Analisis dan Nasihat Hizbut Tahrir Untuk Taliban

Kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan jelas menunjukkan kekalahan Amerika secara militer di bumi jihad itu. Setelah Presiden Ashraf Gani melarikan diri ke luar negeri, Taliban mengumumkan bahwa perang telah usai.

Terkait dengan kondisi di Afghanistan, Amir Hizbut Tahrir telah menganalisis apa yang terjadi Afghanistan. Amir Hizbut Tahrir juga mengingatkan Taliban untuk tidak berkompromi dengan kekuatan penjajah Amerika dan sekutunya, termasuk negara-negara regional yang selama ini dikendalikan Amerika.

Berikut beberapa catatan penting dari Amir Hizbut Tahrir tentang kondisi Afghanistan yang dikutip dari soal jawab dalam soal jawab yang berjudul, “Dampak Politik di Afghanistan” (09 Dzulhijjah 1442 H/19 Juli 2021 M):

Hal yang penting disebutkan adalah sikap negara paling menonjol yang digunakan Amerika secara aktif dalam negosiasi dengan Taliban di Afghanistan:

Pakistan: Pakistanlah yang memaksa Taliban untuk mengadakan pembicaraan dengan AS pada 2018. Zalmay Khalilzad berterima kasih kepada Pakistan karena memfasilitasi perjalanan Taliban untuk pembicaraan di Doha. Menteri Pertahanan Lloyd Austin juga menyatakan “terima kasih”-nya kepada mitranya dari Pakistan pada Maret 2021 dalam “Dukungan Berkelanjutan Pakistan untuk Proses Perdamaian Afghanistan”. “Kepala Pentagon memuji peran Pakistan dalam proses perdamaian Afghanistan” (Majalah Al-Fajr, 23 Maret 2021).

Perwira militer senior dan kelas politik di Pakistan telah memainkan peran utama dalam strategi AS di Afghanistan.

Demikianlah, peran Pakistan adalah peran utama dan memiliki sejarah. Gerakan Taliban Afghanistan memiliki asal-usul Pakistan. Dinas intelijen dan intelijen Pakistan memiliki pengaruh di Afghanistan dan memiliki kontak serta orang-orang di dalam Taliban. Karena semua itu, Amerika bergantung banyak pada peran Pakistan.

Turki: Seperti yang dilakukan di Suriah dan Libya, Turki bergerak menuju Afghanistan dan membantu tujuan politik luar negeri Amerika Serikat. Selama pertemuan internasional di resor laut Turki, Antalya, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengusulkan pengoperasian dan penjagaan keamanan Bandara Kabul Afghanistan oleh Turki.

Washington menyambut baik komitmen Ankara yang jelas untuk memainkan peran kunci dalam mengamankan Bandara Kabul setelah Biden bertemu Erdogan pada bulan lalu di Brussel. Biden ingin Turki melakukan tugas penjaga di Bandara, yang masih mempertahankan sekitar 500 tentara di dekat Bandara. Dalam pidatonya baru-baru ini, Biden mengindikasikan dalam pidato terakhirnya bahwa, “Kami berkoordinasi erat dengan mitra kami untuk mengamankan bandara internasional di Kabul.”

Erdogan mengatakan, “Kami bersama dengan Amerika Serikat dan NATO telah menentukan pengaturan untuk misi masa depan dan apa yang kami terima dan apa yang tidak kami terima. Kami menawarkan masalah ini selama pertemuan NATO, dan selama pertemuan saya dengan Biden dan selama diskusi antara delegasi kami. Kami akan menerapkan prosedur ini di Afghanistan dengan cara sebaik mungkin.” (Al-Jazeera, 9/7/2021).

Juru Bicara Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin, mengatakan: “Turki dapat melanjutkan tugas mengamankan Bandara Kabul setelah penarikan pasukan NATO dan berakhirnya misi dukungan tegas yang dipimpin oleh Amerika di Afghanistan pada musim panas ini.” (Middle East, 3/7/2021).

Gerakan Taliban menolak kehadiran Turki. Gerakan Taliban mengumumkan dalam sebuah pernyataan, “Penolakannya terhadap bertahannya pasukan Turki di Afghanistan setelah penarikan pasukan internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat dari negara itu. Gerakan Taliban menekankan bahwa keputusan seperti itu tercela. Gerakan Taliban mengatakan bahwa keputusan para pemimpin Turki itu tidak bijaksana, karena itu merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan, persatuan dan integritas teritorial kami dan bertentangan dengan kepentingan nasional kami.” (Al-Jazeera, 13/7/2021).

Asia Tengah: Amerika Serikat telah berbicara dengan para pemimpin di Asia Tengah tentang reposisi beberapa kekuatannya di sana. The New York Times melaporkan bahwa para pejabat AS telah melakukan kontak dengan pihak berwenang Kazakhstan, Uzbekistan dan Tajikistan tentang kemungkinan penggunaan pangkalan-pangkalan di wilayah tersebut. Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken, mengatakan dalam tweet bahwa ia berbicara pada 22 April dengan Menteri Luar Negeri Uzbekistan dan Kazakhstan tentang penggunaan pangkalan militer oleh AS dan pasukan NATO lainnya. Drone, pengebom jarak jauh dan jaringan mata-mata akan dibuat untuk menjaga Afghanistan (The New York Times, 27 April 2021).

