Adab Adalah Perhiasan

Pencarian dan penguasaan terhadap ilmu yang tidak didahului dengan adab akan melahirkan petaka. Masalah terbesar bagi para pelajar dan ahli ilmu yang miskin adab adalah hilangnya keberkahan, munculnya kesombongan dan lalai dari amanah mengemban ilmu. Ini adalah musibah. Hal ini pula yang disampaikan oleh Syaikh al-Zarnuji ra. dalam memulai kitabnya, Ta’lim al-Muta’allim. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa pada zamannya banyak orang yang sungguh-sungguh belajar, namun tidak mendapat hasil berupa kemanfaatan ilmu.

Para ulama salaf shalih sangat memperhatikan masalah adab. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf (perbedaan pendapat) ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas ra., pernah menyatakan kepada seorang pemuda Quraisy, “Wahai putra saudaraku, pelajarilah adab, sebelum kamu belajar ilmu.”

Itulah rahasia mengapa para ulama yang mengemban ilmu menjadi orang yang ‘alim lagi tawadhu’, berbuah dalam amal, dan jujur mengemban tanggung jawab pengajaran serta dakwah.

Ibn Hajar al-Asqalani ra. menyatakan:

وَاْلأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلاً وَفِعْلاً وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ اْلأَخْذُ بِمَكَارِمِ اْلأَخْلاَقِ

Adab artinya menerapkan segala yang terpuji, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinisikan adab adalah mempraktikkan akhlak-akhlak yang mulia.

 

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah mengartikan adab dengan:

هُوَ عِلْمُ إِصْلاَحِ اللِّسَانِ وَالْخِطَابِ، وَإِصَابَةِ مَوَاقِعِهِ، وَتَحْسِيْنِ أَلْفَاظِهِ، وَصِيَانَتِهِ عَنِ الْخَطَأِ وَالْخَلَل

Adab adalah ilmu untuk memperbaiki lisan dan seruan serta ketepatan posisinya; juga memperbaiki ungkapan dan menjaganya dari kesalahan dan cacat.

 

Banyak ulama lainnya yang mendefinisikan adab. Pada muaranya adab adalah perhiasan pada perilaku dan lisan seorang Muslim. Adab  tumbuh subur dalam masyarakat Islam kala itu. Masyarakat Islam adalah sekumpulan individu yang memiliki pemikiran dan perasaan islami serta aturan Islam yang mengikatnya. Oleh karena itu, kendati adab tidak ditunjukki langsung oleh dalil dalam perinciannya, ia adalah sesuatu yang masyru’ (disyariatkan).

 

Adab dan Ilmu

Dalil keharusan memiliki adab terhadap ilmu dan ulama adalah firman Allah SWT:

وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ ٣٠

Siapa saja yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, itu adalah lebih baik bagi dia di sisi Tuhannya (QS al-Hajj [22]: 30).

وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan hati (QS al-Hajj [22]: 32).

 

Nabi saw. bersabda:

إِنَّ اللهَ قَالَ: مَنْ عَادَىْ لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذِنْتُه بِالْحَرْبِ

Sungguh Allah telah berfirman, “Siapa saja yang menentang wali-Ku, ia telah menyatakan perang terhadap-Ku.” (HR al-Bukhari).

 

Imam Syafii ra. mengatakan:

إِنْ لَمْ يَكُنِ الْفُقَهَاءَ الْعَامِلُوْنَ أَوْلِيَاءَ اللهِ فَلَيْسَ لِلَّه وَلِيٌّ

Jika para fuqaha (ulama) yang mengamalkan ilmu mereka tidak disebut wali Allah maka Allah tidak punya wali.

 

Sudah makruf, posisi adab itu lebih dulu daripada ilmu. Ibn al-Mubarak menyatakan:

قَالَ لِيْ مَخْلَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ: (نَحْنُ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلأَدَب أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْحَدِيْثِ)

Makhlad bin al-Husain berkata kepadaku, “Kami lebih membutuhkan banyak adab ketimbang kebutuhan kami akan banyak hadis.”

 

Muhammad bin Sirin menceritakan karakteristik Tabiin, “Mereka itu mempelajari tuntunan hidup (adab), sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

Imam Malik bin Anas juga menyatakan, “Hak yang menjadi kewajiban bagi siapa yang mencari ilmu adalah dia hendaknya memiliki penghormatan, ketenangan dan rasa takut (kepada Allah). Hendaknya dia juga mengikuti jejak orang-orang sebelumnya.”

Ibn an-Nakha’i mengatakan, “Mereka (generasi salaf), ketika mendatangi seseorang (ulama) untuk mengambil ilmu dari dirinya, akan memperhatikan perilakunya, shalat dan keadaannya. Baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya.”

