Penarikan Pasukan AS Dari Afganistan (Sebab dan Dampaknya)

Penarikan pasukan AS dari Afghanistan bukanlah hasil dari pemerintahan Presiden AS Joe Biden saat ini, melainkan dibicarakan pada era mantan Presiden Barack Obama. Artikel “Fox” menunjukkan bahwa pemerintahan baru Obama telah membahas pada tahun 2009 apakah harus meningkatkan jumlah pasukan di Afghanistan setelah hampir delapan tahun perang yang gagal memadamkan pemberontakan Taliban yang digulingkan. Biden mengatakan dalam salah satu pertemuan bahwa dia tidak bertanggung jawab untuk menambah lebih banyak pasukan di Afghanistan. Dia menambahkan, “Kami hanya memperpanjang kegagalan.”

Pada tahun 2015, banyak politisi AS menulis bahwa Amerika telah kalah perang secara riil sejak bertahun-tahun lalu di Afganistan. Satu-satunya misi yang tersisa adalah: “mencegah keruntuhan Afganistan yang tak terhindarkan untuk sementara” (Al-Quds al-‘Arabi).

Sebelum berbicara tentang dampak penarikan diri itu maka harus dibahas sebab-sebab terpentingnya. Pertama: Penarikan Amerika dari Afghanistan terjadi karena tabiat strategi Amerika yang baru setelah strategi (konservatif) intervensi langsung Amerika dalam perang di negeri-negeri Islam. Terutama karena intervensi ini mengakibatkan kekosongan besar dalam kemampuan Amerika untuk menindaklanjuti dan bergerak maju di bawah beban krisis dan tantangan besar. Yang paling menonjol di antaranya adalah:

  • Krisis doktrin karena entitas meninggalkan mengemban ideologi secara eksternal. Pasalnya, imperialisme telah menjadi tujuan daripada metode; juga karena sistem perundang-undangan dimasukkan dari selain ideologi secara internal.
  • Krisis kepemimpinan dunia dan awal pembicaraan tentang kemunduran kepemimpinan Amerika untuk dunia dan munculnya gagasan multipolar dan multipower.
  • Krisis kesatuan masyarakat di Amerika dan awal dari fragmentasi.
  • Krisis kesatuan keputusan politik serta perbedaan politisi di antara lembaga, partai dan korporasi Amerika.
  • Tantangan kontra terorisme secara global dan bahkan internal (terorisme domestik), seperti yang diakui Biden.
  • Menghadapi kebangkitan besar kekuatan baru sebagai akibat dari ketidakseimbangan dalam pandangan kelanggengan kepemimpinan global; kebutuhan Amerika untuk menciptakan strategi kepemimpinan dari belakang setelah terbebani dengan intervensi langsung melalui penggunaan alat-alat, agen-agen dan negara-negara di garis depan konflik dan perang atas nama Amerika dan demi Amerika; mengembalikan strategi kerjasama, kemitraan dan partisipasi setelah jeda pada zaman Trump; mengaktifkan peran alat dan agen itu setelah ketidakmungkinan teori unilateralisme global; mencoba mengabdikan diri untuk kemungkinan bahaya yang akan datang, yaitu munculnya kekuatan internasional lain, ketidakmungkinan untuk mengendali-kannya jika ditunda, dan membungkamnya seiring dengan penurunan posisi Amerika sebagai akibat dari krisis.

 

Kedua: Biaya perang. Kita ingat apa yang disebutkan dalam berita: Amerika menghabiskan lebih dari 2 triliun dolar AS untuk perang di Afghanistan selama 20 tahun, sejak 11 September 2001 M. Dokumen-dokumen Amerika menunjukkan bahwa anggaran yang dihabiskan di Afghanistan melebihi 300 juta dolar perhari. Angka-angka kunci ini termasuk 800 miliar dolar biaya pertempuran langsung dan $85 miliar untuk melatih tentara Afghanistan.

Perang di Afghanistan membuat Amerika kehilangan banyak nyawa. Jumlah tentara Amerika yang tewas di sana berjumlah sekitar 2.500 tentara dan hampir 4.000 kontraktor sipil Amerika tewas.

Perang di Afghanistan juga telah merenggut nyawa sekitar 69.000 polisi dan militer Afghanistan dan 47.000 warga sipil di samping 51.000 prajurit oposisi. Biaya merawat 20.000 korban Amerika sejauh ini telah mencapai $300 miliar.

