Amerika Memimpin Kemunduran Barat, Umat Islam Harus Memanfaatkan Kesempatan Ini

Banyak yang telah ditulis tentang kemunduran Barat selama bertahun-tahun, tetapi topik tersebut tidak ditanggapi secara serius. Dalam beberapa kasus hal itu telah dibantah oleh para sarjana Barat terkemuka seperti Robert Kagan dalam bukunya “The World America Made, Dunia yang dibuat Amerika”.[1]

Namun, krisis Covid 19 saat ini telah menambah dorongan baru untuk menghangatkan perdebatan ini. Pasalnya, virus Corona telah menginfeksi jantung peradaban Barat, yang memperlihatkan kelemahan struktural yang mendalam—baik dalam masyarakat Barat maupun sistem internasional yang mereka pimpin—dan mengancam pengaruh hegemoni Barat di dunia. Kolumnis terkenal “The Observer”, Simon Tisdall mengajukan pertanyaan berikut tentang krisis Covid -19: “Apakah ini salah satu momen bersejarah di mana dunia berubah secara permanen, ketika keseimbangan kekuatan politik dan ekonomi berubah secara tegas?”[2]

 

Titik Balik Peradaban Barat

Setelah hampir setahun sejak Simon Tisdall mengajukan pertanyaan tentang apakah Covid-19 adalah titik balik bagi hegemoni Barat, majalah “Foreign Policy” mewawancarai beberapa pemikir terkemuka dunia tentang pandangan mereka terkait topik ini. Pendapat pun beragam dalam hal ini. Profesor John Ikenberry dari Universitas Princeton percaya bahwa pandemi ini akan meningkatkan ketidakstabilan Barat dan mempercepat “kerapuhan institusi demokrasi”, serta “kegentingan peradaban era pencerahan”.[3]

Robin Niblett, dari Chatham House, melihat bahwa Barat kehilangan dominasi ekonominya. Menurut Niblett, pertumbuhan ekonomi China “didorong” untuk menjadi “ekonomi terbesar di dunia”, dan dia siap menerima gagasan bahwa “Asia Timur telah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global”.[4]

Kishore Mahbubani dari Institut Riset Asia Universitas Nasional Singapura lebih berterus terang dalam penilaiannya bahwa krisis telah menggeser hegemoni dari Barat ke Timur. Dia berkata bahwa “angka—kematian akibat Covid-19—tidak bohong. Bahkan di belakangnya menyimpan kenyataan yang jauh lebih besar dari sekadar pergeseran hegemoni dari Barat ke Timur. Masyarakat Barat pernah dikenal karena rasa hormat mereka terhadap sains dan rasionalitas. Namun, Donald Trump benar-benar telah melepaskan topeng ilusi itu.”[5]

Stephen Walt, Profesor Hubungan Internasional di Harvard Kennedy School, mengakui bahwa Covid-19 “telah mempercepat pergeseran neraca kekuatan dari Barat ke Timur”, tetapi tidak percaya ini akan mengubah dominasi Barat secara signifikan.[6]

Richard Haass, Presiden Dewan Hubungan Luar Negeri berpendapat yang sama dengan mengatakan “pandemi tidak akan secara fundamental membentuk kembali hubungan internasional”.[7]

Penilaian ini juga diamini oleh Joseph Nye, seorang profesor di Harvard Kennedy School. Menurut dia, globalisasi yang ditempa dan dikelola oleh Barat—khususnya Amerika—akan terus berlanjut, walaupun gayanya akan berubah.[8]

Meski tidak satupun dari para pemikir ini meramalkan runtuhnya peradaban Barat, ada konsensus luas bahwa situasi yang dominan mencerminkan tantangan besar bagi kedaulatan Barat, dan beberapa kekuatan telah bergeser dari Barat ke Timur. Terlepas dari kepentingan institusional pribadi yang memberangus para pemikir untuk mengekspresikan pendapat mereka yang sebenarnya, urusan memprediksi keruntuhan peradaban memang penuh dengan kesulitan. Untuk menguranginya, titik awal terbaik adalah menilai tren mendasar yang mengikis kepercayaan pada dominasi Barat sebelum pandemi. Pendekatan terbaik dalam mengevaluasi kemerosotan Barat adalah dengan memeriksa respon Amerika (negara terkemuka di Barat) terhadap tren-tren ini. Ini akan menentukan apakah Amerika dan Barat benar-benar sedang mengalami kemunduran.