Dari paparan di atas menjadi jelas hal-hal berikut:

Kelanjutan negosiasi tidak mengarah pada pencabutan Amerika dari Afghanistan, tetapi lebih untuk menipu. Jadi, Amerika keluar melalui pintu depan dan masuk kembali melalui pintu belakang yang dijaga oleh para agen dan pengikut di Pakistan, Turki dan Iran serta mereka yang berputar bersama mereka di antara alat-alat Amerika di Afghanistan sendiri. Kemudian mereka memainkan peran utama dalam mempertahankan pengaruh Amerika di Afghanistan.

Adapun Qatar mempersiapkan suasana negosiasi untuk dua tujuan: Pertama, demi barter dengan Amerika untuk mencabut embargo Saudi (blokade) terhadap Qatar. Inilah yang terjadi. Terutama setelah Perjanjian Doha ditandatangani pada 29 Februari 2020 selama pemerintahan Trump. Kedua, Qatar dan Inggris di belakangnya, telah mulai menggunakan kontak-kontak mereka dengan Taliban untuk menyulitkan Amerika. Ini merupakan pengacauan yang telah dipelajari. Qatar memberikan bantuan keuangan kepada gerakan Taliban dan membuka kantor perwakilan dan mimbar media untuk gerakan Taliban. Kemudian Amerika membutuhkan peran Qatar untuk memfasilitasi kontaknya dengan gerakan Taliban. Begitulah, Inggris menjadi ada dalam potret apa yang sedang terjadi. Mereka menggunakannya untuk melayani kepentingan mereka di Qatar dan Teluk, memanfaatkan kebutuhan Amerika akan peran Qatar dalam memfasilitasi kontak dengan Taliban.

Masuknya Taliban ke dalam negosiasi dengan Amerika dan agen-agennya di rezim Afghanistan merupakan kesalahan besar. Kami memohon kepada Allah Yang Mahakuasa untuk melindungi umat Islam di Afghanistan dari keburukannya. Orang-orang kafir imperialis hanya bernegosiasi untuk mencapai kepentingan mereka disebabkan keadaan yang mengelilingi mereka. Orang yang meneliti keadaan yang melingkupi Amerika sekarang niscaya menemukan hal itu tampak jelas. Jelas bagi setiap orang yang memiliki akal atau menggunakan pendengarannya dan dia menyaksikan:

Pertama, kemunculan China sebagai kekuatan militer dan ekonomi di abad ini mengancam kepentingan Amerika. Orientasi Amerika terhadap China telah menjadi prioritas. Pernyataan para pejabat Amerika mengatakan yang demikian seperti yang kami sebutkan di atas Dalam pidato Biden pada 8/7/2021, dia berkata, “Bahaya menjadi berada di luar Afghanistan dan yang menjadi prioritas sekarang adalah persaingan strategis dengan China.”

Kedua, kerugian yang ditanggung oleh Amerika di Afghanistan selama pendudukan-nya di Afghanistan, seperti yang kami sebutkan di atas: (BBC News menambahkan pada 29 Februari 2020, mengomentari Perjanjian Doha, BBC News mengatakan: Lebih dari 2.400 tentara Amerika tewas di Afghanistan).

Semua ini menunjukkan bahwa Amerika keluar dari Afghanistan dengan menyeret ekor kekalahan tanpa keluar dengan negosiasi-negosiasi yang akan melindungi pengaruhnya, sesuatu yang tidak dapat dicapainya dalam perang!

Kami menyadari bahwa ada saudara-saudara yang jujur   dan setia di Taliban. Kepada mereka kami sampaikan:

Hendaknya mereka memperbaiki perkara tersebut sehingga menghentikan negosiasi ini. Mereka hendaknya tidak memberi kemungkinan kepada Amerika untuk mencapai apa yang tidak dapat dia capai dalam perang.

Hendaknya mereka meyakini bahwa agenda utama kaum Muslim adalah mengembalikan Khilafah setelah sekian lama menghilang. Hal itu merupakan kewajiban dari Allah SWT dan merupakan ketaatan kepada Rasulullah saw.

Hendaknya mereka tahu bahwa partisipasi dalam pemerintahan campuran Islam dan sekularisme tidak diterima oleh Allah SWT. Allah Yang Mahaperkasa hanya menerima yang baik. Inilah yang haq.

فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ ٣٢

Tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan  (QS Yunus [10]: 32).

 

Mengikuti kebenaran adalah yang menyelamatkan Taliban, negeri Afganistan dan warganya serta kaum Muslim seluruhnya. Inilah yang kami dari Hizbut Tahrir nasihatkan kepada Anda semua sebagaimana kami menasihatkannya di awal pemerintahan Anda dengan jalan mendeklarasaikan Khilafah. Namun, Anda menolak, dan kemudian Anda tahu bahwa Anda keliru dengan penolakan itu sebagaimana yang dinukil dari Mullah Umar rahimahulLah dalam salah satu sesinya, tetapi setelah kesempatannya berlalu.

Sekarang kami kembali mengulangi nasihat tersebut. Lalu adakah orang yang menyambutnya?

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَقَلۡبِهِۦ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ٢٤

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberikan kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan bahwa kepada Dialah kalian semua akan dikumpulkan (QS al-Anfal [8]: 24).

 

[Yahya Abdurrahman. Sumber: http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/76695.html]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

20 − ten =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password