Amerika Vs Cina, Dimana Posisi Dunia Islam?

Satu dekade terakhir dalam politik Internasional diwarnai oleh rivalitas antara Amerika Serikat dan Cina. Selama lebih dari dua dekade Amerika tidak tersaingi secara pengaruh global. Setiap tindakannya diikuti oleh negara lain. Namun, munculnya China membuat Amerika Serikat mulai khawatir bahwa dominasinya mulai berkurang. Lalu negara-negara lain secara bertahap lebih memilih Cina.

Kawasan Indo-pasifik merupakan kawasan yang menjadi medan persaingan dua negara besar ini. Cina terlihat agresif di kawasan ini dengan proyek belt and route initiative (BRI)-nya melalui kerjasama perdagangan dan investasi dengan berbagai negara di kawasan ini. Cina juga meningkatkan aktivitasnya di Laut Cina Selatan yang dia klaim sebagai wilayah kedaulatannya melalui kegiatan militer, penelitian dan penangkapan ikan. Cina pun terus meningkatkan kekuatan persenjataannya. Sekarang Cina menjadi negara dengan belanja militer terbesar kedua setelah Amerika Serikat.

Meningkatnya kekuatan Cina dan sikap politiknya di kawasan Indo-Pasifik bagi Amerika Serikat merupakan ancaman terhadap kepentingannya di kawasan. Sebabnya, bagi AS kawasan ini adalah mitra investasi, perdagangan strategis dan keamanan. Tahun 2018, misalnya, AS mengklaim dari nilai perdagangan antara AS dan negara di Indo-pasifik menyumbang 3 juta lapangan kerja untuk masyarakat AS. Di Kawasan laut Cina selatan, tahun 2016, sekitar 6% dari total perdagangan AS diangkut melalui jalur ini. Sebanyak 90% impor minyak untuk Cina, Jepang dan Korea Selatan juga harus melalui laut Cina selatan1.

Pada saat Cina menguasai laut Cina selatan, negara ini bisa menguasai aktivitas penangkapan ikan dan eksplorasi gas dengan jumlah yang sangat besar. Cina juga dapat melakukan intimidasi atau tekanan-tekanan politik bagi negara-negara yang berbatasan dengan laut Cina selatan (LCS). Cina juga dapat menjadikan wilayah LCS sebagai zona pertahanan udaranya; melakukan blokade terhadap Taiwan, Korea dan Jepang dan menjadi titik tolak proyeksi politik dan militer global.

Penguasaan Cina terhadap LCS bagi AS akan mempersulit AS untuk melindungi sekutu-sekutunya di Asia Timur; akan mempersulit proses perdagangan AS di wilayah Asia Tenggara dan Timur; juga akan menghambat jalur transportasi militer AS dari wilayah pasifik ke Samudera Hindia. Secara otomatis, bagi AS, jika Cina tidak segera dibendung maka akan membuat AS kehilangan posisi strategisnya di wilayah Indo-pasifik, termasuk ancaman terhadap posisi secara global.2

Dalam menghadapi ancaman Cina, Amerika Serikat telah merancang strategi politiknya sebagaimana yang tertuang dalam dokumen Dewan Keamanan Nasional AS:

  1. Memperkuat bantuan AS kepada negara-negara sahabat, melakukan pendekatan terhadap publik negara-negara tersebut untuk menyaingi upaya Cina.
  2. Memperkuat kerjasama dengan negara-negara mitra strategis seperti Jepang, Korea dan Australia, seperti melalui quadrilateral security framework.
  3. Memperkuat aliansi dengan Filipina dan Thailand demi mendukung peran aktif negara-negara ini di Kawasan melalui bantuan pembangunan dan pertahanan, serta pelatihan-pelatihan.
  4. Meningkatkan kepemimpinan AS dalam bidang keamanan non-tradisional di wilayah Indo Pasifik seperti bantuan kemanusiaan, bencana dan kesehatan.
  5. Melakukan counter terhadap sikap Cina dalam perdagangan global yang bersikap tidak adil serta menciptakan opini global mengenai perdagangan Cina yang tidak adil dan merusak.3

