Ramadhan Bulan Perjuangan

Alhamdulillah, tak terasa rasa, kembali kita dipertemukan dengan bulan yang penuh dengan kemuliaan, rahmah, berkah dan maghfirah dari Allah SWT. Itulah bulan Ramadhan.

 

Kemuliaan Bulan Ramadhan

Allah SWT telah menjadikan bulan Ramadhan penuh dengan kemuliaan, keagungan dan banyak keistimewaan di dalamnya.

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu siapa saja di antara kalian yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa. Siapa saja yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib bagi dia berpuasa) sebanyak hari yang dia tinggalkan itu, pada hari-hari yang lain (QS al-Baqarah [2]: 185).

 

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah SWT  memuji bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya. Allah memilih Ramadhan sebagai waktu turunnya al-Quran yang mulia.” (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, 2/179).

Rasulullah saw. juga pernah bersabda:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِينُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ

Sungguh telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang nilai amal padanya lebih baik dari seribu bulan. Karena itu siapa saja yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh dia tidak akan dapat memperoleh kebaikan selama-lamanya (HR an-Nasa’i dan Ahmad).

 

Rasulullah saw. juga bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاً وَاحْتِسَاً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan mencari keridhaan Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Ramadhan Bulan Perjuangan

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan diturunkan oleh Allah SWT pada Sya’ban tahun ke-2 H. Sebulan kemudian, yakni bulan Ramadhan, Rasulullah saw. dan para sahabatnya berpuasa untuk pertama kalinya.

Tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 H terjadi peristiwa besar, yakni Perang Badar al-Kubra. Pada Perang Badar tersebut, Rasulullah saw. berserta para sahabatnya yang berjumlah 315 orang berperang melawan pasukan dari kaum kafir Quraiysi yang jumlahnya lebih dari 3 kali pasukan Rasulullah saw, yakni berjumlah sekitar 1.000-an orang. Perang Badar tersebut dimenangkan oleh kaum Muslim atas pertolongan dari Allah SWT (QS Ali Imran [3]: 133).

Pada tahun ke-5 H, terjadi peristiwa Perang Khandaq atau yang juga dikenal dengan Perang Ahzab. Dalam peperangan ini Rasulullah saw. dan para sahabatnya membangun pertahanan dengan menggali parit (khandaq). Perang ini melibatkan 3.000-an kaum Muslim melawan pasukan gabungan (ahzab) yang terdiri dari Bangsa Quraisy, Yahudi dan suku Ghathafan yang berjumlah 10.000-an orang.

Perang Khandaq ini terjadi pada bulan Syawal. Namun yang menarik, persiapan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya, yakni dengan menggali parit, terjadi pada bulan Ramadhan. Bayangkan, saat itu musim dingin dan makanan kurang hingga membuat kelaparan. Menurut Dr. Syauqi Syaqi Abu Khalil dalam Athlas Hadits Nabawi, parit yang digali kaum Muslim itu terbentang dari utara sampai selatan Madinah. Panjang parit itu mencapai 5.544 meter, lebarnya 4,62 meter dan kedalaman 3,234 meter. Dr. Akram menyebutkan, panjang parit itu mencapai 5.000 hasta. Lebarnya sembilan hasta. Setiap 10 orang mendapat jatah untuk menggali sekitar 40 hasta. Para ulama ahli sirah berbeda pendapat tentang waktu yang dibutuhkan untuk penggalian parit ini, berkisar antara enam sampai dua puluh empat hari.

 

Ramadhan Bulan Kemenangan

Kemenangan umat Islam dalam Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini pula terjadi peristiwa Fath Makkah (Pembebasan Kota Makkah) oleh kaum Muslim, yakni tanggal 20 Ramadhan 8 H.

Setahun kemudian, yakni pada Ramadhan tahun ke-9 H, Rasulullah saw. berserta kaum Muslim terlibat dalam Perang Tabuk. Pada bulan itu pula datang utusan dari Bani Tsaqif di Thaif datang menghadap Rasulullah saw. untuk menyatakan keislaman mereka.

