Musuh dan Pengkhianat Umat

Musuh, dalam bahasa Arab [al-‘aduwwu], bermakna orang yang memiliki permusuhan [dzu al-‘adaawah].  Bentuk jamaknya adalah ‘idaay atau a’daa`.

Adapun pengkhianat [khaa’in] adalah man ghadara bihi wa lam yahfadh al-amanah (orang yang berkhianat dan tidak memelihara amanah) (Mu’jam al-Ma’aniy al-Jaami’, huruf ‘ayn dan khaa`).

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓاْ أَمَٰنَٰتِكُمۡ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ  ٢٧

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian tahu (QS al-Anfal [8]: 27).

 

Al-Khiyaanah adalah al-ghadr wa ikhfaa‘ asy-syai’ (berkhianat dan menyembunyikan sesuatu). (Al-Qurthubi, Tafsiir al-Qurthubi, QS [8]: 27).

Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas ra., “Amanah adalah semua apa yang diamanahkan Allah SWT kepada hamba-Nya, yaitu  al-fariidlah (kewajiban-kewajiban).  Dalam ayat di atas, makna “Jangan mengkhianati amanah” adalah jangan menyia-nyiakan amanah.  Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Abbas ra. menyatakan bahwa mengkhianati amanah artinya adalah meninggalkan sunnah-sunnahnya dan melakukan maksiat kepadanya.

 

Musuh Sejati Kaum Muslim

Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas bahwa orang kafir adalah musuh sejati kaum Muslim.   Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱلۡكَٰفِرِينَ كَانُواْ لَكُمۡ عَدُوّٗا مُّبِينٗا  ١٠١

Sungguh kaum kafir itu adalah musuh yang nyata bagi kalian (QS an-Nisaa‘ [4]: 101).

 

Hal senada dinyatakan dalam beberapa ayat lain (Lihat, misalnya: QS an-Nisa‘[4]:101; QS al-Baqarah [2]: 98).

Allah SWT juga mengungkap hakekat permusuhan orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab di banyak ayat (Lihat, antara lain: QS al-Baqarah [2]: 120 dan  217).

Al-Quran juga menjelaskan bahwa di antara musuh-musuh Islam dan kaum Muslim yang paling keras permusuhannya adalah orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan musyrik (Lihat: QS al-Maidah [5]: 82).

Yang dimaksud kaum musyrik di sini adalah semua pemeluk agama dan keyakinan selain Ahlul Kitab seperti Hindu, Budha, komunis, sekuleris-liberalis, dan lain sebagainya.  Termasuk ke dalam barisan kaum kafir adalah kaum munafik sejati, yakni orang-orang yang lahiriahnya Muslim, namun hatinya ingkar dan memusuhi kaum Muslim. Allah SWT berfirman:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ  ٢٠٤

Di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dia persaksikan kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya. Padahal dia adalah penantang yang paling keras (QS al-Baqarah [2]: 204).

 

Ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik.  Sebagian dari mereka ada yang ucapannya di dunia ini memikat hati Nabi saw. Mereka bersaksi kepada Allah atas keimanan dan kebaikan yang ada di dalam hatinya. Padahal sejatinya mereka berdusta. Bahkan mereka sangat keras perseteruan dan permusuhannya terhadap umat Islam.

Al-Quran menjelaskan pula di beberapa ayat bahwa setan adalah musuh nyata bagi kaum Muslim (Lihat, antara lain: QS al-Baqarah [2]: 168 dan 208; QS al-An’aam [6]: 112-113).

Kata syaithaan (setan) kadang-kadang disebut di dalam al-Quran dengan makna iblis secara khusus (QS aal-Baqarah [2]: 36; 7:20).  Kadang-kadang disebut dengan makna: yang berperilaku buruk  dan merusak, yang mengajak pada kesesatan dan kerusakan, baik dari kalangan jin maupun manusia  (QS al-An’am [6]:112).

Dituturkan dari Abu Umamah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

يَا اَبَا ذَرٍّ تَعُوْذُ  بالله مِنْ شَرِّ شَيَاطِين اْلجِنِّ وَاْلإِنْس. قَال: ياَ نَبِيَّ اللهِ، وَهَلْ لِلْإِنْسِ شَيَاطِيْنُ؟ قَال: نَعَم: شَيَاطِينُ الإِنسِ وَالجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Wahai Abu Dzarr, berlindunglah kamu kepada Allah dari keburukan setan-setan jin dan manusia.” Abu Dzarr bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah manusia juga memiliki setan-setan?”  Nabi saw. bersabda, “Benar, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) (QS al-An’am [6]: 112) (Majma’ al-Zawaa’id,  1/94).

 

Kata syaythaan (setan) memiliki makna khusus dan makna umum.   Makna khususnya adalah adalah iblis dan anak keturunannya yang diciptakan dari api.  Mereka juga makan, minum, menikah dan seluruh perbuatan mereka dihisab kelak di akhirat. Makna umumnya setiap makhluk yang membangkang, baik dari kalangan jin, manusia, maupun binatang.    Jin dan manusia membangkang terhadap perintah Allah SWT dan berusaha menciptakan kerusakan di muka bumi dengan berbagai macam jenisnya.

 

Sifat-sifat dan Karakteristik Setan

Di antara sifat dan karakteristik setan yang dijelaskan al-Quran adalah sebagai berikut:

Pertama, menyesatkan manusia dari kebenaran (QS an-Nisa‘ [4]: 60). Kelompok-kelompok sosialis-komunis dan sekuleris-liberalis yang terus mempropagandakan dan memaksakan ide-ide kufur mereka sejatinya adalah musuh nyata kaum Muslim.