Peneliti Brown University memperkirakan bahwa lebih dari $500 miliar bunga telah dibayarkan, termasuk dalam jumlah total $2,26 triliun. Para peneliti juga memperkirakan bahwa pada tahun 2050 biaya bunga saja pada utang perang Afghanistan bisa mencapai $6,5 triliun (Euro News).

Kita simpulkan dengan kesimpulan yang sangat penting: Amerika telah gagal besar dari sisi militer.  Amerika mengetahui bahwa umat Islam adalah umat jihad dan tidak terkalahkan di medannya. Namun saying, umat Islam masih lemah di medan kesadaran politik. Umat Islam mudah ditipu dan disesatkan. Ini adalah sesuatu yang disadari oleh Amerika dan Barat pada umumnya. Karena itu Amerika pindah dari kekalahan militer ke bidang negosiasi yang dia kuasai, setelah Amerika melakukan beberapa hal, termasuk membunuh semua pemimpin yang menolak jalan negosiasi dengan pembunuhan dan likuidasi, dan menonjolkan para pemimpin baru yang percaya pada negosiasi sebagai metode dan dialog sebagai metode.

Hal lain adalah bahwa Taliban mewarisi cacat intelektual dari sekolah Pakistan, yaitu penerimaan terhadap ide negara-negara; bahkan, dikerdilkan dengan ide keemiran (al-imârah). Ide ini berbahaya dan menjadi pukulan bagi aktivitas untuk Islam. Pasalnya, Islam tidak dapat dikumpulkan di suatu tempat dan ditutup. Jika kita menerima asumsi penerapannya yang baik di dalam negeri, lalu bagaimana mengemban Islam dan bekerja untuk itu di luar negeri dihapuskan; seperti hukum jihad dan hubungan internasional, hukum-hukum perang dan perjanjian serta hukum-hukum Dâr al-Islâm dan Dâr a-Harb?!

Tidakkah Taliban belajar ketika Mullah Umar mengakui kesalahan dengan tidak mendeklarasikan Khilafah?!

Tidakkah Taliban belajar dari peran Pakistan dan intelijennya dalam membangun dan menghancurkan untuk kepentingan Amerika! Tidakkah Taliban membaca peran Pakistan dan intelijennya di Kashmir,  hubungan dengan India dan pengkhianatannya kepada para mujahidin Kashmir?! Apakah mereka percaya kepada peran Iran yang menimpakan bencana terhadap mereka di daerah-daerah utara?! Bukankah para pemimpin Iran telah mengakui peran mereka dalam pendudukan Afganistan dan Irak, juga bahwa seandainya tidak ada mereka niscaya Amerika tenggelam di sana? Kemudian kepercayaan apa ini yang diberikan kepada Turki, kekuatan terbesar kedua di Atlantik dan perannya dalam pendudukan, adalah jelas. Demikian juga perannya bersama negara-negara kafir dalam upaya mengokohkan rezim agen dan tawaran berulang-ulang mereka untuk menjaga bandara?! Hubungan macam apa ini dengan Rusia, penjahat yang melakukan hal-hal terhadap Anda dan menegakkan terhadap Anda rezim komunis jahat?!  Kepercayaan apa ini kepada Amerika, ketika Anda berjanji tidak mengganggu keluarnya mereka dan tidak melanggar kepentingan-kepentingan mereka serta mengontrol pergerakan para mujahidin setelah Anda menjadi ikon jihad?! Sungguh Anda telah membuat jalan keluar bagi Amerika dari kekalahan yang dibanggakan oleh Biden dan Anda memberikan konsesi demi konsesi! Sungguh telah tiba waktu untuk kelompok yang mukhlis untuk menindak orang yang berjalan di jalan negosiasi dan di dalam terowongan gelap ini.

Terakhir, milik Allahlah segala perkara sebelum dan sesudah. Allah akan memenangkan Islam ini melalui tangan kelompok para pengemban dakwah Islam sebagai proyek politik, yang melihat kebusukan, kejahatan dan metode Barat serta menyadari metode yang haq dan berpegang teguh dengannya. [Al-Ustadz Hasan Hamdan; (Koran Ar-Râyah, 01-09-2021)]

 

Sumber:

http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/alraiah-newspaper/77453.html

http://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6318-withdrawal-from-afghanistan-its-causes-and-consequences

 

 

0 Comments

Leave a Comment

4 × two =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password