Haji dan Persatuan Umat

Keruntuhan Khilafah Islam dan massif-nya serangan sekularisme di Dunia Islam menjadikan ibadah haji hanya sekadar gelaran ibadah ritual-spiritual. Ibadah haji telah kehilangan makna politis dan ideologisnya. Tidak sedikit jamaah yang menunaikan ibadah haji hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Bahkan ada yang menganggap perjalanan ibadah haji sebagai wisata reliji semata. Akibatnya, pelaksanaan ibadah haji nyaris tidak memiliki pengaruh nyata dalam kehidupan pribadi, jamaah, apalagi dalam kehidupan bermasyarakat.

Ibadah haji memang merupakan ibadah mahdhah yang kental dengan nuansa ruhiah dan spiritual. Namun demikian, ibadah haji tidak boleh hanya dimaknai sekadar ritual belaka. Ibadah haji, sebagaimana yang dilakukan pada masa Rasulullah saw., juga diteruskan oleh para khalifah setelahnya, tidak boleh kehilangan makna politis dan ideologisnya. Apa saja nilai-nilai penting yang saat ini hilang dari pelaksanaan ibadah haji?

 

Persatuan Umat

Sejatinya, ibadah haji mengajarkan bahwa umat Islam sesungguhnya adalah satu umat. Mereka berkumpul dari seluruh dunia untuk melakukan ibadah yang sama. Tak peduli batasan negara, bangsa, warna kulit, bahasa, dll. Hanya satu yang mengikat dan menyatukan mereka, yaitu akidah Islam. Fenomena itu sekaligus mengindikasikan bahwa umat Islam sesungguhnya bisa bersatu. Semua itu bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh mereka yang menunaikan ibadah haji maupun oleh mereka yang tidak sedang berhaji.

Pelaksanaan ibadah haji ibarat muktamar umat Islam seluruh dunia. Umat Islam datang dari berbagai pelosok dan penjuru dunia. Walaupun baru kali pertama berjumpa, ukhuwah islamiyah begitu terasa. Bertemu dan bertegur sapa dengan mereka walau sebatas ucapan salam sungguh merupakan kebahagiaan. Tak ada sekat-sekat yang menghalangi. Tak ada dinding yang memisahkan. Mereka tidak mempermasalahkan darimana asal negara kita. Asalkan Muslim, kita adalah saudara mereka dan mereka adalah saudara kita.

Persatuan itu seharusnya tidak hanya terwujud pada saat menunaikan ibadah haji saja. Persatuan umat Islam merupakan keharusan yang wajib diwujudkan kapan pun dan dalam kondisi apapun. Persatuan umat Islam mutlak diwujudkan agar umat Islam menjadi kuat. Tidak mudah dijajah. Juga agar mereka lebih mudah untuk menerapkan syariah Islam secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Untuk itu mutlak dibutuhkan pula ada satu negara, yakni Khilafah, yang menaungi umat Islam di seluruh dunia.

Dari sini seharusnya tumbuh kesadaran dan tekad untuk mewujudkan persatuan umat Islam yang hakiki di bawah satu kepemimpinan seorang imam atau khalifah. Ini sebagaimana yang diamanatkan oleh Rasulullah saw. Sayangnya, nuansa persatuan umat Islam sedunia, setelah jamaah haji kembali ke tanah airnya, tidak lagi kita rasakan. Pasalnya, kaum Muslim terpecah-belah dalam sekat-sekat negara-bangsa.

 

Ukhuwah Islamiyah

Sejak keruntuhan Khilafah Islam, ukhuwah islamiyah sejati tidak lagi bisa kita rasakan. Ada sekat-sekat yang memisahkan lkaum Muslim sedunia. Ada tembok besar yang menghalangi persaudaraan mereka. Sekat yang memisahkan dan tembok yang menghalangi mereka adalah negara-bangsa dan nasionalisme. Akibatnya, ketika umat Islam di Palestina dijajah, dan Masjid al-Aqsha dikuasai zionis Israel, misalnya, tidak ada satu pun penguasa negeri Muslim yang mengerahkan tentara untuk membebaskannya. Ketika negeri Muslim di Irak dan Afganisatan dibantai Amerika dan sekutunya, tidak ada satu pun negeri Muslim yang peduli membela mereka. Ketika umat Islam di Rohingnya diusir dari negerinya, tidak ada satu pun negeri Muslim yang menyelamatkan mereka. Ketika umat Islam Uighur di Xinjiang diisolasi dan diintimidasi pemerintah Cina, tidak ada seorang penguasa Muslim pun yang datang melakukan pembelaan.

