Salman Iskandar: Peran Umat Islam Itu Nyata

Pengantar Redaksi:

Di negeri ini, peran dan perjuangan umat Islam, baik pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan, sesungguhnya amat nyata. Para pahlawan besar sebagian besarnya adalah dari kalangan Islam.

Pertanyaannya: Apakah bukti historis bahwa umat Islam punya peran sentral dalam perjuangan di negri ini? Siapa saja dari kalangan Islam yang punya andil dalam memperjuangkan sekaligus mempertahankan kemerdekaan di negeri ini? Lalu mengapa saat ini peran besar umat Islam seolah sering dikerdilkan? Mengapa pula umat Islam sekarang malah sering danggap sebagai ancaman?

Itulah di antara sejumlah pertanyaan yang disampaikan oleh Redaksi kepada Sejarahwan Muda, Ustadz Salman Iskandar, dalam rubrik Hiwar kali ini. Berikut ini jawaban dan penjelasan beliau.

 

Ustdaz, betulkah umat Islam Indonesia punya andil besar dalam kemerdekaan dan bela negara di negeri ini?

Betul sekali. Fakta historis telah membuktikan umat Islam negeri ini telah berjuang merebut kemerdekaannya dengan berjihad mengusir bangsa-bangsa kafir penjajah sejak abad ke-16. Bahkan tokoh umat dan organisasi perlawanan yang pertama kali menyuarakan kemerdekaan dan bela negara adalah HOS Tjokroaminoto dan Sjarikat Islam (SI). Mereka menyuarakan zelfbestuur (self government atau kehendak berpemerintahan sendiri) alias merdeka. Juga inde werbaar (pertahanan hindia) atau bela negara saat SI mengadakan kongres nasionalnya di Bandung pada 17-24 Juni 1916.

 

Adakah contoh peran sentral umat Islam dalam hal kepahlawanan yang tidak banyak diketahui oleh orang?

Dalam Kongres Nasional (Natico) SI di Bandung itu, HOS Tjokroaminoto dan Sjarikat Islam juga ikut mengampanyekan Pan Islamisme Khilafah Utsmaniyah dalam memenangkan Perang Dunia I 1914-1918 melawan Inggris dan Prancis, termasuk usaha membebaskan Jawi dan Pamalayu dari kolonialisme Belanda dan Inggris. Natico I SI itu mengajak umat Islam Indonesia untuk ikut berdonasi bagi kemenangan Utsmani. Donasi tersebut diserahkan langsung kepada perwakilan Konsulat Utsmani di Batavia yang ikut hadir dalam kongres tersebut.

 

Lalu bagaimana dengan peran umat Islam dalam peristiwa Perang 10 November 1945?

Tentu saja. Umat Islam akan terpanggil spirit Islamnya untuk berjuang saat mereka diseru untuk berjihad fii sabiilillaah li i’laa’i kalimatillaah (berperang di jalan Allah untuk meninggikan kalimah Allah). Spirit ini mengemuka saat KH Hasyim Asy’ari memfatwakan resolusi jihad PBNU pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini pun kembali dikukuhkan dalam Kongres Nasional Masyumi pada 8 November 1945. Lalu arek-arek Suroboyo segera menyambut seruan jihad ini pada 10 November dalam mempertahankan Kota Surabaya dari aneksasi pasukan BIA (British Indian Army) dan pasukan NICA (Nederland Indisch Civil Administration). Jadi,  peran umat Islam dan para ulamanya telah menjadi sentral perjuangan bangsa ini.

 

Bagaimana pula terkait dengan peristiwa Proklamasi Kemerdekaan, adakah peran sentral umat Islam, terutama para tokohnya?

Ada. Saat Proklamasi Kemerdekaan, tokoh Islam yang hadir adalah Ki Bagus Hadikusumo. Beliau inilah yang sehari berikutnya begitu gigih mempertahankan isi tujuh kata dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang berisikan klausul pelaksanaan syariah Islam.

 

Terkait dengan perdebatan dasar negara dalam BPUPK yang kontroversial, sebenarnya bagaimana posisi umat Islam waktu itu?

Sejak awal pembentukan BPUPK, sejumkah tokoh umat Islam membawa aspirasi Islam. Suara mereka terdengar nyaring dalam perdebatan soal dasar negara. Bahkan pendirian mereka kokoh untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Namun, pada akhirnya mereka harus berkompromi dengan kaum nasionalis sekuler yang membatasi syariah Islam hanya berlaku bagi pemeluk-pemeluknya dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945.

 

Bagaimana dengan peran umat Islam saat ini, sepertinya terpinggirkan. Benarlah demikian?

