Ummat[an] Wasath[an] Identik dengan Islam Moderat?

Soal:

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ummat[an] wasatha? Benarkan ummat[an] wasath[an] identik dengan Islam moderat, sebagaimana yang dipropagandakan Barat?

 

Jawab:

Istilah ummat[an] wasath[an] ini digunakan dalam al-Quran. Allah SWT berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ وَمَا جَعَلۡنَا ٱلۡقِبۡلَةَ ٱلَّتِي كُنتَ عَلَيۡهَآ إِلَّا لِنَعۡلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِۚ وَإِن كَانَتۡ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٤٣

Demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah Allah beri petunjuk. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia (QS al-Baqarah [2]: 143).

 

Hampir semua mufassir menyatakan bahwa ummat[an] wasath[an bermakna umat yang adil. Demikian sebagaimana yang dinyatakan oleh Abi Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah dari Nabi saw., juga Ibn ‘Abbas.1

Hampir semua mufassir Tabi’in dan Atba’ Tabi’in juga mengatakan konotasi frasa tersebut adalah umat yang adil. Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Said bin Jubair, Mujahid bin Jabar, ‘Atha’, ‘Abdullah bin Katsir, Qatadah bin Di’amah, ar-Rabi’ bin Anas, Muqatil bin Sulaiman.2

Imam ath-Thabari menyatakan:

أما الوسط فإنه في كلام العرب: الخيار، يقال منه: فلان وسط الحسب في قومه: أي متوسطالحسب، إذا أرادوا بذلك الرفع في حسبه، وهو وسط في قومه وواسط… وذلك معنى الديار لأن الخيار من الناس عدولهم

Adapun “al-wasath” dalam ungkapan Arab, mempunyai konotasi pilihan (terbaik). Ada yang mengatakan, “Si Fulan orang yang nasabnya di tengah kaumnya.” Maksudnya, nasabnya di tengah-tengah. Jika mereka menghendaki, dengan ungkapan tadi, tingginya nasab. Dia berada di tengah-tengah kaumnya. Dia adalah wasit (penengah). Itu adalah makna diyar (negeri), karena orang-orang pilihan itu adalah yang adil (pertengahan) di antara mereka.” 3 

 

At-Thabari juga mengutip penjelasan Zuhair bin Abi Salma, mengenai konotasi “al-wasath”. Dia berkata:

هم وسط يرضى الأنام بحكمهم، قال: وأنا أرى أن الوسط في هذا الموضع هو الوسط الذي بمعنى الجزء الذي هو بين الطرفين. وأرى أن الله تعالى ذكره إنما وصفهم بأهم وسط لتوسطهم في الدين فلا هم أهل غلو فيه غلو النصارى الذين غلوا بالترهب وقيلهم في عيسى ما قالوا فيه، ولا هم أهل تقصير فيه تقصير اليهود الذين بدلوا كتاب الله وقتلوا أنبياءهم وكذبوا على ربهم وكفروا به، ولكنهم أهل توسط واعتدال فيه، فوصفهم الله بذلك. إذ كان أحب الأمور إلى الله أوسطها. وأما التأويل فإنه جاء بأن الوسط العدل.

Mereka adalah penengah (pengadil), yang keputusan mereka diterima manusia. Berkata, “Saya berpendapat bahwa “al-wasath” dalam konteks ini adalah pertengahan, yang merupakan bagian di antara dua sisi. Saya berpendapat bahwa Allah SWT menyebutkan “al-wasath” tak lain untuk mendeskripsikan mereka [umat Islam], bahwa mereka adalah “moderat”, karena mereka “moderat dalam beragama, tidak ekstrem seperti kaum Kristen dalam beragama, yang terlalu ekstrem dalam menjadi pendeta, dan menyatakan Isa sebagaimana yang mereka katakan (Isa anak Allah); atau tidak meremehkan, sebagaimana kaum Yahudi meremehkan agama, dengan mengubah kitab Allah, membunuh para nabi mereka, mendustakan Tuhan mereka, dan mengingkari-Nya. Akan tetapi, mereka [umat Islam] adalah umat yang moderat dan tengah-tengah. Allah menyifati mereka dengan sifat tersebut. Karena perkara yang paling dicintai oleh Allah adalah yang tengah-tengah. Adapun takwilnya menyatakan bahwa “al-wasath” itu konotasinya adalah adil.” 4

 

Berdasarkan penjelasan ini, bisa disimpulkan bahwa konotasi “ummat[an] wasath[an]” dalam QS al-Baqarah ayat 143 adalah:

  1. Umat yang adil.
  2. Umat pilihan atau umat terbaik. Ini juga ditegaskan oleh Allah dalam QS Ali ‘Imran ayat 110.
  3. Moderat atau pertengahan.

