Diterimakah Ibadah Ramadhan Kita?

Soal:

Bagaimana cara kita mengetahui bahwa ibadah dan ketaatan kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah? Bagaimana kita mempertahankan semuanya itu selepas Ramadhan?

 

Jawab:

Al-Hafidz Abu al-Faraj ibn al-Jauzi, mengutip pernyataan sebagian ahli hikmah, menjelaskan masalah ini dengan kalimatnya:

وَالْمَعْصِيَّةُ بَعْدَ الْمَعْصِيَّةِ عِقَابُ الْمَعْصِيَّةِ، وَالْحَسَنَةُ بَعْدَ الْحَسَنَةِ ثَوَابُ الْحَسَنَةِ

Kemaksiatan yang dilakukan setelah maksiat adalah azab bagi kemaksiatan itu, sedangkan kebaikan [ketaatan] yang dilakukan setelah kebaikan [ketaatan] sebelumnya adalah pahala bagi kebaikan itu.

 

Penjelasan ini menjadi kaidah untuk menilai, apakah amal kita sebelumnya diterima oleh Allah atau tidak. Jika amal kita diterima oleh Allah, maka amal yang kita lakukan itu akan terus kita pertahankan, kemudian diikuti amal-amal shalih yang lain. Tidak berhenti di saat itu.

Karena itu, haji dan umrah mabrur [diterima], bisa dilihat dari, apakah setelah haji dan umrah dia menjadi lebih baik, tetap saja, atau sebaliknya. Jika tidak menjadi lebih baik, atau tetap saja, berarti ibadah haji dan umrahnya tidak diterima. Sebaliknya, jika setelah haji dan umrah itu, lebih baik, maka itu menjadi indikasi bahwa haji dan umrahnya diterima oleh Allah.

Nah, dalam konteks ibadah dan amal shalih selama Ramadhan ini juga sama. Jika setelah Ramadhan ibadah dan amal shalih kita tidak meningkat, bahkan malah menurun, maka ini menjadi indikasi bahwa ibadah dan amal shalih kita selama Ramadhan itu tidak diterima oleh Allah. Sebaliknya, jika ibadah dan amal shalih kita setelah Ramadhan ini meningkat, bahkan naik, maka ini menjadi indikasi, bahwa ibadah dan amal shalih kita selama Ramadhan ini diterima oleh Allah.

Hanya saja, untuk meneguhkan diri dalam ketaatan setelah musim ibadah membutuhkan kesungguhan. Semuanya bergantung pada himmah [idealisme] kita. Ramadhan memang ibarat musim, atau pasar. Siapa pun yang berdagang di sana bisa mendapatkan keuntungan, dan bisa sebaliknya, mendapatkan kerugian. Meski demikian, Allah SWT menitahkan bahwa ketaatan kita tidak boleh musiman:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ  ٥٦

Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS adz-Dzariyat [51]: 56).

 

Karena visi, misi dan tujuan penciptaan kita adalah untuk beribadah kepada-Nya, jelas ibadah ini harus dilakukan terus-menerus, sepanjang hayat. Ibadah tidak hanya musiman, atau sesaat, tetapi setiap saat. Allah SWT berfirman:

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ  ٩٩

Beribadahlah kepada Tuhanmu hingga kematian menjemputmu (QS al-Hijr [15]: 99).

 

Syaikh as-Sa’adi rahimahulLâh, dalam kitab tafsirnya menjelaskan: “Maksudnya, teruslah mendekatkan diri kepada Allah sepanjang waktu dengan berbagai jenis ibadah. Rasulullah saw. menunaikan titah Rabb-nya. Beliau tetap memayahkan diri dalam beribadah sehingga didatangi ajal dari Rabb-Nya; Shalla-lLâhu ‘alaihi wa Sallama, dengan salam sebanyak-banyaknya.” 1

Khithâb ayat ini ditujukan kepada Nabi saw. Namun, sebagaimana kaidah umum, khithâb untuk Nabi saw. juga menjadi khithab untuk umatnya, kecuali yang dikhususkan untuk beliau.

Nabi saw. telah menjadi contoh dan teladan bagi kita dalam keteguhan dan keistiqamahan dalam beribadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Ini yang disampaikan oleh Ibunda ‘Aisyah, Ummu al-Mukminin:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَمِلَ عَمَلا أَثْبَتَهُ

Rasulullah saw. itu, jika melakukan suatu amal [perbuatan], akan mempertahankannya [istiqamah] (HR Muslim).

 

Itu pula yang dinyatakan oleh Nabi saw. dalam riwayat Abu Dawud dari Sayyidah ‘Aisyah ra.:

أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amal [perbuatan] yang paling disukai oleh Allah adalah yang paling kontinu meski sedikit (HR Abu Dawud).