Ramadhan tahun ke-10 H, Rasulullah saw.  mengutus Ali bin Abi Thalib untuk membawa surat dan menyampaikan dakwah ke Yaman, khususnya kepada Bani Hamdan. Dalam satu hari, penduduk Bani Hamdan menyatakan keislaman mereka.

Sesungguhnya sangat banyak daftar kemenangan yang didapatkan oleh kaum Muslim pada bulan Ramadhan tersebut. Misalnya pada Ramadhan 15 H, pasukan kaum Muslim yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqash meraih kemenangan di Perang Qadisiyah. Kemenangan tersebut menjadi pintu pembebasan ibukota Persia al-Madain dan seluruh Persia.

Pada Ramadhan 31 H, kaum Muslim yang dipimpin oleh al-Mutsanna meraih kemenangan di Perang al-Buwaib. Ramadhan 92 H, Thariq bin Ziyad bersama pasukan kaum Muslim berhasil membebaskan Andalusia (Spanyol).

Kita juga tentu ingat peristiwa yang terjadi pada bulan Ramadhan 223 H. Saat itu Khalifah al-Mu’tasim Billah menjawab teriakan seorang Muslimah yang kehormatannya dilecehkan oleh pasukan Romawi dan Amuriyah. Al-Mu’tasim Billah kemudian menyerbu Kota Amuriyah tersebut. Akibatnya, benteng pertahanan terkuat Romawi Bizantium di Asia kecil itu pun jatuh.

Peristiwa yang tak kalah dahsyat adalah saat kaum Muslim yang dipimpin oleh Saifudin Qutuz berhasil mengalahkan pasukan Tartar dalam Perang ’Ayn Jalut. Ini terjadi pada tanggal 25 Ramadhan 658 H.

Pada  bulan Ramadhan pula, atau tepatnya pada Ramadhan 791 H, kaum Muslim berhasil membebaskan Bosnia Herzegovina.

Semua kemenangan kaum Muslim tersebut tentu bukan untuk menjajah penduduknya, tetapi—sesuai dengan visi jihad—untuk  membebaskan manusia. Rib’i bin Amir saat ditanya oleh Jendral Rustum tentang motivasi kaum Muslim berjihad hingga ke Persia, ia menjawab, “Kami datang diutus Allah untuk membebaskan manusia dari kezaliman agama-agama selain Islam menuju keadilan Islam dan mengeluarkan manusia dari kegelapan kekufuran menuju cahaya Islam.”

 

Sikap Rasulullah saw. dan Sahabatnya

Suasana Ramadhan pada masa Rasulullah saw dipenuhi dengan suasana ibadah, perjuangan dan taqarrub kepada Allah SWT. Nabi saw. mendorong kaum Muslim untuk meningkatkan ibadah dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan memperbanyak amal kebajikan. Tidak hanya meningkatkan ibadah yang bersifat ruhiah seperti sholat tarawih, membaca al-Quran, sedekah, zikir, dan lain-lain. Namun, Ramadhan pada masa Nabi saw. juga diisi dengan aktivitas jihad untuk memerangi orang-orang kafir.

Pasca Rasul saw. wafat, tradisi tersebut tetap dibawa. Suasana Ramadhan pada masa Khulafaur Rasyidin tidak berbeda dengan suasana Ramadhan pada masa Rasulullah saw. Yang berbeda hanyalah luas wilayah tempat tinggal kaum Muslim yang semakin luas. Hal ini merupakan buah dari spirit jihad yang dilakukan oleh umat kaum Muslim agar agama Islam bisa tersebar ke penjuru alam. Ini karena Islam adalah rahmat bagi seluruh penjuru dunia. Tidak hanya untuk umat Islam saja (Lihat: QS al-Anbiya’ [29]: 107).

