraih ridha Allah dan pahala-Nya. Hanya dengan cara ini, kemenangan di dunia akan melancarkan jalan bagi capaian kemenangan hakiki di akhirat. Dengan kata lain, kemenangan di dunia haruslah demi tegaknya agama Allah.

Kedua, usaha untuk meraih kemenangan hakiki dilakukan dengan landasan iman dan takwa kepada Allah, dengan memperhatikan halal dan haram serta segenap ketentuan-ketentuan-Nya sebagai tolok ukurnya. Oleh karena itu, tidak boleh menghalalkan segala cara. The end does not justify the means.

Ketiga, wujud nyata dari kemenangan yang diraih di dunia adalah kemenangan risalah Allah. Kemenangan Islam. Tegaknya syariah secara kaffah. Terwujudnya izzul Islam wal muslimin. Bukan yang lain. Wujud kemenangan yang lain pasti tidak sesuai dengan prinsip pertama dan kedua sehingga tidak akan bisa menghantarkan kepada kemenangan hakiki di akhirat nanti.

Jadi, jika kemenangan di dunia justru digunakan untuk menghalangi tegaknya risalah Islam, memusuhi para pejuangnya, mengkriminalisasi ajarannya, maka pasti kemenangan seperti ini bakal menjerumuskan mereka yang saat ini berkuasa ke seburuk-buruk tempat kembali (neraka).  Terbayang oleh kita, bakal seperti apa keadannya nanti, sudahlah kemenangan itu didapat dengan cara curang, digunakan pula untuk menghalangi tegaknya agama Allah. Na.udzubilLah min dzalik. [H. M. Ismail Yusanto]

 

0 Comments

Leave a Comment

7 − 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password