 

Sejarah Runtuhnya Peradaban

Menarik untuk dicatat bahwa beberapa sarjana Barat telah mendalilkan teori-teori inovatif yang membayangkan berakhirnya dominasi Barat melalui kemunduran Amerika. Paul Kennedy berteori bahwa komitmen militer luar negeri Amerika yang didorong oleh defisit pengeluaran merupakan indikasi penurunan Amerika yang akan datang.[9]

Sarjana lain mendasarkan penilaian mereka pada sifat siklus sejarah. Pada tahun 1997, dua sejarahwan amatir, William Strauss dan Neil Howe, dalam buku mereka, The Fourth Turning: An American prophecy (Metamorfosis Keempat: Ramalan Amerika), mengklaim bahwa pada sekitar tahun 2008 AS akan memasuki masa krisis, dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-an.[10]

Menurut Peter Turchin, Antropolog Evolusioner di University of Connecticut, bahwa dunia mengalami siklus sekular setiap dua hingga tiga ratus tahun. Pada fase ini pasokan tenaga kerja melebihi permintaan. Produk menjadi murah. Ketidaksetaraan kekayaan meningkat antara yang orang-orang kaya dan masyarakat umum. Selanjutnya pertikaian terjadi di antara para elit. Penderitaan orang miskin semakin besar. Masyarakat memasuki fase destruktif dan akhirnya runtuh.

Turchin juga berbicara tentang siklus yang jauh lebih pendek, yaitu 50 tahun, namun sama merusaknya. Berdasarkan studinya tentang sejarah AS, Turchin meramalkan pada tahun 2010 bahwa siklus pendek berikutnya jatuh tempo pada tahun 2020. Itu akan bertepatan dengan siklus yang lebih panjang yang menyebabkan kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya.[11]

Miliarder pemilik dana lindung nilai, Ray Dalio, telah mengembangkan teori yang mirip dengan Turchin. Ia  menyebut teorinya dengan siklus utang panjang. Dari sudut pandang Dalio, siklus ini terjadi setiap 50 hingga 75 tahun, dan menunjukkan empat fitur penting: “kemajuan dalam inovasi; elit politik yang sangat terpecah di dalam negeri; sangat sedikit kerjasama antarnegara di luar negeri; dan penantang yang meningkat”.

Siklus hutang panjang terakhir berakhir pada tahun 1945, setelah Depresi Hebat memprovokasi Jerman untuk menantang tatanan dunia Inggris. Meski Inggris yang memenangkan perang, Inggris kehilangan posisi globalnya dan berpindah ke Amerika, yang membentuk tatanan politik dan ekonomi baru berdasarkan perjanjian Bretton Woods. Menurut Dalio, 2020 adalah akhir dari siklus utang panjang, dan akan menghasilkan restrukturisasi radikal ekonomi dunia dengan Cina di puncak.[12, 13]

Beberapa dekade sebelum Turchin dan Dalio, Oswald Spengler pada tahun 1922 dengan berani meramalkan kematian peradaban Barat dan bersikeras bahwa Barat telah memasuki musim terakhirnya, yaitu musim dingin.

Berabad-abad sebelum para pemikir Barat mengadopsi teori untuk menjelaskan kelahiran dan kematian dinasti dan peradaban, Ibnu Khaldun pada abad ke-14 menggambarkan dalam Muqaddimah-nya empat tahap siklus: “at-ta’sîs (pembentukan), an-numuwwu (pertumbuhan), al-inhidâr (penurunan), dan al-hinhiyâr (keruntuhan)” yang menerangi kekuatan di balik kebangkitan dan kejatuhan dinasti dan peradaban. Ibnu Khaldun meramalkan bahwa siklus itu berulang setiap 120 tahun. Sejarahwan Arnold Tonybee sangat terkesan dengan Muqaddimah Ibnu Khaldun. Dia mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa teori Ibnu Khaldun adalah karya terbesar dari yang jenisnya”.[14]

Penjelasan lengkap dan penerapan teori-teori di atas berada di luar cakupan makalah ini. Namun, beberapa parameter seperti disfungsi politik, ketimpangan kekayaan dan munculnya penantang negara petahana akan digunakan secara longgar untuk mengevaluasi kemungkinan bergesernya Amerika dari urusan dunia internasional.