Ironi memang. Spirit ukhuwah yang mereka rasakan ketika melakukan ibadah haji tidak lagi mereka temukan ketika mereka kembali negerinya masing-masing. Padahal, Nabi saw. menggambarkan bahwa kaum Mukmin, dalam berkasih sayang, ibarat satu tubuh. Ketika ada anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan panas dan demam. Sayang, gambaran ini saat ini sulit untuk bisa diterapkan dalam kenyataan.

Ibadah haji sejatinya mengajarkan makna ukhuwah yang hakiki, yakni bahwa umat Islam itu bersaudara atas dasar iman. Penghayatan atas persaudaran ini mestinya melahirkan perhatian atas nasib seluruh kaum Muslim, juga keberpihakan dan pembelaan atas mereka. Berbekal kesadaran itu, tentu kaum Muslim, terutama mereka yang telah berhaji, tidak akan diam berpangku tangan saat darah kaum Muslim ditumpahkan begitu saja di negeri mereka sendiri seperti di Palestina, Irak, Afganistan, Suriah, Rohingnya, Uighur dan yang lainnya.

 

Komunikasi Politik Pemimpin

Pada masa Nabi Muhammad saw., saat Haji Wada’, Rasulullah saw. selaku kepala negara, menggunakan momentum ibadah haji untuk menyampaikan pesan politik kepada masyarakat Daulah Islam yang menunaikan ibadah haji. Pada saat itu, misalnya, Rasulullah saw. menyampaikan beberapa pesan penting. Di antaranya tentang kemuliaan darah dan harta benda umat Islam; tentang pentingnya memegang amanah; juga tentang keharusan meninggalkan tradisi jahiliah.

Rasulullah saw. juga mengingatkan jamaah haji tentang keharaman riba, keharusan menjaga amanah seorang perempuan; juga bahwa kaum Muslim itu bersaudara dan satu sama lain haram mengambil hartanya tanpa haq.

Rasulullah saw. juga memberikan nasihat agar tidak murtad, berpegang teguh kepada al-Quran dan as-Sunnah, tetap menyembah Allah SWT, mendirikan shalat fardhu, berpuasa pada Bulan Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji. Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Jadi, momentum ibadah haji, seharusnya dijadikan kesempatan oleh para pemimpin untuk menyampaikan pesan, nasihat, peringatan, kebijakan, program hingga ajakan untuk lebih mentaati Allah dan Rasul-Nya serta mengajak mereka untuk meninggalkan berbagai dosa dan kemaksiatan.

Sayang, saat ini tidak ada lagi pemimpin umat yang menyampaikan pesan menggugah kepada seluruh jamaah haji sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para khalifah setelah beliau. Saat ini, kaum Muslim tidak dipimpin oleh satu orang khalifah, melainkan oleh kepala negara yang jumlahnya banyak. Itulah sebabnya, pelaksanaan ibadah haji saat ini menjadi kehilangan nuansa persatuannya, kehilangan ruh politik Islamnya.

 

Evaluasi Kinerja dan Penyerapan Aspirasi Umat

Salah seorang khalifah yang menjadikan pelaksanaan haji sebagai momentum untuk mengevaluasi kinerja dan mendengar aspirasi umat adalah Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Tradisi ini kemudian diikuti oleh para khalifah setelah beliau. Beliau biasa menggunakan musim haji untuk mengetahui keadaan para gubernur dan rakyatnya. Beliau juga menjadikan musim haji untuk mengoreksi program kerja khalifah dan menerima masukan-masukan dari segala penjuru wilayah. Pada musim haji, semua orang yang memiliki pengaduan dan merasa mendapatkan ketidakadilan berkumpul di Makkah. Para pengawas yang diangkat oleh Khalifah untuk mengawasi para pejabat dan pegawai juga berkumpul di Makkah. Para gubernur juga menyampaikan pertanggungjawaban program kerja mereka kepada Khalifah.

Pernah suatu saat, Khalifah Umar bin al-Khaththab meminta pertanggungjawaban langsung para gubernur di depan rakyatnya. Dia berkata, “Jika ada di antara kalian yang melihat salah seorang di antara gubernur tidak berbuat adil, maka silakanlah berdiri untuk melaporkannya.”

Saat itu tidak ada seorang pun yang berdiri untuk melapor. Seolah menunjukkan bahwa para gubernur berbuat adil dan rakyat juga menerima itu.

Akan tetapi, ada seorang lelaki yang berdiri dan berkata, “Sungguh pegawaimu si fulan pernah memukulku dengan cambuk sebanyak seratus kali.”