Habib bin asy-Syahid berkata, “Anakku, bersahabatlah dengan fuqaha dan ulama. Belajarlah dari mereka dan ambilah (keutamaan) adab-adab mereka. Sebab hal itu lebih aku sukai daripada (menghapal) banyak hadis.”

 

Adab Terhadap Diri

Imam Ibnu Jamaah asy-Syafii dalam kitabnya, Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, menyebutkan 10 adab pencari ilmu kepada dirinya sendiri. Tiga hal pertama dapat kita rincikan sebagai berikut:

Pertama, membersihkan segala bentuk penyakit hati dari dirinya yang dapat menghalangi dari memahami ilmu. Beliau menyebutkan, “(Pencari ilmu, red.) harus membersihkan hati dari segala penyakit khianat, keburukan, dendam, hasud, buruk akidah dan akhlak; agar hati mampu menerima  dan menghapal ilmu serta memahami kedalaman makna-makna dan hakikat rahasia-rahasianya.”

Kedua, meluruskan niat. Mencari ilmu semata-mata karena Allah, untuk mendapatkan ridha-Nya. Ilmu juga untuk diamalkan serta untuk menghidupkan dan menegakkan syariah. Dengan hidup dan tegaknya syariah, keberkahan ilmu akan terwujud secara kolektif. Beliau menjelaskan, “Hendaknya pencari ilmu berniat dalam mencari ilmu semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT, mengamalkan ilmunya, menghidupkan syariah, menyinari hati, menghiasi batin, mendekat kepada Allah SWT pada Hari Kiamat serta menghadap pada apa yang Allah siapkan kepada pemilik ilmu berupa ridha-Nya dan keagungan keutamaannya.”

Ketiga, bersegera selagi masih muda dan tidak membuang waktu. Beliau menyebutkan,  “Hendaknya pencari ilmu bergegas pada masa mudanya dan pada setiap umurnya untuk memperoleh ilmu. Janganlah tertipu dengan penundaan dan angan-angan.”

 

Adab kepada Guru

Dasar adab kepada guru adalah firman Allah SWT terkait pendidikan adab Nabi Khidr kepada Musa as. sebagai berikut:

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا ٦٦

Musa berkata kepada Khidhr, “Bolehkah aku mengikutimu agar kamu mengajari aku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS al-Kahfi [18]: 66).

 

Imam Ibnu Jama’ah menyebutkan ada 13 adab yang harus diperhatikan secara seksama oleh para pencari ilmu. Tiga di antaranya adalah:

Pertama, mengikuti segala wasiat guru, karena ketundukannya kepada guru adalah kebaikan dan kemuliaan. Beliau menjelaskan, “Pencari ilmu hendaknya taat kepada gurunya dalam segala urusan dan tidak keluar dari pendapat dan pengaturan gurunya. Bahkan ia bersama gurunya seperti pasien di hadapan seorang dokter yang terampil. Ia bermusyawarah tentang apa yang ia maksud dan memilih yang terbaik atas keridhaanya. Hendaknya ia maksimal dalam menghormati guru dalam bentuk taqarrub kepada Allah dengan berkhidmat kepadanya. Ia mengetahui bahwa kehinaannya di hadapan gurunya itu merupakan kemuliaan, ketundukannya kepada gurunya merupakan kebanggaan dan ketawadhuaannya  kepada gurunya itu merupakan keluhuran.”

Kedua, memuliakan guru dan menjaga kehormatannya dengan sepenuh keikhlasan.  Dikatakan, “Pencari ilmu hendaknya melihat gurunya dengan pandangan penuh kehormatan dan percaya kepada gurunya dengan derajat kesempurnaan karena hal itu lebih mendekatkan dirinya pada nilai manfaat. Sebagian salaf terbiasa jika menghadap kepada gurunya, ia bersedekah dan berdoa, ‘Ya Allah, tutuplah aib guruku dariku dan janganlah hilangkan keberkahan ilmunya dariku.’”

Ketiga, mengetahui keutamaan gurunya dan menjaga haknya, karena hal ini bagian dari pintu keberkahan. Dikatakan, “Pencari ilmu hendaknya mengetahui hak gurunya dan tidak melupakan keutamaannya. Syu’bah berkata, ‘Jika aku mendengar hadis dari seseorang maka aku menjadi budaknya selama hidupnya.’”