 

Memperjuangkan Islam

Ramadhan sebagai afdhal asy-syuhûr (bulan paling utama), yang di dalamnya terdapat afdhal al-layl (malam yang paling utama), tentu akan lebih sempurna jika diisi dengan afdhal al-qurbât (pendekatan paling utama kepada Allah). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan:

فَالْوَاجِبُ اِتِّخَاذُ اْلإِمَارَةِ دِيْناً وَ قُرْبةً يَتَقَرَّبُ بِهِا إِلَى اللهِ: فَإِنَّ التَّقَرُّبَ إِلَيْهِ فِيْهَا بِطَاعَتِهِ وَ طَاعَةِ رَسُوْلِهِ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرْبَاتِ

Wajib menegakkan kepemimpinan, baik karena alasan menegakkan agama maupun pendekatan diri kepada Allah. Sebab sesungguhnya pendekatan diri kepada Allah dalam hal kepemimpinan ini, yaitu dengan menaati Allah dan Rasul-Nya, adalah pendekatan paling utama kepada Allah (Ibnu Taimiyah, Asy-Siyâsah asy-Syar’iyyah, hlm. 161).

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menegaskan:

يَجِبُ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ وِلاَيةَ أَمْرِ النَّاسِ مِن أَعْظَمِ وَاجِبَاتِ الدِّيْنِ، بَلْ لاَ قِيَامَ لِلدِّيْنِ إِلاَ بِهَا

Wajib diketahui bahwa wilâyah amri an-nâs (Imama/Khilafah) adalah kewajiban agama yang paling agung karena agama tidak akan tegak tanpa Imamah/Khilafah.

 

Imam al-Haitami juga berkata, “Ketahuilah bahwa para Sahabat ridhwânulLâh alayhim telah berijmak bahwa mengangkat imam setelah masa kenabian usai adalah wajib. Mereka  bahkan menjadikan hal itu sebagai kewajiban paling penting. Buktinya, mereka sibuk mengangkat pemimpin (khalifah)_ daripada mengurus pemakaman Rasulullah saw. (Al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 7).

Inilah urgensitas tegaknya kepemimpinan bagi umat Islam, yakni Khilafah. Di dalam Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, Imam al-Ghazali juga telah mengungkapkan pentingnya kekuasaan dan agama:

وَالسُّلْطَانُ تَوْأَمَانِ، اَلدِّيْنُ أُسٌّ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لاَ أُسَّ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لاَ حَارِسَ لَه فَضَائِعٌ

Agama dan kekuasaan itu ibarat saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi niscaya runtuh dan sesuatu yang tanpa penjaga niscaya lenyap.

 

Dengan adanya Khilafah, khalifah akan menerapkan syariah Islam secara kâffah. Dengan penerapan syariah tersebut akan tercipta kemaslahatan bagi seluruh umat manusia, tidak hanya bagi umat Islam semata. Kemaslahatan tersebut yakni terpeliharanya agama, harta, jiwa, akal, keturunan, kehormatan, keamanan dan negara.

Oleh karena itu, jika kita telah tahu bagaimana Rasulullah saw., para sahabat serta generasi berikutnya  bersikap saat Ramadhan tiba, maka begitu pula seharusnya kita, umat Islam, yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saw.

Alhasil, mari kita menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum kita untuk terus bersemangat berjuang dan berdakwah agar kehidupan Islam tegak kembali. Sebuah kehidupan yang diatur dengan syariah Islam secara kâffah. Kita berdakwah untuk mewujudkan tegaknya syariah Islam adalah implementasi dari ketakwaan yang juga ingin kita raih di bulan Ramadhan ini. Sebab ketakwaan sejati adalah ketika terikat dengan syariah Islam. Tegaknya syariah Islam secara kâffah hanya akan terwujud dengan tegaknya Khilafah Rasyidah Islamiyah. Allahu Akbar!

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Adi Victoria; (Penulis & Aktivis Dakwah)]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

nineteen − twelve =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password