Di Balik Rencana AS Menarik Diri Dari Afghanistan

Presiden Amerika Joe Biden hari Rabu (14/4) mengumumkan rencananya menarik sisa pasukan Amerika dari Afghanistan. Penarikan mundur pasukan itu akan dimulai – bukan akan berakhir – pada 1 Mei, yang merupakan tenggat bagi penarikan penuh seluruh pasukan berdasarkan perjanjian perdamaian antara pemerintah Trump dengan Taliban tahun lalu.

Biden menggarisbawahi bahwa pemerintahnya akan tetap mendukung perundingan perdamaian antara pemerintah Afghanistan dan Taliban, serta membantu upaya internasional untuk melatih militer Afghanistan. (Voaindonesia.com, 15/4/2021).

 

Antara Siasat dan Kegelisahan Pemerintah AS

Washington telah mengumumkan tanggal penarikan baru pada Mei tahun 2021. Sangat mungkin bahwa tanggal itu tidak akan terpenuhi lagi. Alasan Amerika yang berulang mengubah tanggal keluarnya adalah karena negara itu sibuk dengan gerakan perlawanan Afghanistan yang ganas dan tidak dapat melepaskan diri dari Afghanistan setelah 20 tahun pertempuran.

Pengumuman Biden disampaikan di tengah-tengah indikasi yang begitu telanjang tentang kegagalan pasukan AS dalam mengokohkan rezim penguasa yang loyal kepadanya di Afghanistan, juga kegagalannya dalam menyelesaikan pertempuran militer yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Pernyataan Biden ini mencerminkan kegelisahan pemerintah AS dan pasukan internasional akan kemungkinan jatuhnya korban sipil, terutama setelah peristiwa-peristiwa berdarah masa lalu yang telah menimbulkan banyak kegaduhan, serta tegangnya hubungan antara Washington dengan Islamabad dan Kabul. Perlu diketahui bahwa pasukan Amerika telah menyebabkan banyak jatuhnya korban di antara warga sipil dengan dalih memburu orang-orang Taliban.

Hal ini diasumsikan bahwa ketika kekuatan-kekuatan itu mulai ditarik secara langsung tanpa ada sesuatu yang mengancam keamanan Afghanistan. Hal ini mengharuskan pasukan militer Afghanistan siap untuk mengambil alih tanggung jawab. Sayang, realitas yang terjadi di Afghanistan sangat jauh dari yang diharapkan.

Rencana Biden bukan kali pertamanya dalam sejarah yang mengeksploitasi nyawa orang sebagai bahan bakar untuk imperialisme yang dirancang oleh Amerika Serikat. Apa yang kita lihat, pemerintah Barat berusaha membuat gambaran yang elok atas gambaran yang buruk dan jahat. Ini adalah cara yang sama, yang mereka lakukan, yaitu menjadikan korban seolah-olah adalah agresornya.

Ini berarti bahwa mereka kelompok perlawanan yang berjuang untuk kebebasan dan nilai-nilai mereka dengan kerja keras, dibuat seolah-olah mereka adalah teroris. Cara ini sungguh sangat berbahaya. Pendudukan ini harus diakhiri. Apalagi rakyat Afghanistan sama sekali tidak meminta bantuan Amerika.

Afghanistan saat ini membutuhkan kedaulatan nasional, independensi dan pengurangan serangan ke warga sipil. Oleh karena itu, Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, berulang menuntut pengokohan militer dan polisi negara ini. Dengan cara ini, pasukan keamanan Afghanistan dapat mengendalikan keamanan negara ini tanpa intervensi pihak asing. Tuntutan Ghani itu mengacu pada penarikan mundur pasukan asing dalam waktu secepatnya.