 

Untuk mengimplementasikan strategi kebijakan di atas, AS telah melakukan berbagai upaya antara lain:

Dalam aspek kerjasama non-militer, sejak deklarasi Donald Trump tahun 2017 terkait visi Indo Pasifik yang terbuka dan bebas (U.S. vision for a free and open Indo-Pacific), AS memulai proyek bantuan pembangunan infrastruktur, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi melalui energi dan konektivitas digital dan kerjasama keamanan siber. USAID melaporkan pada tahun 2018 kerjasama antar negara-negara Indo Pasifik dan AS meningkat pesat dengan ribuan proyek baru. Kerjasama tersebut mencakup negara Vietnam, Indonesia, Jepang, Sri Lanka dan Myanmar.4

Tahun 2021, dalam Forum Indo-Pacific Business, AS memperluas bantuan ke negara-negara Asia Selatan seperti Bangladesh, Bhutan, India, the Maldives, Nepal and Sri Lanka. Kemudian di negara Asia Tenggara mencakup Indonesia, Filipina, Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam. Negara-negara di Pasifik seperti Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Vanuatu. Jumlah komitmen bantuan adalah sekitar 286 juta dolar.5

Sejak tahun 2019, melalui Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat, USINDOPACOM, AS telah menempatkan sekitar 2000 pesawat tempur, 200 kapal perang dan kapal selam, dan lebih dari 370 ribu pasukan beserta para awak yang difungsikan terkait kepentingan militer AS di Kawasan Indo-Pasifik. Konsentrasi terbesar untuk penempatan militer itu berada di Jepang dan Korea Selatan. Dalam skala yang lebih kecil, militer AS juga berada di Filipina, Australia, Singapura dan Diego Garcia. 6

AS dan mitra strategisnya di kawasan membentuk forum dialog yang disebut dengan the Quadrilateral Security Dialogue dengan Australia, India dan Jepang. Forum ini dibentuk tahun 2004 untuk merespon dampak Tsunami. Namun, forum ini berkembang saat ini sebagai forum dialog untuk isu-isu strategis dalam bidang keamanan, ekonomi dan kesehatan; khususnya untuk membendung pengaruh Cina di Kawasan. Pada November 2020, aliansi ini menggelar latihan perang bersama di Malabar menggunakan peralatan perang laut dan udara (Department of Defence Ministers, 2020). Bukan hanya kerjasama militer, Quad ini juga memperkuat kerjasama di bidang vaksin untuk membendung upaya politik vaksin Cina di kawasan maupun global melalui bantuan keuangan Jepang dan AS untuk peningkatan produksi vaksin Covid 19 di India dan bantuan distribusi dari Australia di Kawasan7 (Paskal, 2021).

Pada 11 November 2021, AS, Inggris dan Australia mengumumkan kesepakatan trilateral untuk kerjasama pertukaran informasi penggerak nuklir angkatan laut dalam rangka memperkuat pertahanan bersama yang disebut AUKUS. Dalam kesepakatan ini, Australia akan mendapatkan kapal selam canggih bertenaga nuklir. Kesepakatan ini sempat membuat Prancis kesal karena Australia memutuskan sepihak kontrak kapal selam antara kedua negara. Di kawasan Asia Tenggara, yang terlihat skeptis adalah Malaysia dan Indonesia; sementara Singapura, Vietnam dan Filipina menyambut baik kesepakatan ini.

Selain peningkatan kerjasama, beberapa tahun terakhir  Blok AS dan Blok Cina juga melakukan show of force melalui latihan-latihan tempur di Kawasan laut Cina Selatan. Seperti kerjasama AS dan Indonesia dalam Latihan militer yang melibatkan 4000 tentara; Latihan India dan Vietnam;  Latihan AS dan Filipina; Latihan AS dan jepang; India dan Filipina dan seterusnya. Cina juga disatu sisi menggelar Latihan bersama Rusia dengan melibatkan 10.000 tentara di wilayah laut Cina Selatan.