 

Adab Terhadap Ilmu

Imam Ibnu Jama’ah juga menjelaskan 13 hal yang merupakan adab pencari ilmu terhadap ilmu yang dipelajari. Tiga hal di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, memulai belajar dari al-Quran, menghapalkan dan memahaminya. Beliau menyebutkan, “Hendaknya pencari ilmu mengawali dengan kitab Allah yang mulia, kemudian ia menguatkan hapalannya dan bersungguh-sungguh memahami tafsirnya dan seluruh ilmu-ilmunya. Sebab hal itu adalah pokok segala ilmu, sumber segala ilmu dan ilmu yang paling penting.”

Kedua, belajar secara bertahap (mulai dari yang ringkas sampai yang luas), berusaha mengamalkan ilmu yang diperoleh, dan pada awal belajar tidak menyibukkan diri dalam medan perbedaan pendapat. Dikatakan, “Hendaknya dia berhati-hati dalam permulaan belajarnya dari kesibukan mempelajari ikhtilaf para ulama dalam akal atau pendengaran. Sebab hal itu akan membingungkan pikiran dan akalnya. Akan tetapi, mula-mula hendaklah ia memahami satu kitab dalam satu bidang ilmu atau beberapa kitab dalam berbagai bidang jika memungkinkan dalam satu metode yang direstui gurunya.”

Ketiga, setelah menghapal dan memahami al-Quran, bergegas mendengar periwayatan dan mempelajari hadis. Sebab hadis adalah salah satu sayap bagi seorang ‘alim selain sayap lainnya, yakni al-Quran. Beliau melanjutkan, “Hendaknya pencari ilmu bergegas untuk mendengar hadis. Jangan lalai untuk selalu sibuk mempelajari hadis, ilmu-ilmunya, memperhati-kan sanad-sanadnya, rawi-rawinya, makna-maknanya, hukum-hukumnya, faidah-faidahnya, bahasanya dan sejarahnya.”

 

Amanah Mengemban Ilmu

Ilmu adalah amanah. Ia harus diwujudkan dalam amal dan penyebaran (dakwah). Belajar ilmu tidak boleh ditujukan untuk kepentingan dunia. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa saja yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya yang diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mencari harta dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga pada Hari Kiamat (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).

 

Pada diri pencari ilmu harus berkumpul tiga hal sekaligus: ilmu, amal dan ikhlas. Sahl bin Abdillah al-Tustari menerangkan, “Dunia ini seluruhnya adalah kebodohan dan kematian kecuali ilmu yang berada di dalamnya. Ilmu pun seluruhnya hanya akan menjadi penghujat kepada seluruh makhluk kecuali yang mengamalkannya. Amal pun seluruhnya hanya akan terhambur sia-sia kecuali yang dilandasi keikhlasan. Keikhlasan adalah perkara besar yang tidak dapat diketahui kecuali hanya oleh Allah SWT sehingga keikhlasan itu dibawa sampai mati.”

Terakhir, selain berbuah amal, ilmu juga harus disebarkan dalam pengajaran dan dakwah.

Pencari ilmu dan ahli ilmu yang benar cara memperolehnya tidak mungkin berdusta dengan apa yang dipelajari, seperti mencampuradukan hak dan batil, atau menyembunyikan kebenaran. Intelektual Muslim yang memanipulasi atau menyembunyikan kewajiban berhukum pada hukum-hukum Allah, menerapkan seluruh syariah-Nya dan menegakkan Khilafah, adalah mereka yang tidak jujur dengan apa yang dia pelajari. Seorang ahli hikmah mengatakan:

إِخْفَاءُ الْعِلْمِ هَلَكَةٌ وَ إِخْفَاءُ الْعَمَلِ نَجَاة

Menyembunyikan ilmu adalah kehancuran, sedangkan menyembunyikan amal adalah keselamatan.

 

Penutup

Demikianlah adab sebagai perhiasan dalam lisan dan perilaku.  Kita berlindung kepada Allah SWT dari sifat yang digambarkan oleh Imam al-Munawi saat menjelaskan hadis terkait sifat orang munafik: “Maksudnya yaitu orang yang banyak ilmu di lidahnya, tetapi bodoh hati dan amalnya. Ia menjadikan ilmu sebagai profesi yang dengan itu ia mencari makan. Ia berpenampilan penuh wibawa untuk menarik perhatian orang. Ia mengajak orang lain kepada Allah, tetapi ia sendiri lari dari Allah. Ia mencela aib orang lain lalu melakukan perbuatan yang lebih buruk darinya. Ia menampakkan ibadah dan kekhusyukan di hadapan manusia, tetapi melakukan dosa-dosa besar di hadapan tuhannya saat sendirian bersama-Nya. Ia adalah seekor serigala yang memakai baju.” [Yuana Ryan Tresna]

 

Penulis adalah Mudir Ma’had Darul Hadits Khadimus Sunnah Bandung.

 

 

0 Comments

Leave a Comment

19 + 19 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password