 

Dalam riwayat lain, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash ra., Nabi saw. bersabda:

يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti Fulan, sebelumnya melakukan qiyamullail, kemudian meninggalkan qiyamullail (HR al-Bukhari).

 

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa istiqamah?

Pertama: Memohon pertolongan kepada Allah agar selalu diberikan keteguhan dan taufik-Nya. Al-‘Allamah Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, menyatakan, “Agama ini porosnya ada dua pangkal: ‘azam [tekad] dan tsabat [keteguhan]. Keduanya ini merupakan dua pangkal yang disebutkan dalam hadis. Pangkal syukur adalah benarnya tekad. Pangkal kesabaran adalah kuatnya keteguhan. Karena itu siapa saja hamba yang dikuatkan dengan tekad dan keteguhan, maka dia telah dikuatkan dengan pertolongan dan taufik-Nya.” 2

Karena itu Nabi saw. mengajarkan doa, yang seharusnya didawamkan di setiap munajat kita:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Zat Yang membolak-baliknya hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap dalam agama-Mu (HR at-Tirmidzi).

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ في اْلأَمْرِ وَأَسْأَلُكَ عَزِيَمَة الرُّشْدِ

Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan [agama] ini, dan hamba memohon kepada-Mu tekad yang kuat dalam kebaikan (HR Ahmad dan lain-lain).

 

Kedua: Menjauhi dosa dan maksiat. Dosa dan maksiat merupakan penghalang [hijab], yang akan menghalangi hati kita dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Lebih mengerikan lagi, ketika dosa dan maksiat itu sudah menjadi kebiasaan, dan merasa tidak ada masalah. Itu artinya, kita sedang diazab oleh Allah, dengan hati yang mati. Demikian sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Hafidz Ibn al-Jauzi di atas.

Al-‘Allamah al-Hafidz Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah juga menyatakan:

فَإِنَّهُ إِذَا وَقَعَ الذَّنْبُ، سَلِبَ حَلاَوَةَ الطَّاعَةِ وَالْقُرْبِ، وَوَقَعَ فِي الْوَحْشَةِ

Ketika perkara dosa itu dilakukan, ia [dosa] akan mencabut nikmatnya ketaatan dan dekat dengan Allah, lalu jatuh dalam kebengisan [hati dan perangai]. 3

 

Ketiga: Menjaga keikhlasan. Menjaga keikhlasan itu dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan hati dari melakukan untuk selain Allah. Ikhlas itu artinya, tidak terbang ketika dipuji, dan tidak tumbang ketika dimaki. Keikhlasan ini merupakan salah satu syarat amal perbuatan dan ketaatan kita diterima. Ini yang paling sulit. Bahkan para Sahabat pun merasa takut amalnya tidak belum cukup, dan tidak diterima oleh Allah. Padahal mereka telah meng-copy paste semua perbuatan Nabi saw., dengan cara mengikuti sunnahnya. Sebabnya, syarat amal diterima ada dua, yaitu ikhlas dan mengikuti sunnah, atau hukum syariah.

Orang yang ikhlas karena Allah akan bisa malakukan amalnya dengan istiqamah. Karena itu, salah satu indikasi keikhlasan dalam beramal, termasuk berdakwah, adalah istiqamah. Orang yang ikhlas juga menjauhi riya’, ujub dan sum’ah. Orang ikhlas melakukan amal semata-mata untuk mencari ridha Allah. Bahkan ini menjadi syarat amal perbuatan kita sepanjang  Ramadhan, agar kita mendapatkan ampunan dari Allah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاً وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَه مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang melakukan puasa  Ramadhan dengan disertai iman serta ikhlas [semata karena Allah] dan berharap pahala-Nya, maka dosanya yang lalu telah diampuni (HR al-Bukhari).

 

Keempat: Tetap istiqamah dalam jamaah dakwah dan komunitas orang-orang shalih. Apalagi ketika jamaah itu benar-benar telah bersumpah menjadi penjaga Islam yang amanah; menjaga kejernihan dan kecemerlangannya. Sebabnya, setiap manusia mempunyai qârin [jin] yang terus-menerus mempengaruhi manusia. Karena itu agama seseorang dipengaruhi oleh agama temannya.

اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنَ يُخَالِطُ

Seseorang itu mengikuti agama temannya. Karena itu hendaknya perhatikanlah salah seorang di antara kalian, siapa yang dia jadikan sebagai teman (HR Ahmad).