AS secara umum telah menggelar 85 kali Latihan military di Kawasan Indo Pasifik, khususnya di Laut Cina Selatan. Sebaliknya, untuk merespon AS dan sekutunya, Cina juga telah meningkatkan kekuatan Angkatan perang lautnya sejak tahun 2019.8

Dari sisi yang lain, pada tahun 2018 AS telah melancarkan perang dagang dengan Cina sejak era Donald Trump.  Amerika Serikat juga memainkan isu pelanggaran HAM Cina atas Uighur untuk mengecam Cina. Bahkan pemerintahan Biden memboikot Winter Olympic dan Paralympic Games tahun 2022 di Beijing dengan alasan yang sama.

Dari fakta-fakta di atas tampak sekali bahwa Amerika Serikat sangat serius dalam merespon kebijakan Cina di kawasan Indo-Pasifik. Penarikan tentara AS di Afganistan juga disinyalir adalah bagian dari upaya AS memfokuskan diri untuk berhadapan dengan Cina. Terbukti pada akhir Desember 2021, Kongres AS menyepakati kenaikan belanja pertahanan AS sebanyak lima persen dengan jumlah 777 miliar dolar AS. Jumlah sebanyak ini jauh melampaui belanjar Cina bahkan jika digabung dengan Rusia.

Ini diakui oleh angggota Kongres dari Demokrat, Elaine Luria. Ia mengatakan bahwa ini adalah bagian dari upaya kontra terhadap ancaman Cina. Bulan Mei 2021, saat pemerintahan Biden mengusulkan biaya pertahanan, juga memasukkan Cina sebagai ancaman utama terhadap kepentingan AS.9 Pada kunjungan ke Thailand, Malaysia dan Indonesia pada Desember 2021 lalu, Menteri Luar Negeri AS mempertegas kembali bahwa  AS akan bekerjasama dengan para mitranya di kawasan untuk menjamin wilayah itu terbuka dan bisa diakses oleh siapa saja.10

Bagi Cina, kebijakan yang dia lakukan selama  ini baik dalam aspek ekonomi, politik dan militer adalah dalam rangka mempertahankan kepentingannya di kawasan Indo-Pasifik, seperti: Pertama,  mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayah melalui penguatan keamanan di wilayah-wilayah perbatasan baik darat seperti Myanmar, Vietnam dan Laos maupun perbatasan laut Cina Timur, Laut Cina Selatan dan Laut Kuning.

Kedua, Cina juga perlu menjaga keberlanjutan pembangunan sosial ekonominya melalui perdagangan dan investasi. Di wilayah Asia Tenggara misalnya, negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand dan Indonesia merupakan mitra ekonomi penting bagi Cina. Dalam bidang ekonomi maritim, Cina juga sangat bergantung pada Selat Malaka sebagai jalur transportasi impor minyaknya. Dengan demikian  Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand secara otomatis akan menjadi negara penting bagi Cina. Sebagai jalur alternatif, Burma/Myanmar juga menjadi target transportasi darat dari Samudera Hindia menuju Cina.11

 

Hubungan Antara AS dan Cina

Di lihat dari segi historis, hubungan antara kedua negara memang diawali dengan konflik khususnya era perang dingin karena perbedaan ideologi dan kepentingan politik. Cina berada di poros ideologi komunis bersama Uni Sovyet yang mendukung penyebaran komunisme khususnya di wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur. Amerika Serikat berada di poros kapitalisme global. Perbedaan ideologi ini secara otomatis juga mempengaruhi kepentingan antara kedua negara.

