Saatnya Mematahkan Lingkaran Setan Kapitalisme

Baru-baru ini dunia sempat dikejutkan oleh pernyataan Miliarder Ray Dalio dari Hedge Fund Manager terbesar di dunia, Bridgewater. Ia mengatakan, “Capitalism is failing and that a revolution is coming” (Euronews, 18/04/2019).

Memang tidak dapat disangkal bahwa ketidaksetaraan global berada pada tingkat yang tidak berkelanjutan. Ekonomi berbasis bunga pun tidak lagi sesuai dengan tujuannya ekonomi Kapitalisme. Secara global kekayaan ekstrem vs kemiskinan ekstrem bisa kita cermati dari beberapa fakta di bawah ini.

Pertama: Booming time untuk miliarder dunia. Sudah 10 tahun krisis keuangan mengguncang dunia kita dan menyebabkan penderitaan luar biasa. Pada waktu itu, kekayaan orang terkaya telah meningkat secara dramatis. Jumlah miliarder hampir dua kali lipat. Miliarder baru lahir setiap dua hari antara 2017 dan 2018. Mereka sekarang memiliki lebih banyak kekayaan daripada sebelumnya. Sebaliknya, hampir setengah dari umat manusia tidak pernah keluar dari kemiskinan. Hidup dengan kurang dari US$ 5,50 sehari.

Kekayaan miliarder dunia meningkat US$ 900 miliar pada tahun lalu: US$ 2,5 miliar sehari. Tahun lalu 26 orang memiliki jumlah kekayaan yang setara dengan 3,8 miliar orang. Itu sama dengan setengah dari jumlah penduduk dunia yang paling miskin.

Kedua: Kekayaan dengan pajak rendah. Orang-orang terkaya terus menikmati booming kekayaan. Mereka juga menikmati beberapa tingkat pajak terendah dalam beberapa dekade. Demikian juga korporasi yang mereka miliki. Sebaliknya, pajak jatuh secara tidak proporsional pada para pekerja. Ketika pemerintah memberlakukan pajak rendah kepada orang kaya, akibatnya tidak cukup dana untuk layanan vital seperti perawatan kesehatan dan pendidikan, meningkatkan ketidaksetaraan dan kemiskinan. Hanya 4 sen dari setiap dolar pendapatan pajak yang berasal dari pajak atas kekayaan. Di beberapa negara, 10% termiskin membayar proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan mereka dalam pajak daripada 10% terkaya.

Ketiga: Layanan publik dengan dana terbatas. Pada saat yang sama, layanan publik menderita kekurangan dana kronis atau di-outsource ke perusahaan swasta yang mengecualikan orang-orang termiskin. Di banyak Negara, pendidikan yang layak atau layanan kesehatan yang berkualitas telah menjadi kemewahan yang hanya mampu dimiliki oleh orang kaya. Ini memiliki implikasi mendalam bagi masa depan anak-anak dan peluang yang mereka miliki untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih lama.

Hari ini 262 juta anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah. Di Kenya, hanya 1 orang gadis miskin memiliki peluang dari 250 untuk melanjutkan studinya di luar sekolah menengah.

Keempat: Kesempatan hidup lebih lama. Di sebagian besar negara, memiliki uang adalah paspor untuk kesehatan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih lama. Sebaliknya, menjadi miskin berarti lebih banyak penyakit dan kuburan. Orang-orang dari komunitas miskin dapat berharap mati sepuluh atau dua puluh tahun lebih awal daripada orang-orang kaya. Di negara-negara berkembang, seorang anak dari keluarga miskin dua kali lebih mungkin meninggal sebelum berusia lima tahun daripada seorang anak dari keluarga kaya. Setiap hari 10.000 orang meninggal karena mereka tidak memiliki akses ke layanan kesehatan yang terjangkau.

 

Mimpi Kemakmuran vs Utang Negara

Tidak terkecuali di negeri ini. Salah satu aspek yg bisa kita terlusuri adalah cita-cita untuk meningkatkan kemakmuran rakyat dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Negara. Caranya melalui pembukaan investasi seluas-luasnya bagi pengusaha/negara asing untuk menanamkan modalnya membangun negeri ini dalam berbagai bidang. Investasi modal asing tersebut sudah pasti dalam bentuk pinjaman/hutang yang harus dikembalikan. Posisi utang Pemerintah di akhir Januari 2019 mencapai Rp 4.498,56 triliun. Mengalami kenaikan Rp 539,9 triliun dari Januari 2018 sebesar Rp 3.958,66 triliun. Menurut Menkeu, itu mencapai 30,10% dari PDB sesuai yang ditetapkan dalam UU nomor 17 tahun 2003 sebesar 60% (Sumber: CNBC Indonesia).

Persoalannya bukan pada seberapa besar rasio utang di banding PDB. Akan tetapi, kapan utang itu bisa dilunasi?