 

Amerika Memimpin Kemunduran Barat

Ada beberapa alasan memilih Amerika daripada Eropa sebagai studi kasus untuk menilai kemunduran Barat.

Pertama: Sejak tahun 1945 AS adalah negara terkemuka di dunia. Setelah runtuhnya Soviet pada tahun 1991, AS menjadi satu-satunya negara adidaya pada periode kontemporer ini. Selama zaman bipolaritas—persaingan Soviet-AS, yang disebut Perang Dingin—Eropa hanyalah pengamat. Selain itu, Eropa sebagai produk detente antara AS dan Uni Soviet, dan tekanan AS, mengingat Eropa lama—Inggris, Prancis, Belgia, dan lainnya—kehilangan kendali langsung atas banyak koloni.

Kedua: Kekuatan dan keamanan ekonomi Eropa telah dibentuk secara eksklusif oleh AS melalui Marshall Plan, penempatan pasukan AS di benua itu, dan pembentukan NATO. Dengan kata lain, kekuatan militer dan ekonomi AS telah menaklukkan perang di benua itu, menghalangi Rusia untuk menjelajah ke Eropa, dan mengubah Eropa menjadi benteng perdamaian dan stabilitas. Tabel berikut menunjukkan perbandingan PDB nominal dan pengeluaran militer di antara kekuatan yang berbeda pada tahun 2019.

 

Jelas sampai hari ini, AS memimpin Eropa di kedua bidang tersebut. Dengan terjadinya Brexit dan meningkatnya persaingan antara Inggris dan UE, maka indikator-indikator ini cenderung memburuk yang menggarisbawahi kelemahan UE.

Ketiga: Tidak adanya kebijakan luar negeri Eropa bersama dan kemampuan untuk memproyeksikan kekuatan militer global. Artinya, Eropa tidak dapat bersaing dengan AS di panggung dunia. Bahkan ketika Eropa secara keseluruhan atau beberapa negara Eropa seperti Inggris dan Prancis telah bertindak sendiri, mereka sepenuhnya bergantung pada kekuatan militer dan dukungan politik AS untuk melindungi kepentingannya. Misalnya, pembebasan Kosovo dari Serbia pada 1999, dan intervensi di Libya pada 2011. Itu tidak mungkin terjadi tanpa dukungan AS.

Keempat: Untuk penyelesaian masalah politik global dunia mengarah ke kepemimpinan AS dan bukan Eropa.

Kelima: Popularitas penyebaran budaya Amerika di seluruh dunia—mengerdilkan apa pun yang ditawarkan Eropa—dan ini telah membentuk selera dan kecenderungan jutaan orang. Oleh karena itu, cukup untuk menggambarkan kelemahan dalam dominasi AS untuk membuat penilaian tentang penurunan dominasi Barat.

Penurunan AS bukanlah hal baru. Orang dengan cermat meneliti kekuatan ekonomi AS dan kekuatan militernya, serta di bidang domestik—seperti politik, pendidikan, perawatan kesehatan, lingkungan, dan sebagainya—juga keunggulan geopolitiknya. Para penganut sistem ini biasanya dikenal sebagai kaum deklinis. Chomsky menegaskan bahwa AS telah mengalami penurunan terus-menerus, sejak 1945.[18]

Lainnya, seperti Thomas Friedman dan Michael Mandelbaum, berpendapat bahwa AS mengalami serangan kelima dari deklinisme. Mereka mengklaim bahwa gelombang pertama menyertai Sputnik Shock tahun 1957. Gelombang kedua terjadi dengan Perang Vietnam. Gelombang ketiga datang dengan kebijakan Presiden Jimmy Carter dan kebangkitan Jepang. Gelombang keempat bertepatan dengan kekuasaan Cina. Gelombang kelima dipicu oleh krisis keuangan global tahun 2008.[19]

Mereka yang menentang tesis kaum deklinis menyarankan bahwa setelah setiap gelombang, AS pulih cukup baik untuk melanjutkan hegemoni globalnya. Namun, mereka mengabaikan efek kumulatif pada kekuatan nasional AS, budaya demokrasinya, kekuatan ekonominya, dan kekuatan militernya.