Hubungan tersebut membaik pada tahun 1970-an yang membuat Amerika Serikat mengizinkan Cina masuk menjadi bagian dari anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hubungan dagang lebih intensif terjadi di awal tahun 2000, dan Amerika Serikat memberikan jalan ke Cina masuk menjadi anggota organisasi perdagangan dunia (WTO).12

Masuknya Cina dalam politik perdagangan kapitalisme global banyak menguntungkan negara ini, pendapatan perkapita terus meningkat dan mampu menyalib posisi Jepang sebagai negara kedua terkuat secara ekonomi setelah Amerika Serikat. Bahkan dengan prestasi ekonomi tersebut, diprediksi bahwa Cina akan mengambil-alih penguasa ekonomi dari tangan AS beberapa puluh tahun yang akan datang. Menurut lembaga konsultan Inggris, Pusat Penelitian Bisnis dan Ekonomi (CEBR), 2022, bahwa GDP Cina akan meningkat rata-rata 5,7 persen setiap tahun sampai tahun 2025, dan rata-rata 4,7 persen sampai tahun 2030 dan pada tahun itu, Cina akan menjadi negara dengan ekonomi dengan satu dunia mengalahkan Amerika Serikat.13 [Bersambung]

[Hasbi Azwar; Pengamat Politik Internasional]

 

Catatan kaki:

1        Marvin Ott, ‘The South China Sea in Strategic Terms’, 2019, https://www.wilsoncenter.org/blog-post/the-south-china-sea-strategic-terms.

2        Ronald O’Rourke, ‘U.S.-China Strategic Competition in South and East China Seas: Background and Issues for Congress (Updated)’, in Current Developments in the U.S.-China Relationship, 2021, 121–288.

3        US National Security Council, “US Strategic Framework for the Indo-Pacific,” 2018, https://trumpwhitehouse.archives.gov/wp-content/uploads/2021/01/IPS-Final-Declass.pdf.

4        USAID, ‘USAID’s Role in Advancing the U.S. Vision for a Free and Open Indo-Pacific | U.S. Agency for International Development’, 2019, https://www.usaid.gov/indo-pacific-vision/econ/shared-prosperity-2019.

5        USAID, ‘USAID Showcases More Than $286 Million in Planned Programs and Initiatives to Boost Economic Growth in the Indo-Pacific’, 2021, https://www.usaid.gov/news-information/press-releases/oct-28-2021-usaid-showcases-more-286-million-planned-programs-and-initiatives.

6        Department of Defence Ministers, ‘Australia Joins Exercise MALABAR 2020’, Australian Government Department of Defence, 2020, https://www.minister.defence.gov.au/minister/lreynolds/media-releases/australia-joins-exercise-malabar-2020#:~:text=Australia has joined key regional,of regional peace and security.

7        Cleo Paskal, ‘Indo-Pacific Strategies , Perceptions and The View from Seven Countries’, Energy, Environment,and Resources Programme and Asia-Pacific Programme, no. March (2021): 53.

8        Kai He and Li Mingjiang, ‘Four Reasons Why the Indo-Pacific Matters in 2020 | OUPblog’, 2020, https://blog.oup.com/2020/02/four-reasons-why-the-indo-pacific-matters-in-2020/.

9        Ali Harb, ‘US Military Spending Grows as Policy Shifts to “Prioritise China”’, accessed 22 January 2022, https://www.aljazeera.com/news/2021/12/16/us-military-spending-grows-as-policy-shifts-to-prioritise-china.

10      ‘Blinken Slams “Aggressive” China; Vows Stronger Indo-Pacific Ties’, accessed 22 January 2022, https://www.aljazeera.com/news/2021/12/14/blinken-vows-stronger-defence-economic-alliances-in-indo-pacific.

11      Bonny Lin et al., Regional Responses to U.S.-China Competition in the Indo-Pacific: Study Overview and Conclusions, Regional Responses to U.S.-China Competition in the Indo-Pacific: Study Overview and Conclusions, 2020, https://doi.org/10.7249/rr4412.

12      ‘Timeline: U.S. Relations With China 1949–2021’, Council on Foreign Relations, accessed 22 January 2022, https://www.cfr.org/timeline/us-relations-china.

13      Ralph Jennings, ‘China’s Economy Could Overtake US Economy by 2030’, VOA, 4 January 2022, https://www.voanews.com/a/chinas-economy-could-overtake-us-economy-by-2030/6380892.html.

 

 

0 Comments

Leave a Comment

fourteen + 6 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password