 

Kelima: Mempunyai visi, misi dan tujuan hidup yang tinggi, bukan ecek-ecek. Inilah yang oleh para ulama disebut Himmah ‘Aliyah. Dengan visi, misi dan tujuan hidup yang tinggi, kita akan akan mengabaikan masalah ecek-ecek yang menimpa kita, seperti kesulitan rezeki, hidup, makian dan ucapan orang. Kita siap memikul beban yang berat dan terus-menerus memerangi hawa nafsu. Nafsu itu selalu mengajak yang enak, malas, mengikuti syahwat, bakhil, dan melanggar perintah dan larangan Allah (Lihat: QS Yusuf [12]: 53).

Al-‘Allamah Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menuturkan, “Siapa saja yang mengetahui hakikat nafsunya, dan bagaimana ia telah dicetak seperti itu, maka dia tahu, bahwa nafsu itu merupakan sumber segala keburukan, dan tempat bersemayamnya semua perkara buruk.”4

Karena itu peperangan yang terus-menerus adalah perang kita dengan nafsu kita, perang sepanjang hayat. Nafsu adalah musuh, dan bahaya laten, yang harus terus diwaspadai. Simak penuturan Muhammad Ibn al-Munkadir:

كَابَدْتُ نَفْسِيْ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً حَتَّى اِسْتَقَامَتْ

Aku telah membuat nafsuku menderita selama 40 tahun sehingga ia bisa istiqamah5

 

Keenam: Jika suatu saat kita kalah dengan nafsu, sehingga meninggalkan kewajiban, atau kesunnahan, atau melakukan kemaksiatan, maka segera bertobat kepada Allah, dan mengganti kewajiban, atau kesunnahan yang kita tinggalkan. Ada nasihat yang bagus dari ‘Umar bin al-Khatthab ra.:

إِنَّ لِهَذِهِ الْقُلُوْبِ إِقْبَالاً وَإِدْبَارًا، فَإِذَا أَقْبَلَتْ فَخُذُوْهَا بِالنَّوَافِلِ، وَإِنْ أَدْبَرَتْ فَأَلْزِمُوْهَا الْفَرَائِضَ

Sungguh hati-hati ini mempunyai momen untuk menyambut dan meninggalkan [ketaatan]. Jika ia sedang semangat menyambut [ketaatan], ambillah berbagai amalan sunnah. Jika dia meninggalkan [tidak sedang bersemangat menyambut ketaatan], maka tetaplah terikat dengan yang fardhu.6

 

Ini kebiasaan Nabi saw., ketika meninggalkan kebiasaannya dalam melakukan ketaatan, maka beliau akan menggantinya di waktu lain. Ibunda ‘Aisyah ra. menuturkan:

كَانَ نَبِيُّ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَحَبَّ أَنْ يُدَاوِمَ عَلَيْهَا، وَكَانَ إِذَا غَلَبَهُ نَوْمٌ أَوْ وَجْعٌ عَنْ قِيَامِ الَّليْلِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثَنَتَيْ عَشْرَة رَكْعَةً

Nabi saw., ketika mengerjakan suatu shalat, maka beliau ingin mendawamkannya. Jika beliau tertidur, atau tertimpa halangan, sehingga tidak bangun malam, maka beliau  akan shalat di siang harinya dengan 12 rakaat (HR Muslim).

 

Ketujuh: Mengkaji Sirah Nabi, para Sahabat dan orang-orang shalih. Sebabnya, mereka merupakan rule model bagi kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Misalnya, kitab Hayât ash-Shahâbah, karya al-‘Allamah Syaikh Yusuf al-Kandahlawi, atau kitab Shalahu al-Ummah fi ‘Uluwwi al-Himmah, Fursan al-Nahar, atau Ruhbân al-Layl, karya Syaikh Dr. Sayyid Husein al-‘Affani, dan kitab-kitab Raqaiq yang lainnya. Termasuk kitab-kitab Siyar, seperti Siyâr al-A’lam an-Nubalâ’, karya al-Hafidz adz-Dzahabi, dan al-Thabaqât as-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, al-‘Allamah as-Subki.

WalLâhu a’lam. [KH Hafidz Abdurrahman]

 

Catatan kaki:

1        Syaikh as-Sa’adi, Tafsir as-Sa’adi, hal. 435.

2        Al-‘Allamah al-Hafidz Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, ‘Uddatu as-Shabirin wa Dzakhiratu as-Syakirin, hal. 110.

3        Al-‘Allamah al-Hafidz Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Thariqu al-Hajaratain wa Bab as-Sa’adatain, hal. 171.

4        Al-‘Allamah al-Hafidz Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, Juz I/235.

5        Al-‘Allamah al-Hafidz Ibn al-Jauzi, Shiffatu as-Shafwah, Juz I/378.

6        Al-‘Allamah al-Hafidz Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Madarij as-Salikin, Juz III/122.

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

5 × 4 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password