Jika mengacu pada cicilan utang Pemerintah di dalam APBN 2018 sebesar 70 Triliun, maka butuh waktu selama 69 tahun untuk melunasi utang negara, dengan catatan tidak ada penambahan utang baru oleh Pemerintah dan swasta. Ini pun kemungkinan sangat berat dilakukan karena hampir mustahil untuk tidak berutang lagi. Pasalnya, belanja Pemerintah pun saat ini bergantung pada utang. Faktanya, Pemerintah sudah ngutang lagi ke Cina melalui penandatanganan kontrak proyek-proyek OBOR Cina di Beijing April lalu. Nilainya sebesar USD 64 miliar atau hampir senilai Rp 908 triliun untuk empat koridor: Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara dan Pulau Bali.

Pada periode 2000-2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya menguntungkan 10-20 persen orang kaya di Indonesia. Ketimpangan kesejahteraan tecermin dari terpusatnya akumulasi kekayaan pada minoritas penduduk Indonesia. Mengacu data Credit Suisse, Bank Dunia mencatat kelompok 10 persen orang kaya menguasai sekitar 77 persen dari seluruh kekayaan aset dan keuangan di negeri ini. Kalau dipersempit lagi, 1 persen orang terkaya di Indonesia menghimpun separuh total aset negeri ini.

Pada September 2017, sebanyak 20 persen masyarakat golongan teratas di Indonesia mengusai sekitar 46 persen dari total kue perekonomian Indonesia. Sebaliknya, 40 persen masyarakat golongan terbawah hanya menikmati 17,2 persen saja. Bukannya menyempit, justru jurang antara si kaya dan si miskin malah semakin melebar. Pasalnya, kekayaan para konglomerat meningkat lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan kajian Megawati Institute, selama periode 2006-2016 akumulasi kekayaan riil 40 orang terkaya di Indonesia rata-rata tumbuh 17 persen setiap tahunnya. Akumulasi pendapatan 40 orang terkaya tersebut selama satu tahun bisa mencapai US$16,8 miliar atau sekitar Rp 231 triliun. Pertumbuhan kekayaan para konglomerat itu jauh di atas rata-rata pertumbuhan perekonomian nasional yang hanya tumbuh 6 persen dan rata-rata pertumbuhan pendapatan perkapita sebesar 4 persen pada periode yang sama.

 

Mimpi Perbaikan Moral vs Sistem Ekonomi Kapitalisme Sekular

Moral dalam Kapitalisme hanyalah ilusi. Kenyataannya, selama kita masih hidup dalam pelukan sistem Kapitalisme yang menaungi seluruh aspek kehidupan, telah terjadi kehilangan kesadaran secara kolektif akibat distorsi kesadaran individu untuk memahami kenyataan. Distorsi kesadaran masyarakat muncul pada individu-individu secara kolektif dalam masyarakat yang tidak mampu menemukan jawaban dan celah untuk memahami kenyataan yang sesungguhnya. Telah terjadi perampasan hak secara massif sejak berlakunya sistem Kapitalisme sekular. Proses penghilangan kesadaran ini melibatkan hegemoni kekuasaan kelas yang kuat. Kesenjangan sosial direproduksi untuk mempertahankan kenyataan hilangnya kesadaran individu-masyarakat. Perampasan terjadi secara legitimated berpijak di atas logika-moral pasar yang selama ini telah menjadi kesadaran kolektif masyarakat untuk memahamai tentang nilai.

Masyarakat telah dibutakan oleh kesadaran moral yang telah diciptakan oleh kekuatan pasar yang melibatkan kekuasaan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam sistem Kapitalisme, kita tidak akan menemukan arti dari altruisme dalam pasar. Yang ada hanyalah kepentingan yang terlembagakan.

Inilah realitas pasar yang kita hadapi. Menciptakan kasadaran-kesadaran ilutif. Menjauhkan manusia dari kenyataan sejati. Ada realitas pengkondisian sistemik dan sistematik yang terjadi dalam masyarakat yang melibatkan semua perangkat struktural kekuasaan baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Dalam artian, persoalan ketidakadilan yang terjadi adalah ketidakadilan struktural yang massif. Lalu kita ‘dipaksa’ untuk saling merampas satu sama lain.

Inilah Kapitalisme yang hadir. Tidak hanya menghisap hak komunal kita, tetapi juga menghisap kesadaran kita secara kolektif dan massif.

Nilai moral sudah terkontaminasi oleh Kapitalisme yang disebabkan:

  • Bukan hanya Kapitalisme bebas nilai, melainkan Kapitalisme sendiri hidup dan tumbuh subur di balik mimbar-mimbar moral.
  • Wilayah moral adalah wilayah subjektif, sedangkan Kapitalisme berada dalam wilayah objektif.
  • Eksistensi moral bersifat relatif, sedangkan kenyataan Kapitalisme dalam konteks sekarang bersifat absolute. Dalam artian, penghisapan adalah kenyataan riil yang akan terus terjadi dalam berbagai wujud.
  • Penindasan, keserakahan dan perampasan hak bukanlah kehendak moral individu maupun moral masyarakat, melainkan bentuk pengkondisian sistemik yang didesain untuk kepentingan segelintir kecil kelas borjuasi.

