Oportunis

Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh roda  Islam terus berputar. Karena itu hendaklah kalian berputar bersama Kitabullah kemanapun ia berputar. Ketahuilah, sungguh al-Quran akan berpisah dengan kekuasaan. Janganlah kalian memisahkan diri dari al-Quran. Ketahuilah, sungguh akan datang kepada kalian para penguasa yang memutuskan perkara untuk kepentingan diri mereka sendiri. Tidak memutuskannya untuk kepentingan kalian. Jika kalian tidak menaati mereka, niscaya mereka akan membunuh kalian. Namun, jika kalian menaati mereka, niscaya mereka akan menyesatkan kalian.”

Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang harus kami lakukan?”

Beliau menjawab, “Lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh para pengikut setia Nabi Isa bin Maryam. Mereka digergaji dengan gergaji besi dan disalib di atas sebatang kayu. Mati di atas ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan kepada-Nya.” (HR ath-Thabarani).

++++

Oprtunis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oportunisme adalah paham yang semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu. Orang yang menganut paham ini disebut oportunis. Sama seperti  Machiavelli yang paling banyak dikecam karena mengajarkan amoralisme dalam berpolitik. Oportunisme juga dianggap sebagai paham yang buruk karena mengabaikan konsistensi pada prinsip. Namun kenyataannya, dua-duanya saat ini justru paling banyak dipraktikkan.

Pembaca pasti tahu, di negeri ini ada satu politikus yang boleh disebut sebagai contoh terbaik dari seorang oportunis sejati. Awalnya dia adalah bagian dari partai kuning. Anteng dia di situ sekian lama sepanjang partai itu berkuasa. Lalu ketika angin kekuasaan berubah, partai biru naik ke tampuk kekuasaan, tak segan ia campakkan si kuning. Pindah ke biru.  Selama tak kurang dari 10 tahun ia menjadi pembela paling gigih penguasa biru. Pokoknya, di mata dia, penguasa biru ini paling hebat.

Setiakah ia terus di situ? Tidak. Lagi, ketika angin kekuasaan berubah, dari biru ke partai merah, sama seperti kepada si kuning, ia campakkan si biru. Pindah ke merah.

Bagi dia, persis seperti adagium politik oportunis. Tiada kawan atau lawan yang abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Kepentingan tertinggi dalam berpolitik tak lain adalah siapa mendapat apa dan kapan. Bagi dia politik tak lebih dari the art of getting power (seni untuk mendapatkan kekuasaan). Tak penting bersama siapa. Mungkin bersama setan sekalipun tak masalah. Asal kekuasaan bisa didapat.

Memang, tiap manusia pasti memiliki kepentingan. Dari yang paling sederhana, bagaimana bisa makan hingga yang paling esensial, menyangkut prinsip dan keyakinan. Hanya saja, kepentingan seperti apa yang layak atau semestinya diperjuangkan, ini yang akan membedakan manusia satu dengan yang lain.

Bagi seorang oportunis, nilai (value), prinsip, termasuk ideologi, tak lebih seperti baju. Demi kepentingan politik, setiap saat bisa dipertukarkan. Tidak ada harga mati. Bagi dia, nilai tertinggi, tak lain adalah pragmatisme politik itu.

Hadis riwayat ath-Thabarani di atas menjelaskan, jika boleh kita menjadi seorang opotunis, jadilah oportunis yang benar. Juga, bila kita punya kepentingan, letakkanlah kepentingan tertinggimu juga di tempat yang benar. Apa itu?  Islam. Jadikanlah Islam itu kepentinganmu paling besar. Manfaatkan setiap kesempatan atau peluang (opportunity) yang engkau punya sebesar-besar untuk Islam. Di mana pun, kapan pun, untuk Islam.

Bagaimana realisasinya? Kata Nabi saw., roda Islam akan terus terus berputar. Pastikanlah kita selalu berputar bersama Islam. Bersama Kitab Allah kemana pun ia berputar. Ketika al-Quran dan kekuasaan berpisah, pesan Nabi saw., tetaplah bersama Kitabullah. Apapun risikonya. Meski harus menerima penderitaan seperti yang dialami para pengikut Nabi Isa ibnu Maryam. Mereka digergaji dengan gergaji besi dan disalib di atas sebatang kayu.