 

Namun demikian, konotasi moderat atau pertengahan ini konteksnya tidak seperti yang digambarkan oleh Barat, atau orang-orang telah diracuni otaknya oleh Barat, yaitu menganut Islam yang diridhai oleh Barat. Tidak. Moderat yang dimaksud di sini, sebagaimana yang dinyatakan oleh at-Thabari di atas,  adalah moderat dalam beragama; tidak ekstrem seperti kaum Kristen dalam beragama, yang terlalu ekstrem dalam menjadi pendeta, dan menyatakan Isa sebagaimana yang mereka katakan, Isa anak Allah; atau tidak merendahkan agama, sebagaimana kaum Yahudi merendahkan agama, dengan mengubah kitab Allah, membunuh para nabi mereka, mendustakan Tuhan mereka, dan mengingkari-Nya.

Umat Islam adalah umat yang “moderat dan tengah-tengah”, antara ekstremitas Kristen dan penistaan Yahudi. Allah SWT menggambarkan umat Islam dengan sifat “ummat[an] wasath[an]”. Sebabnya, perkara yang paling dicintai oleh Allah adalah yang tengah-tengah. Hanya saja, Nabi saw. sendiri menjelaskan “ummat[an] wasth[an]” adalah umat yang adil.5

Adapun “ummat[an] wasth[an]” dalam konteks “Islam Moderat” itu tidak ada. Tidak ada satu pun mufassir yang menyatakan demikian. Islam itu adalah agama yang adil. Islam adalah agama moderat. Ada di antara ekstremitas Kristen yang menjadikan manusia sebagai tuhan dan sikap asketis karena ingin menjadi manusia suci, dengan membunuh naluri seksual selama-lamanya. Inilah ekstremitas Kristen. Ini ditolak oleh Islam.

Islam pun menolak sikap superioritas ekstrem. Menganggap dirinya hebat. Merendahkan yang lain. Mengklaim dirinya bisa mengubah dan membuat kitab suci. Bahkan bersikap lancang dan kurang ajar sehingga berani membunuh para nabi mereka. Mendustakan dan mengingkari  Tuhan mereka.

Ummat[an] wasth[an]” dengan konotasi “Islam Moderat” jelas tidak ada. Islam adalah agama yang satu. Tidak ada “Islam Ekstrem”, “Islam Radikal”, “Islam Fundamentalis”, “Islam Moderat”, “Islam Liberal” dan lain-lain. Semuanya ini adalah terminologi yang dibuat oleh Barat dalam upaya memecahbelah Islam. Dengan itu ada yang dirangkul dan ada yang dipukul. Ini bagian dari strategi merusak Islam dan menaburkan racun untuk membunuh kaum Muslim.

Allah SWT menegaskan bahwa Islam adalah satu dan umat Islam adalah satu. Allah SWT berfirman:

إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُونِ ٩٢

Sungguh umat kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian. Karena itu sembahlah Aku (QS al-Anbiya’ [21]: 92).

 

Konotasi “ummatukum” di sini ada yang mengartikan “umat”. Artinya, “Umatmu, umat Islam, adalah umat yang satu.” Ada juga yang mengartikan “umat” dengan konotasi agama. Jadi, maknanya, agamamu ini adalah agama yang satu.

Karena itu Islam adalah satu. Umat Islam juga satu. Allah SWT menyebutnya dengan “Umat Terbaik”. Itulah satu-satunya stempel yang harus kita gunakan. Allah berfirman:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia. Kalian memerintahkan yang makruf dan mencegah yang munkar. Kalian pun beriman kepada Allah (QS Ali ‘Imran [3]: 110).

 

Jadi kesimpulannya, Islam adalah agama yang satu. Tidak ada “Islam Ekstrem”, “Islam Radikal”, “Islam Fundamentalis”, “Islam Moderat”, “Islam Liberal” dan lain-lain.

WalLahu a’lam. [KH. Hafidz Abdurrahman]

 

Catatan kaki:

1        Hr. Ahmad, Musnad, Juz XVII/122, 372; at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Juz V/222, Ibn Hibban, Sunan Ibn Hibban, Juz XVI/199, Ibn Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabari, Juz II/627, Ibn Abi Hatim, Tafsir, Juz I/248-249. Lihat, Markaz Dirasat wa al-Ma’lumat al-Qur’aniyyah Ma’had al-Imam as-Syathibi, Tafsir al-Qur’an al-Ma’tsur, Juz III/121.

2        Lihat, Ibn Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabari, Juz II/628, 629, Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil, Juz I/145. Lihat, Markaz Dirasat wa al-Ma’lumat al-Qur’aniyyah Ma’had al-Imam as-Syathibi, Tafsir al-Qur’an al-Ma’tsur, Juz III/121.

3        Lihat, Ibn Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabari, Juz II/627; Markaz Dirasat wa al-Ma’lumat al-Qur’aniyyah Ma’had al-Imam as-Syathibi, Tafsir al-Qur’an al-Ma’tsur, Juz III/122-123.

4        Lihat, Ibn Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabari, Juz II/627-628.

5        Lihat, Ibn Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabari, Juz II/627-628.

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

10 + seven =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password