Makalah ini mengkaji tren mendasar yang telah mengurangi hegemoni Amerika sebelum Covid-19 , apa yang diharapkan di dunia pasca Covid-19, dan mengapa dunia Muslim harus memanfaatkan momen ini.

 

Politik Disfungsional di Dalam Negeri

Perkembangan yang paling dapat dideskripsikan yang membahayakan kemampuan AS untuk memimpin, memproyek-sikan kekuatan dan mempengaruhi tatanan global adalah disfungsi politik di dalam negeri. Belum lama ini, demokrasi AS membuat dunia iri. Kebanyakan orang di seluruh dunia mendambakan sistem pemerintahan Amerika, pemisahan kekuasaan dan supremasi hukum. Namun, semua ini telah menguap sekarang. Polarisasi politik Amerika telah mengungkap-kan perpecahan tak terjembatani antara Demokrat dan Republik, liberal dan konservatif, kulit hitam dan putih, serta kaya dan tidak. Sejak pergantian abad, celah dalam ini terus-menerus memberi makan sistem politik yang rusak yang akhirnya memuncak menjadi serangan terhadap demokrasi Amerika oleh orang Amerika sendiri era Presiden Trump.

Terlepas dari pernyataan Biden tentang politik “Amerika kembali”, tidak ada indikasi bahwa luka bernanah ini akan sembuh dalam waktu dekat. Ini karena dalam pemilihan umum AS baru-baru ini, 74 juta orang memilih Trump—jumlah tertinggi kedua dalam sejarah pemilihan presiden AS—dan Biden yang mendapatkan lebih banyak suara dengan 81 juta suara. Trump mempertahankan peringkat persetujuan 87% di antara pemilih Republik dan 6% di antara Demokrat.[20]

Selain itu, 85% dari Partai Republik percaya bahwa pemilihan itu dicuri dan kepemimpinan Biden tidak sah.[21]

Hampir 50% pemilih menentang Presiden barunya—suatu peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Partai Republik sekarang resmi menjadi Partai Trump. Dia dan para pendukungnya akan membayangi politik Amerika pada masa mendatang. Ini juga berarti bahwa politisi Republik harus semakin mengadopsi retorika dan kebijakan Trump untuk mendapatkan nominasi partai, dan mengumpulkan jumlah pengaruh keuangan yang tepat untuk berhasil. Ini kemungkinan akan membuat lingkungan politik menjadi lebih panas antara Partai Republik dan Demokrat.

Dalam pidato pelantikannya, Biden mengakui bahwa “demokrasi Amerika rapuh” dan mendesak agar politik AS tidak menjadi “api yang mengamuk yang menghancurkan segala sesuatu di jalannya”. Dia menyarankan bahwa “setiap perselisihan” tidak boleh menjadi “penyebab perang massal”.[22]

Faktor lain yang pasti melumpuhkan politik AS adalah proses pemungutan suara Senat. Biden akan merasa sulit untuk membuat agenda reformasi domestic, utamanya dalam melegislasi undang-undang. Pasalnya, pedoman prosedural, sebagian besar undang-undang di Kongres secara efektif membutuhkan 60 suara di Senat. RUU rekonsiliasi harus menginjak serangkaian persyaratan rumit yang dikenal sebagai “Byrd Rule”.[23]

Biden akan merasa sulit untuk melaksanakan reformasi struktural terkait janji pemilihan utamanya tentang kesehatan, pendidikan dan janji-janji lainnya. Lebih buruk lagi, setiap langkah melawan Republik yang disayangi dapat mengakibatkan protes jalanan yang keras atau tantangan di Mahkamah Agung di mana hakim konservatif melebihi jumlah progresif 6 banding 3.