 

Sistem Ekonomi Islam: Keniscayaan, Bukan Sekadar Alternatif

Kita sudah melihat dan merasakan dampak buruk sistem ekonomi Kapitalisme di belahan bumi manapun. Sudah tidak ada alternative lagi untuk keluar dari jebakan Kapitalisme yang telah merusak tatanan kehidupan masyarakat kecuali kembali ke sistem ekonomi Islam. Mengapa? Sebab sistem ekonomi Islam sudah pernah dipraktikkan dan bahkan sudah terbukti dapat mewujudkan kesejahteraan riil bagi masyarakat untuk jangka waktu yang sangat lama. Lebih dari 1000 tahun.

Sistem ekonomi Islam masih sangat relevan untuk diterapkan saat ini. Apalagi dengan adanya teknologi modern berbasis digital. Apalagi sistem ekonomi Islam ini dibangun dengan landasan akidah Islam; dibimbing, diterapkan dan dicontohkan langsung oleh Rasul saw.; lalu diikuti oleh para khalifah hingga ribuan tahun lamanya. Jadi apa lagi yang meragukan kita untuk menerapkan system ekonomi Islam?

Berikan yang terbaik atau hanya akan jadi penonton perubahan saja? Memberikan yang terbaik bermakna memberikan upaya maksimal dalam menjauhkan diri, keluarga dan lingkungan dari segala bentuk kemaksiatan ekonomi yang dapat memberi kemadaratan bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat. Ia juga berarti bahwa kita harus memberikan waktu khusus dan bukan waktu-waktu sisa dalam upaya untuk melakukan perenungan dan tindakan tentang bagaimana ikut memperjuangkan penerapan sistem ekonomi Islam.

Memperjuangkan penerapan sistem ekonomi Islam dalam diri, masyarakat dan negara sama dengan perjuangan dakwah Islam itu sendiri. Sebab nilai-nilai yang dibawa tidaklah berbeda. Pesan moral yang diperjuangkan pun sama. Bahkan fitnah dan ancaman yang dihadapi tidak kalah dahsyat seperti layaknya para pejuang dakwah Islam.

Kita haruslah sadar bahwa ini bukan pekerjaan satu orang, satu keluarga atau satu generasi. Sejatinya ini adalah pekerjaan inter-generation yang waktunya hanya dibatasi oleh kehendak Allah. Karena itu para pejuang sistem ekonomi Islam harus menegakkan kepalanya. Bukan malah memalingkan wajah, kemudian berkata sinis bahwa sistem ekonomi Islam adalah utopis. Usia perjuangan penerapan sistem ekonomi Islam yang menjunjung tinggi keadilan ini tidak bisa disamakan dengan usia manusia. Ia lebih panjang dari bayangan kita. Allah SWT yang akan memberikan ketetapan-Nya atas usaha kita. Janganlah berharap lekas menuai hasil jika ingin yang terbaik.

Allah SWT dan Rasul-Nya telah memerintahkan kita kaum Muslim untuk melakukan amar makruf nahi mungkar. Kewajiban ini telah disebutkan secara tegas dan jelas, termasuk substansi dan urgensinya (Lihat: QS Ali Imran [3]: 104).

Salah satu keutamaan melaksanakan nahi mungkar adalah selamat dari azab Allah serta memperoleh ridha dan surga-Nya (Lihat: QS al-A’raf [7]: 165).

Bumi harus dijaga agar tidak berubah menjadi sarang kejahatan (Lihat: QS Hud []: 116-117).

Rasulullah saw. pun telah memperingatkan bahaya meninggalkan amar makruf nahi mungkar.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَاً مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Demi Zat Yang jiwaku ada di tangan-Nya. Hendaknya engkau melakukan amar makruf nahi munkar atau—jika tidak, red.—Allah akan mengirim azab-Nya, kemudian engkau berdoa tetapi tidak dikabulkan (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

 

Amar makruf nahi munkar adalah bagian dari kerja dakwah. Oleh karena itu menegakkan ekonomi Islam adalah pekerjaan bagi orang-orang yang merasa terpanggil. Bukan pekerjaan sepintas lalu yang kemudian mudah saja untuk melupakan fondasi tegaknya sistem ekonomi Islam. Yang merasa terpanggil dalam perjuangan menegakkan sistem ekonomi Islam ini hendaknya meneguhkan pendirian. Sebab perjuangan ini tidak menempuh jalan mulus, tetapi penuh onak dan duri yang menuntut kesabaran dan kerelaan berkorban.

WalLâhu ‘alam. [Muis]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

18 + three =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password