Pada dasarnya, tentara AS dan NATO tetap ingin bercokol di Afghanistan. Untuk itu, pasukan-pasukan pendudukan ini mencari kambing hitam untuk dijadikan alasan untuk tetap menjajah Afghanistan. Sejak 20 tahun lalu, Afghanistan sudah dijajah. Kondisi di negara ini semakin semrawut. AS yang menjadi penjajah utama di negara tersebut sudah semestinya menjadi penanggung jawab atas kondisi yang ada. AS saat ini benar-benar kewalahan di Afghanistan. Dalam kondisi terjepit seperti ini, AS seperti biasanya melempar batu sembunyi tangan.

 

Muslihat di Balik Retorika

Harapan Biden agar Pemerintah Afghanistan lebih besar lagi memikul tanggung jawab terkait pengurangan peran pasukan pendudukan hanyalah sebuah fantasi kosong. Sebabnya, Pemerintah Afghanistan ini adalah pemerintahan boneka. Semua keputusannya bersandar pada keinginan dan kemauan majikannya. Bahkan secara umum keberadaan Pemerintah Afghanistan bergantung pada pasukan pendudukan. Pemerintahan Rezim Ghani ini tegak dan jatuhnya bergantung pada ada-tidaknya pendudukan Amerika.

Dengan demikian, tidak ada yang bisa menyelamatkannya, jika hari ini AS meningkatkan jumlah pasukannya maupun dengan melipatgandakan dana yang justru akan memunculkan banyak koruptor. Sebabnya sangat jelas, bahwa kekuasaannya tidak lahir dari keinginan dan kehendak umat, dan tidak berasal dari rakyat Afghanistan, melainkan dari pasukan pendudukan. Pemerintah Afghanistan pun terdiri dari para koruptor yang tidak lain adalah para sampah rakyat Afghanistan. Jadi, mereka itu adalah gerombolan orang yang bersekongkol dengan musuh untuk menghancurkan negerinya. Oleh karena itu tidak mungkin bisa meraih kesuksesan dengan orang-orang kotor dan sampah seperti mereka ini.

Pasukan pendudukan di Afghanistan, yang dipimpin oleh Amerika benar-benar dalam kesulitan. Sebaliknya, berbagai serangan dari perlawanan gerakan Islam Taliban kemungkinan semakin meningkat.

 

Hubungan Antara Budak dan Tuan

Rezim Afghanistan telah mengandalkan dukungan luar negeri, bukan dukungan dalam negeri, yaitu dukungan umat, sebab mereka telah mencuri kekuasaan dari umat melalui penjajah. Kemudian mereka membiarkan penjajah menjarah kekayaan umat sebagai balasan dukungannya. Selanjutnya menghubungkan masa depannya dengan masa depan penjajah, dengan mengikuti semua kehendaknya demi mempertahankan kekuasaan. Oleh karena itu, Ghani menyatakan kebahagiaannya saat tuannya, AS, secara militer hadir ke kawasan tersebut, dengan mengatakan, “Pemerintah kami mendukung upaya AS untuk memastikan perdamaian di Afghanistan. Pemerintah menggarisbawahi bahwa kepala negara asing tidak dapat menentukan nasib negara kami tanpa kehadiran kepemimpinan Afghanistan.”

Dengan demikian, keberadaan pangkalan militer asing, Amerika, Inggris atau lainnya adalah bukti adanya kolonialisme dan konfliknya di sebuah Negara. Ini merupakan titik awal untuk memerangi gerakan umat yang menginginkan kemerdekaan. Keberadaannya merupakan ancaman bagi entitas umat dan masa depannya. Untuk itu, keberadaannya harus dibersihkan dari akarnya, yaitu dengan membersihkan rezim-rezim boneka yang mengizinkan keberadaannya, dan menggulingkan para antek yang termasuk jenis kaum munafik. Mereka ini loyal kepada orang-orang kafir dengan berbagai alasan fiktif yang terbiasa mereka rekayasa sejak zaman Rasulullah saw. Allah SWT telah menjelaskan kepada kami tentang sepak-terjang mereka dalam al-Quran al-Karim, yang merupakan sumber pemikiran, politik dan perundang-undangan.