Aspek paling merusak dari politik domestik Amerika adalah bahwa sekutu dan musuh tidak mungkin menandatangani kesepakatan dengan pengetahuan bahwa sosok seperti Trump pada masa depan dapat mengubah kesepakatan apa pun yang dicapai dengan Biden. Ini akan mengekang kemampuan Amerika untuk membujuk negara-negara agar mengikuti jejaknya. Dengan para elit politik yang terus-menerus menempatkan diri mereka di atas ideologi dan kepentingan publik, maka perpecahan politik yang mengakar di Amerika akan menghasilkan krisis yang berkepanjangan seperti yang diperkirakan oleh Dalio. [Adnan Khan. Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 26/05/2021].

[Abdul Majeed Bhatti]

Referensi:

[1]      Kagan, R. (2013). The world America made. New York: Vintage Books, a division of Random House.

[2]      Tisdall, S. (2020). Power, equality, nationalism: how the pandemic will reshape the world. The Guardian. Available at: https://www.theguardian.com/world/2020/mar/28/power-equality-nationalism-how-the-pandemic-will-reshape-the-world.

[3, 4, 5, 6, 7, 8] Foreign Policy, (2021) The World after the Coronavirus: We asked 12 leading thinkers to predict what happens in 2021 and beyond. Foreign Policy. Available at: https://foreignpolicy.com/2021/01/02/2021-coronavirus-predictions-global-thinkers-after-vaccine/

[9]      Kennedy, P. (1988). The Rise and Fall of Empires. New Ed edition, Publisher: William Collins.

[10, 11] New Scientist (2016). End of days: Is Western civilisation on the brink of collapse?. New Scientist. Available at: https://www.newscientist.com/article/mg23731610-300-end-of-days-is-western-civilisation-on-the-brink-of-collapse/

[12] Deal Street Asia (2020). Billionaire investor Ray Dalio says pandemic to usher in new world order with China on top. Deal Street Asia. Available at: https://www.dealstreetasia.com/stories/pandemic-china-ray-dalio-187533/

[13] Wall Street Journal (2018). Why history goes in circles. Wall Street Journal. Available at: https://www.dealstreetasia.com/stories/pandemic-china-ray-dalio-187533/

[14] Rodenbeck, M. (2012). The cycle of history. Economist. Available at: https://www.economist.com/news/2012/11/21/the-cycle-of-history

[15] Amdad, K. (2020). Largest Economies in the World: Why China Is the Largest, Even Though Some Say It’s the U.S. the balance. Available at: https://www.thebalance.com/world-s-largest-economy-3306044

[16] Statista, (2020). The 15 countries with the highest military spending worldwide in 2019. Statista. Available at: https://www.statista.com/statistics/262742/countries-with-the-highest-military-spending/

[17] World Bank (2020). GDP (current US$) – Russian Federation. World Bank. Available at: https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.CD?locations=RU

[18] Chomsky, N. (2011). American Decline: Causes and Consequences, al-Akhbar. Available at: https://chomsky.info/20110824/

[19] Joffe, J. (2011). Declinism’s Fifth Wave, The American Interest. Available at: https://www.the-american-interest.com/2011/12/09/declinisms-fifth-wave/

[20] Gallup, (2020). “Presidential Approval Ratings — Donald Trump” [online] Gallup. Available at: https://news.gallup.com/poll/203198/presidential-approval-ratings-donald-trump.aspx

[21] Eurasia Group, (2021). “Top Risks 2021” [online] Eurasia Group. Available at: https://www.eurasiagroup.net/issues/top-risks-2021].

[22] The White House, (2021). “Inaugural Address by President Joseph R. Biden, Jr.” [online] The White House. https://www.whitehouse.gov/briefing-room/speeches-remarks/2021/01/20/inaugural-address-by-president-joseph-r-biden-jr/

[23] New York Times, (2021). “With New Majority, Here’s What Democrats Can (and Can’t) Do on Health Care” [online] New York Times. Available at: https://www.nytimes.com/2021/01/07/upshot/biden-democrats-heath-plans.html.

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

sixteen − 3 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password