Penguasa yang telah berpisah dari Kitabullah pasti akan mengambil keputusan berdasar hawa nafsunya demi kepentingan kekuasaannya. Bila cara seperti ini diikuti, kata Nabi saw., pasti akan menyesatkan, karena mereka mengambil keputusan tidak berdasar pada prinsip kebenaran. Hal itu pasti akan mencelakakan semua.

Hadis ini menjelaskan bahwa kekuasaan sering kali membenci  Kitab Allah, Dienullah dan syariah-Nya. Pasalnya, kepentingan politik penguasa tak selamanya selaras dengan dengan Kitab Allah. Ketika bertabrakan, para penguasa itu juga tidak mau mengikuti nasihat pengikut kebenaran untuk berpegang teguh pada Kitabullah, sebab itu akan menghambat tercapainya kepentingan mereka. Tak mau dihalangi, para penguasa itu kemudian menindas dan memberikan tekanan hebat kepada para pengikut kebenaran.

Demikianlah, akan selalu terjadi, dari dulu, kini hingga nanti,  pertarungan di antara dua kutub: Kutub dien dan syariah Allah di bawah panji Kitabullah berhadapan dengan  kutub manhaj setan, penguasa yang batil di bawah panji-panji jahiliah dengan beragam nama. Menghadapi situasi seperti itu, Nabi saw. berpesan untuk tetap setia di kubu kebenaran, karena mati di atas ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan kepadaNya.

++++

Menarik memperhatikan nasihat Syaikh Hasan Umar dari GIMF (The Global Islamic Media Front). Katanya, diperlukan sebuah kelompok pemberani, yang mempersembahkan pengorbanan dan tidak menyelewengkan dien Islam hanya karena ingin menyenangkan penguasa, meraih manfaat-manfaat duniawi, kedudukan dan jabatan yang tidak langgeng. Kelompok ini menyerupai keadaan generasi Sahabat ketika mereka pertama kali mengemban dien Islam ini hingga akhirnya sampai kepada kita dalam keadaan jaya, menang dan panjinya berkibar tinggi.

Mereka, para Sahabat itu, adalah orang-orang yang asing, sebagaimana disebut dalam hadis riwayat Muslim. “Islam bermula dalam keadaan asing dan kelak ia akan kembali asing sebagaimana keadaan pada awal kemunculannya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Mereka juga adalah orang yang tak henti memperbaiki manusia di tengah kerusakan.

Nabi saw. juga menggambarkan, para pejuang di era penguasa berpisah dari Kitabullah  bakal menghadapi situasi serba sulit. Mereka yang terus bersabar bersama al-haq, tak tergiur sedikitpun untuk menjadi oportunis, meninggalkan dienul haq, seperti para penggenggam bara api. Terus dipegang mencelakakan diri. Jika dilepas, dien yang sangat berharga ini akan hilang. Keaadan mereka seperti disebut oleh Nabi saw. dalam hadis riwayat Tirmidzi, “Akan datang kepada manusia suatu zaman yang pada saat itu orang yang bersabar dalam menggenggam teguh agama Islam bagaikan orang yang menggenggam bara api. Bagi orang-orang yang beramal dengan sunahku pada masa tersebut pahala amalan lima puluh orang di antara kalian.” (HR at-Tirmidzi).

Membaca nasihat Rasulullah saw. ini menjadi jelas di mana kita semestinya berada di tengah kezaliman yang terus menimpa Islam dan umatnya. Jangan ragu. Tetaplah kokoh bersama Islam. Bukan yang lain. Inilah jalan yang akan menyelamatkan hidup kita di Dunia hingga di Akhirat nanti. Insya Allah. [H.M. Ismail Yusanto]

 

0 Comments

Leave a Comment

1 × three =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password