Benar sekali, hal ini bermula sejak pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta oleh kaum nasionalis sekuler pada 18 Agustus 1945. Berikutnya jabatan kekuasaan pemerintahan dan ketatanegaraan pun dikuasai oleh kaum nasionalis sekuler. Fakta empiris itu masih dapat kita saksikan hingga hari ini. Islam dan tokoh Islam kerap dimarjinalisasi, bahkan dikriminalisasi.

 

Bagaimana sebetulnya makna bela negara dalam Islam dan bentuk-bentuk praktisnya?

Bela negara dalam Islam itu hukumnya fardhu bagi kaum Muslim. Bentuk praktisnya sebagaimana resolusi jihad PBNU dan PB Masyumi tadi, bahwa dalam radius 94 KM dari pusat Kota Surabaya, maka umat Islam yang mampu berperang fardhu ‘ayn ikut berjihad. Adapun di luar radius 94 KM maka hukumnya fardhu kifayah ikut berjihad.

 

Bicara bela negara berarti harus tahu siapa musuh sejatinya. Kira-kira musuh sejati bangsa ini, siapa?

Musuh bangsa Muslim Indonesia dan dunia pada umumnya adalah kekufuran dan kemaksiatan. Apapun yang menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap syariah Allah dan Rasul-Nya itulah musuh nyata bagi kita, kaum Muslim saat ini. Kemaksiatan dan kekufuran merajalela di hadapan kita. Semua itu adalah warisan kaum kolonialis, para penjajah kafir dulu. Nah, apakah bangsa ini masih mau diatur oleh hukum kolonial, sistem hidup warisan penjajah?

 

Bagaimana dengan adanya orang yang menuding bahwa Islam itu musuh negara?

Jika ada yang menyuarakan demikian, berarti dia gagal paham akan Islam, sekaligus mengidap amnesia sejarah. Pasalnya, sesungguhnya Islam dan umatnyalah pemegang aset terbesar bangsa ini. Fakta historis dan empiris telah membuktikan bahwa umat Islam dan ajaran Islamlah yang paling gigih mengusir kaum penjajah. Bahkan dalam realitasnya, Islam adalah rahmat bagi semesta. Islam adalah solusi atas setiap permasalahan hidup manusia.

 

Apakah Ustadz melihat adanya upaya menghilangkan jejak perjuangan umat Islam dalam kemerdekaan?

Memang iya. Bahkan ini sudah dimulai sejak era Daendels pada 1808 dan Raffles pada 1811 dengan nativisasi. Upaya mereduksi peran Islam dan umatnya dalam perjuangan merebut kemerdekaan pun dilakukan oleh kaum nasionalis sekuler pasca Proklamasi. Di antaranya oleh Mr. Moh. Yamin yang mengglorifikasi Imperium Sriwijaya dan Majapahit daripada Kesultanan Demak ataupun Mataram. Demikian pula dengan pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta oleh Bung Hatta tanpa persetujuan tokoh-tokoh Islam yang menandatangani piagam tersebut.

 

Dengan melihat fakta bahwa Kapitalisme semakin limbung, sementara ghirah umat Islam semakin menguat, apakah mungkin masa depan milik umat Islam?

Bi idznillaah. Islam dan umat Islam telah dijanjikan oleh Allah SWT dalam QS an-Nur ayat 55, sekaligus bisyaarah dari Rasul-Nya bahwa kuasa masa depan milik Islam dan kaum Muslim. Tugas dan kewajiban kita saat ini hanya ada dua, memantaskan diri agar layak ditolong oleh Allah SWT dan menyiapkan umat agar kemenangan dari Allah SWT segera tiba.

 

Apa yang harus dilakukan oleh umat Islam saat ini dalam mengisi kepahlawanan dan bela negara?

Pahami Islam dengan baik dan benar.  Kemudian amalkan dalam kehidupan, sekaligus dakwahkan dan perjuangkan. Tentu agar Islam tegak nyata di tengah masyarakat dan menjadi rahmat bagi semesta. Jika umat paham Islam, maka umat telah siap siaga bela negara.

 

Apakah perjuangan menegakkan Khilafah dan syariah Islam termasuk dalam konteks kepahlawanan dan bela negara?

Perjuangan menegakkan Islam dan syariah-Nya adalah kewajiban setiap Muslim. Bahkan mewujudkan Khilafah Islam yang menjamin pelaksanaan Islam kaaffah, oleh para fuqaha telah difatwakan sebagai taajul-furuudh (mahkota kewajiban). Oleh karena itu, saat bangsa Muslim negeri ini masih terbelenggu oleh kezaliman sistem hidup warisan kolonial, maka sebagai wujud bela negara dan bukti kecintaan kita terhadap negeri ini, kita wajib membebaskannya dari belenggu kekufuran tadi, yakni dengan penegakan syariah Islam. []

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

1 + 12 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password