Ketika Khalifah Umar bertanya kepada pegawai tersebut, dia tidak dapat memberikan jawaban apa-apa. Kemudian Khalifah Umar menyuruh laki-laki itu untuk membalas. Mendengar perkataan Khalifah Umar ini, Amr bin Ash berkata, “Amirul Mukminin, jika engkau melakukan hal ini, maka jumlahnya akan bertambah banyak dan akan menjadi tradisi yang diikuti oleh para khalifah setelahmu.”

Lalu Khalifah Umar menjawab, “Bukan aku yang menyuruh untuk membalas, tetapi bukankah engkau pernah melihat Rasulullah saw. sendiri  melakukan itu?”

“Baik, kalau seperti itu, kami akan meminta pegawai itu menerimanya,” kata Amr bin al-‘Ash.

“Hendaklah orang selain kamu juga menerimanya”, kata Khalifah Umar.

Kemudian pegawai Khilafah yang memukul rakyatnya tersebut, membayar denda kepada orang yang dipukul sebesar 200 dinar, yakni setiap pukulan didenda 2 dinar. Masya Allah.

Saat ini, dialog Khalifah dengan gubernur dan rakyatnya tentang kinerja dan pengurusan mereka terhadap urusan rakyat dan tentang pengaduan kezaliman para pemimpin, di sela-sela pelaksanaan ibadah haji, tidak bisa kita saksikan. Para pemimpin saat ini hanya sibuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Jamaah haji pun tentu hanya berfokus pada pelaksanaan ritual haji semata.

 

Aspek Perjuangan

Pada era abad ke-19 dan awal abad ke-20, jamaah haji yang kembali ke Tanah Air memiliki pengaruh yang sangat kuat untuk menginspirasi bahkan memimpin jihad melawan para penjajah di Indonesia. Sepulang dari ibadah haji, mereka mendapatkan pencerahan politik dan terbangkitkan spirit jihadnya. Pengaruh ideologis dan politis inilah yang menyebabkan kekhawatiran Belanda. Akibatnya, mereka menstigma para haji ini sebagai orang yang fanatik dan pemberontak.

Jamaah haji yang pulang ke Tanah Air tersebut membawa spirit jihad dan perlawanan terhadap penjajah dari para ulama yang tinggal di Makkah, termasuk para ulama Nusantara yang hingga akhir abad ke-19 banyak bermukim di Makkah.

Berbagai perlawanan terhadap para penjajah dipelopori para haji. Di antaranya perlawanan kaum paderi dan adat melawan penjajah Belanda pada tahun 1833. Di Banten, pada tahun 1888 terjadi perlawanan rakyat terhadap penjajah Belanda yang diinspirasi dan dipimpin oleh Haji Wasid, Haji Abdul Karim, Haji Akib dan Ki Tubagus Ismail. Di daerah Jawa Barat lainnya, yakni di Garut, terjadi perlawanan rakyat terhadap penjajah yang zalim dipimpin oleh Haji Hasan pada tahun 1919.

Perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda juga terjadi di Tambun (Bekasi) dan Tangerang pada 1924. Pemberontakan di Tangerang dipelopori sejumlah tokoh di Desa Pangkalan Tangerang. Tokoh-tokoh itu berpidato di hadapan massa sambil menyerukan perlawanan terhadap Belanda dengan ucapan “Allahu Akbar”.

Perlawanan terhadap kezaliman kolonial yang mayoritas diinspirasi dan dipimpin oleh para haji menjadi bukti bahwa pelaksanaan haji pada masa itu sangat kental dengan nuansa perjuangan bahkan sangat ideologis. Mereka melawan dan mengusir penjajah kafir yang zalim dari negeri kaum Muslim.

Sebaliknya, saat ini, walau Dunia Islam masih terjajah, baik dijajah secara militer maupun politik ekonomi, perlawanan terhadap penjajah tidak pernah kita dengar digaungkan oleh para haji.

 

Khatimah

Kita tentu merindukan pelaksanaan ibadah haji yang bukan sekadar bernuansa ritual dan spiritual, tetapi juga bernuansa ideologis. Kita pun merindukan persatuan dan persaudaraan kaum Muslim yang bukan hanya ada dalam pelaksanaan ibadah haji, melainkan juga setelah mereka kembali ke negerinya masing-masing. Kita juga sangat merindukan setiap kali pelaksanaan ibadah haji hadir seorang khalifah, yang menyampaikan pesan-pesan menggugah untuk rakyatnya, meminta masukan akan kinerjanya serta menyelesaikan berbagai persoalan rakyatnya. Semoga!

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb.  [Luthfi Afandi, SH, MH; (Direktur Pusat Kajian Islam Kaffah)]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

4 × three =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password