Kedua,  menebarkan permusuhan dan perpecahan di antara manusia (QS al-Maidah [5]: 91).  Setan menebarkan permusuhan dan perpecahan tidak hanya melalui khamr dan judi, tetapi juga paham-paham yang mengeraskan ‘ashabiyyah seperti nasionalisme, sukuisme, kelompokisme, fanatisme mazhab yang berlebihan dan pikiran-pikiran sektarian lainnya.  Termasuk ke dalam kelompok ini adalah buzzer-buzzer yang mendengungkan isu-isu sektarian serta mengobarkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat.  Mereka adalah musuh sejati kaum Muslim.

Ketiga, mengajak kemungkaran  dan mencegah kemakrufan (Lihat: QS an-Nur [24]: 21).

Keempat, mengajak pada kekafiran (Lihat: QS al-Hasyr [59]: 16). Setiap orang yang mengajak pada kekafiran hakikatnya adalah musuh sejati kaum Muslim.   Setiap keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam adalah kekufuran. Propagandisnya harus dipandang sebagai musuh sejati kaum Muslim.

Kelima, suka dengan pencitraan diri dan menganggap baik perbuatan mungkar yang mereka lakukan.  Bahkan, mereka tak segan-segan membela diri dan menutupi keburukan-keburukan mereka dengan melakukan berbagai macam kedustaan dan pengkhianatan (Lihat: QS al-An’am [6]: 43).

Keenam, mengajak masuk ke dalam neraka, yakni mengajak manusia menyakini pemikiran kufur, serta mengerjakan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam (Liha: QS Luqman [31]: 21).

Ketujuh, membisikkan pikiran-pikiran jahat.  Setan tidak pernah berhenti membisikkan, mempropagandakan dan menyebarkan pemikiran-pemikiran jahat yang ditujukan agar manusia melakukan perbuatan kufur dan maksiat (Lihat: QS al-A’raf [7]: 20).

 

Musuh dan Pengkhianat Sejati

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa para pengkhianat dalam pandangan Islam adalah mereka yang menelantarkan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah SWT dan Rasul-Nya.   Penguasa yang menelantarkan kewajibannya mengatur urusan rakyat hanya dengan syariah Islam, memenuhi hak-hak rakyat serta menjaga mereka dari musuh-musuhnya sejatinya adalah pengkhianat sejati.  Begitu pula penguasa yang bekerjasama dengan pengusaha demi kepentingan-kepentingan kelompok mereka sendiri seraya mengorbankan kepentingan rakyat. Begitu pula ulama, kiai dan habaib yang mengabdikan dirinya kepada penguasa zalim, menutupi kerusakannya, serta menggunakan dalil-dalil agama untuk menyokong kebijakan-kebijakan penguasa dhalim khianat, serta mengokohkan kekuasaan demokrasi-sekuler dan negara bangsa. Mereka pun pengkhianat sejati umat.  Nabi saw. memperingatkan siapa saja yang mengkhianati kaum Muslim dengan ancaman yang sangat keras.  Nabi saw. bersabda:

لكل غادر لواء يوم القيامة يرفع له بقدر غدره ألا ولا غادر أعظم غدرًا من أمير عامة

Setiap pengkhianat diberi bendera pada hari kiamat, yang akan dikibarkan sekadar dengan pengkhianatannya.  Perhatikan, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar daripada (pengkhianatan) orang yang memimpin masyarakat umum (penguasa) (HR Muslim).

 

Adapun musuh-musuh sejati kaum Muslim adalah setiap orang yang disifati dengan sifat-sifat setan dan mengerjakan perbuatan-perbuatan setan. Mereka, misalnya, menerapkan hukum-hukum kufur, bermuwalah kepada orang kafir, berkhianat kepada kaum Muslim, menebar permusuhan dan perpecahan di tengah-tengah kaum Muslim, menyesatkan kaum Muslim dari Islam, mencela dan menghina ajaran Islam dan simbol-simbolnya.  Mereka adalah golongan setan yang harus dijauhi dan ditetapkan sebagai musuh sejati kaum Muslim.  Allah SWT berfirman:

ٱسۡتَحۡوَذَ عَلَيۡهِمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَأَنسَىٰهُمۡ ذِكۡرَ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ  ١٩ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡأَذَلِّينَ  ٢٠

Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, sungguh golongan setan itulah golongan yang merugi. Sungguh orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya adalah termasuk orang-orang yang sangat hina (QS al-Mujadilah [58]: 19-20).

 

Sebaliknya, mereka yang menyerukan tegaknya syariah Islam secara kaaffah, menyingkap tipudaya orang-orang kafir atas Islam dan kaum Muslim, menjaga kaum Muslim dari pemikiran dan sistem hukum kufur, serta menyerukan persatuan kaum Muslim di bawah satu kesatuan kepemimpinan di seluruh dunia, yakni Khilafah Islamiyah yang dipimpin seorang Khalifah,  serta menegakkan amar makruf nahi mungkar adalah kelompok Allah yang wajib didukung oleh kaum Muslim. Kaum Muslim wajib mendukung seluruh aktivitas mereka dengan sepenuh hati dan tenaga.   Allah SWT  berfirman:

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  ٢٢

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Allah memasukan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka. Merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sungguh partai Allah itu adalah golongan yang beruntung (QS al-Mujadilah [58]: 20 dan 22).

 

WalLâhu a’lam. [Gus Syams]

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

four × 5 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password