 

Apa Arti Semua Ini?

Biden, para politisi AS, para pejabat militer dan NATO menafsirkan “kelompok teroris” sebagai pembenaran dan alasan atas perang mereka. Namun, kadang-kadang mereka juga mengungkapkan tujuan jahat mereka. Sebelumnya, AS berulang menuduh para pejabat Rusia menyediakan senjata kepada Taliban. Tuduhan ini selalu ditolak oleh Rusia meskipun Rusia tidak pernah menolak hubungan politiknya dengan Taliban.

Dengan demikian, “kelompok-kelompok militan” adalah pembenaran dan alasan yang mereka buat. Dalam kenyataannya, AS dan NATO berdiri berdampingan untuk mencegah munculnya negara yang sesungguhnya bagi umat Islam di wilayah tersebut, dengan kepungan China dan Rusia, serta menjarah sumberdaya Afghanistan dan negara-negara Asia Tengah lainnya.

Untuk melanjutkan keberadaan militer dan politik mereka di wilayah ini, mereka berusaha untuk mengangkat dan membantu kelompok-kelompok oposisi bersenjata yang dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Scott Miller, mantan komandan Misi Resolute di Afghanistan, pernah menyatakan pembunuhan terhadap seorang tentara AS yang juga melukai seorang lain sebagai ‘tragedi’ yang menyatakan bahwa para tentara ini telah datang ke Afghanistan untuk melindungi negara mereka. Kalimat “melindungi negara mereka” adalah pembenaran palsu yang mereka buat. Mereka ingin menyesatkan negara-negara Amerika dan Barat. Padahal pada kenyataannya, para tentara itu datang ke Afghanistan untuk melanjutkan pendudukan dan penjajahan atas negara-negara Asia Tengah.

 

Penutup

Setiap hari berlalu, semakin banyak informasi yang terungkap tentang ketidakadilan yang dilakukan oleh pasukan tentara imperialis di Afghanistan. Dari mulai pasukan NATO yang memutilasi pejuang Taliban hingga membuang air kencing di atas mayat pasukan Taliban yang tewas. Sifat barbar pasukan tentara salib ini adalah akar kesombongan mereka dan kegagalan untuk memahami budaya dan kebiasaan penduduk pribumi. Kekuatan-kekuatan besar adalah tangan-tangan lama yang mempercantik rezim-rezim antek di Afghanistan untuk menjaga agar minyak tetap mengalir baik dengan cara hard power maupun soft power.

Inilah yang semakin membuat rakyat Afghanistan marah. Mereka tidak pernah bisa mendapatkan harapan mereka seperti perdamaian, keamanan, kemakmuran, keadilan dan pembebasan negara masih dalam bayang-bayang teror dan pendudukan yang terus berlangsung. Oleh karena itu, semua oposisi bersenjata dan oposisi politik dari sistem Amerika di Afghanistan yang mengkaitkan diri mereka dengan Islam dan kaum Muslim harus memahami bahwa mereka tidak dapat mengatasi pendudukan dan kolonialisme Barat hanya dengan berperang dan menerapkan kebijakan-kebijakan pragmatis. Mereka harus meningkatkan kesadaran politik mereka berdasarkan Islam.

Mereka harus bersatu dan memikirkan secara mendalam dan intelektual dalam memahami solusi Islam ideologis sebagai pilihan bagi kebijakan pragmatis. Pertama: Mereka harus meninggalkan perjanjian strategis dan keamanan dengan AS dan NATO. Lalu dengan menggunakan sumberdaya umat Islam, mereka harus berjuang melawan pendudukan dan kolonialisme untuk mengusir musuh dan mengangkat khalifah yang sesungguhnya bersama-sama dengan kaum Muslim di wilayah itu yang semata-mata berdasarkan ideologi Islam, yaitu al-Quran dan Sunnah. [Umar Syarifudin ; Pengamat Politik Internasional]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

sixteen − ten =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password